
Riza baru sampai di rukonya. Pria itu mampir sebentar untuk mengecek laporan keuangan setelah menjemput anak bungsunya dari sekolah. "Ayah. Juma lapar." Keluhnya saat baru turun dari mobil. "Tadi nggak bilang." Ucap Riza kembali lagi ke mobil sebentar lalu menghampiri anaknya lagi. "Ini makan roti dulu." Juma mengangguk lalu menerima roti dari Ayahnya. "Perut kamu kecil muat banyak. Makan siang tadi kan sudah makan dari bekal Ibu." Kata Pria itu sambil berjalan.
Sampai di ruangannya Riza langsung memeriksa semua laporan keuangan toko. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu tersenyum mengangkat panggilan dari seseorang. "Waalaikumsalam. Kok belum pulang Mas." Kata seseorang dari sebrang sana. "Kangen ya? Mas mampir dulu ke ruko sebentar Sayang." Jawabnya sambil tersenyum manis. "Oh. Yaudah. Aku kira kenapa. Sudah dulu ya Assalamualaikum." Jihan segera mengakhiri panggilannya membuat Riza menghela napas. "Waalaikumsalam." Jawab pria itu pelan. "Begini amat punya bojo cuek." Lanjutnya menggerutu.
__ADS_1
Juma masih menunggu Ayahnya di bawah. Bocah tampan itu duduk diam di dekat jendela sembari memakan eskrimnya. "Ayo pulang." Ajak Riza. "Eskrim Juma belum habis Yah. Makan eskrim di mobil tidak enak." Jawabnya. Pria itu mengalah dan memilih untuk duduk di kursi kosong sebelah Juma. "Kamu diamnya kalau lagi makan dan tidur ya?" Tanya Riza. "Memangnya Ayah kalau lagi makan dan tidur tidak diam?" Tanya Putranya balik membuat Ia berdecak. "Lanjut makan saja. Ayah mau cepat cepat pulang." Daripada nanti berdebat Ia memilih untuk segera mengakhirinya.
"Ibu...Assalamualaikum." Teriak Juma berlari begitu memasuki rumah dan memeluk Ibunya hingga wanita itu terhuyung. "Waalaikumsalam. Kamu ini. Kaki Ibu masih belum pulih main tubruk saja." Tegur Jaffan yang menopang tubuh ringan Ibunya. "Juma memang benar benar." Riza menjewer telinga anaknya itu lalu mengecup pipi dan kening Jihan dengan lembut. "Jewer sampai putus Yah." Kata Jason yang baru datang langsung membumbui keadaan. "Juma mandi dulu." Jihan memberi perintah langsung dilaksanakan. Terbukti Juma langsung bergegas setelah meminta ciuman dari Ibunya.
__ADS_1
"Ibu." Juma menghampiri Ibunya yang sedang duduk bersama sang Ayah. "Juma nakal ya?" Tanya Jihan sambil menggenggam kedua tangan mungil si putra bungsu. "Juma nggak sengaja Bu." Jawabnya sambil menunduk. "Waktu Juma kasih makan sama Pak Ali Juma lupa tutup kandang." Lanjutnya menjelaskan. "Maaf." Lirih bocah itu. "Tidak papa." Jawab Jihan memberikan pelukan pada putranya. "Kenapa Ibu tidak marahi Juma?" Tanyanya masih dalam posisi yang sama. "Karena Juma kan tidak sengaja. Lagipula Ibu tidak mau marahi anak Ibu supaya anak anak Ibu tidak takut. Ibu akan memberi nasihat atau mengomel jika salah dan Ibu akan diam jika marah. Begitulah Ibu jika mendidik anak." Jawab Jihan. Riza tersnyum melihat istri dan anaknya yang begitu dekat. Meskipun tidak hidup dengan kasih sayang kedua orang tuanya, namun Jihan bisa memposisikan diri dan menjadi Ibu yang luar biasa baik.
"Ayo tidur siang Bu. Juma ngantuk." Ajaknya. "Ayo." Jawab Jihan sambil berdiri dari duduk. "Minta gendong." Ia merentangkan tangannya berdiri di depan sang Ibu. "Kaki Ibu sakit minta gendong. Jangan aneh aneh kamu." Tegur Riza. "Coba minta gendong Ayah." Jihan tersnyum jahil menatap suaminya. "Ogah. Berat. Makannya banyak." Pria itu memalingkan wajahnya. "Juma juga nggak mau." Sahut Juma juga memalingkan wajahnya. "Yang akur begitu lo. Coba anaknya di gendong Mas." Jihan berusaha mendekatkan ayah dan anak itu. "Karena Ibu ini. Kalau nggak ogah." Riza meraih tubuh putranya dan menggendong masuk ke dalam. "Enak di gendong Ibu." Protes Juma. "Enakan juga gendong Ibu bukan kamu." Jawab Riza sambil mendengus sebal.
__ADS_1
Tiga orang sudah berbaring di ranjang dengan posisi Juma berada di tengah menatap langit langit kamar. "Dulu belum ada anak. Ayah bisa tidur peluk Ibu." Kata Riza membuat putranya menoleh. "Kalau punya anak?" Tanya Juma. "Kalau punya anak jarang. Kakak kembar kamu masih tidur terus sama Ibu sampai usianya belasan. Dan sekarang ganti kamu. Kasih Ayah liburan berdua sama Ibu. Kamu di rumah ya..." Tawar Riza. "Kata Tante Mia kalau Ayah liburan berdua sama Ibu nanti pulangnya bawa adek. Juma nggak mau." Jawabnya membuat Riza berdecak. Mulut sahabat istrinya itu seperti racun. "Temen kamu yang begitu tolong di buang Dek." Ucap Riza membuat Jihan membuka mata. "Kalau anak kamu yang begitu mau di buang juga?" Tanya Jihan lalu memeluk Juma agar anaknya itu segera tidur.