Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Masuk ICU


__ADS_3

Riza masih kesal. Bagaimana tidak, dia ngambek istrinya sama sekali tidak membujuk. Jihan bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi. "Nggak peka." Gerutunya sambil membuang handuk dengan sembarangan di ranjang. "Mas kebiasaan. Handuk itu di taro di keranjang cucian. Nanti kasurnya basah dong." Tegur wanita itu sembari memungut handuk bekas suaminya. "Maaf." Jawabnya singkat lalu bergegas pergi.


"Ibu gigi Juma copot." Bocah tampan itu menerobos masuk ke kamar Ibunya dengan mulut berdarah. "Giginya mana?" Tanya Jihan. "Ini." Jawab Juma sembari menunjukkan gigi susunya. "Ayo kumur dulu. biar darahnya hilang." Ajak Jihan sambil menggandeng tangan putranya masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Jihan membantu putranya membersihkan mulut. Wanita itu segera mengelap dengan tissue saat sudah selesai. "Juma jadi jelek ya bu kalau senyum?" Tanyanya. "Enggak. Juma masih ganteng. Ayo." Jihan menggendong putranya yang tidak terlalu berat.


Suara gelak tawa memenuhi ruang keluarga. Mereka sangat terhibur dengan kedatangan Juma. Bocah itu sangat lucu dengan giginya yang berkurang satu. "Ibu." Rengeknya mengadu karena merasa diledek. "Kalian ini. Jangan di tertawakan dong adiknya. Dulu kalian juga mengalami." Ucap Jihan. "Maaf Ma." Jawab Jason sambil mengusap air di sudut matanya. "Jangan manyun begitu." Tegur Jaffan melihat adiknya cemberut sambil duduk dipangku Ibunya. "Ayah dimana?" Tanya Jihan tidak melihat keberadaan suaminya. "Di ruang kerjanya Bu." Jawab Jalwa. "Juma duduk dulu sama Kakak ya. Ibu mau ke ruang kerja Ayah dulu." Juma menggeleng mengeratkan pelukannya pada sang Ibu. "Sebentar saja. Nanti Ibu bawakan eskrim." Bujuk Jihan.

__ADS_1


Riza duduk saat mendengar pintu ruangannya terbuka. "Kenapa tidur disini Mas?" Tanyanya melihat sang suami kembali tiduran lagi di sofa. "Nggak papa." Jawab Riza memunggungi sang istri yang sekarang sudah duduk di sofa yang sama dengannya. "Kenapa sih Mas." Jihan menggoyangkan bahu suaminya. "Suami ngambek nggak peka kamu." Gerutu Riza sambil menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. "Ngambek kenapa?" Jihan meminta penjelasan. Riza membalikkan badan menatap istrinya yang memasang wajah kebingungan. "Nggak peka kamu Dek. Suami ngambek nggak di bujuk atau diapain gitu. Aku ngambek gegara kamu belain Juma terus." Jawab Riza sejelas jelasnya. "Oalah masalah itu. Kirain apa?" Pria itu membelalakkan mata mendengar jawaban sang istri. "Kirain apa?" Tanya Riza mengulangi apa yang dikatakan Jihan. "Terus gimana?" Ia dibuat bingung sendiri dengan tingkah suaminya. "Tau ah." Jawab Riza kesal.


"Ibu..." Juma langsung memeluk Jihan saat wanita itu datang. "Hey...Ayo duduk. Ibu bawa eskrimnya." Ia mengusap kepala putranya lalu menggandeng bocah tampan itu untuk diajak duduk di sofa.

__ADS_1


Riza tertawa saat anaknya tersenyum. "Gigi kamu kemana?" Tanyanya meledek. "Mas." Tegur Jihan. "Ah iya. Sudah copot ya. Bagus. Kalau begitu kan dibuat makan nggak risih." Ucapnya. "Dulu Ayah copot gigi umur berapa?" Tanya Juma. "Umur lima tahun. Ayah ingat betul dulu di copot sama teman Ayah pakai benang. Dia ikat gigi Ayah terus di tarik sampai lepas." Riza bercerita. "Sakit?" Pria itu mengangguk menanggapi putra bungsunya. "Ayah kecilnya dulu nakal atau tidak?" Jason ikut menimbrung sambil membuka mulut minta di suapi eskrim Mamanya. "Enggak. Ayah dulu pendiam sampai jarang punya teman. Teman Ayah bisa dihitung. Hanya beberapa saja. Kita mainnya juga di sawah, di sungai. Bukan seperti anak sekarang yang main ke mall, main gadget, main game ini itu banyak hiburan. Ayah dulu kalau mau nonton TV saja harus jalan jauh sama teman teman Ayah. Yang punya satu kampung cuman satu di rumah pak Lurah. Itu juga masih hitam putih dan acaranya juga itu itu aja. Bukan seperti sekarang banyak chanel yang bisa dipilih sesuka hati." Jelas Riza. "Malangnya masa kecil Ayah yang tidak asik. Untung Juma waktu itu belum lahir." Ucapnya. "Tapi kita anak jaman sekarang juga nggak candu teknologi. Malah jarang ya. Karna sedari kecil audah dibiasakan untuk tidak terlalu bergantung pada gadget." Kata Jalwa karena sedari Ia kecil di didik Jihan untuk lebih mengenal lingkungan sekitar dengan bermain daripada memberikan gadget dan sejenisnya. "Itu karena Ibu kalian ingin anaknya memiliki sosial yang bagus. Anak jaman sekarang kan kalau sudah memperhatikan ponsel atau tabnya acuh sama sekitar." Sahut Kakek.


Jihan memberikan eskrim yang di bawanya untuk di makan sendiri oleh Juma karena Ia menerima panggilan dari seseorang. "Waalaikumsalam. Ya. Saya sendiri." Jawabnya sambil berdiri. "Saya kesana sekarang. Assalamualaikum." Jihan mengakhiri panggilan lalu menatap suaminya dengan wajah cemas. "Kita ke rumah sakit sekarang. Ayah masuk ICU." Ucap wanita itu dalam satu tarikan napas.

__ADS_1


__ADS_2