Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menikah?


__ADS_3

Sore hari di rumah Jihan tengah terjadi keriwehan. "Kamu taronya di mana?" Tanya Wanita itu membantu adiknya mencari kacamata bersama Sang suami. "Lupa kak. Perasaan tadi pulang dari kampus aku....." Mark menghentikan ucapannya mengingat ingat. "Mungkin hilang waktu mampir beli buku tadi. Aku sempat lepas di kamar mandi." Lanjutnya membuat Jihan menghela napas. "Kita beli lagi saja. Percuma cari juga nggak ketemu. Ayo pergi mupung masih sore." Ajak Jihan agar adiknya segera bergegas.


Ketiganya sudah sampai di dokter mata. Jihan dan suaminya hanya menunggu Mark melakukan pemeriksaan mata sesuai dengan prosedur. "Bagus yang mana kak?" Tanya Remaja itu meminta pendapat saat memilih frame kacamata. "Kamu maunya yang mana terserah. Senyaman nya kamu aja." Jawab Jihan. "Yang ini bagus nggak?" Tunjuk Mark. "Bagus. Kamu mau yang itu ambil saja." Jawab Jihan dan adiknya mengangguk.

__ADS_1


Sampai di rumah Jihan langsung duduk di sofa karena lelah. Entah kenapa akhir akhir ini Ia mudah sekali capek. "Nanti kakak mau ke rumah teman. Kamu nggak papa kan di rumah sendiri?" Tanya Jihan. "Nggak papa kak. Aku udah gede." Jawabnya sambil tersenyum. "Kalau kamu nggak mau sendiri. Kakak bisa antar kamu ke rumah Papa." Jihan masih tak rela. "Nggak usah. Aku nggak papa sendiri juga. Nanti kalau ada sesuatu tinggal telpon." Kata Mark meyakinkan.


Riza menghampiri istrinya yang sedang menyisir rambut di depan cermin. Wanita itu tampak cantik dengan kemeja dan celana panjang dengan warna senada. Tampilan yang begitu sederhana namun juga elegan. "Kita kesana di suruh ngapain sih?" Tanya Riza sembari memeluk erat tubuh sang istri dari belakang. "Nggak tau. Dia nggak bilang." Jawabnya pelan. "Sudah. Ayo berangkat. Daritadi sudah di telpon mulu." Lanjut Jihan sembari berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu sudah sampai di depan rumah kontrakan Meta. "Hey. Kalian baru datang." Kata Meta sembari membuka pintu lebar lebar mempersilahkan keduanya masuk. "Assalamualaikum." Ucap Riza memasuki rumah. "Waalaikumsalam." Jawab Meta. "Ini buat Lita." Jihan menyerahkan kotak kue pada temannya. "Kenapa repot repot sih. Kan aku yang mengundang." Katanya tidak enak. "Tau ah." Jawab Jihan tak peduli langsung masuk ke dalam mencari keberadaan gadis kecilnya.


Jihan menatap tajam dua orang yang ada di depannya ketika mereka sedang makan malam. bersama. Keempatnya makan terpisah dari anak anak karena ingin membicarakan hal penting. Mereka makan di meja makan sementara dua anak kecil yang tak lain adalah Lita dan Gita makan di depan TV. "Jadi Om Rudi ini siapa?" Tanya Jihan sambil mengambil minum dan mulai meneguknya. "Calon suamiku. Kami akan menikah." Ucap Meta setelah beberapa kali mengambil napas dan menghembuskan. "Uhuk...uhuk..." Jihan tersedak karena terkejut. "Pelan pelan Dek." Riza mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Menikah?" Ia menatap meta tak percaya. "Iya. Mas Rudi ini Ayah dari Gita. Kita saling kenal waktu jemput anak masing masing dan mereka juga sudah setuju jika kita menikah." Jelas Meta tapi tak cukup jelas untuk Jihan. "Yah tidak apa. Asal kau bertanggung jawab. Jangan sakiti temanku." Ucap Jihan memperingati calon suami Meta. "Iya. Aku akan membahagiakannya." Rudi tampak bersungguh sungguh. "Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanyanya. "Besok." Lirih Meta membuat Jihan menghela napas. "Biasakan kalian itu melakukannya tidak mendadak." Geram wanita itu. "Kami hanya menikah sederhana saja. Ijab sah. Tidak mengundang siapapun. Pak Riza nanti jadi saksi ya." Rudi berkata sambil tersenyum. Jihan melirik suaminya yang tampak mengangguk setuju.

__ADS_1


Mereka makan sambil sesekali mengobrol ringan. "Kamu nggak makan? Bisanya suka nasi Padang." Ucap Meta karena Jihan hanya makan jeruk sedaritadi. "Lagi nggak kepengen. Udah penuh perut." Jawabnya. "Kamus sakit Dek? Nggak enak badan?" Tanya Riza khawatir mulai menempelkan tangannya di kening sang istri. "Enggak. Uh...Kok ngantuk banget. Ini baru jam delapan." Jihan meletakkan kepalanya di atas meja.


Jihan sudah tertidur pulas di sepanjang perjalanan pulang. Begitu sampai di rumah Riza langsung menggendong Istrinya menuju kamar dan meletakkan di ranjang dengan hati hati. Pria itu mengambil piyama sang istri dan menggantinya dengan pelan agar Jihan tidak terbangun. "Selamat tidur Sayang." Ucapnya mengecupi seluruh wajah cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2