Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Maaf Belum Bisa Membahagiakan


__ADS_3

Riza berjalan dengan Mark dan Papa pulang dari mushola. "Ustadz." Panggil pak Samsul ikut berjalan dengan ketiganya. "Nanti sore jangan lupa ya ustadz. Mark sama Papa mertuanya ustadz juga datang ya." Ucap Pria itu mengingatkan ketiganya untuk datang selamatan di acara 1000 hari mertua Pak Samsul. "Insyaallah kami datang." Jawab Papa sambil tersenyum.


Riza menghampiri Jihan yang sedang menyiram tanaman bersama anak anak. "Dek. Pisang yang waktu itu sudah mateng lo." Ucap Riza mengingatkan. "Mau di buat apa? Pisang goreng mau?" Tanya Jihan di jawab anggukan. "Yaudah nanti bikin pisang goreng. Eh sama nagasari juga enak. Aku belanja dulu beli tepung beras sama santan kalau gitu." Kata Jihan sambil meletakkan selang airnya. "Ayo Mas temani." Riza menggandeng tangan istrinya. "Kalian ikut nggak?" Kedua bocah itu mengangguk menanggapi Ibunya. Kemudian segera menyusul pasangan suami istri itu yang sudah duluan.

__ADS_1


Beberapa menit berjalan mereka sudah sampai di minimarket terdekat. Jihan membeli beberapa kebutuhan dapur yang di rasa habis. "Ibu. Mau ini boleh ya.." Kata Jalwa meminta izin sambil menunjukkan bungkusan kacang pada Ibunya. "Boleh. Kakak sama Om Mark sekalian di ambilkan." Gadis kecil itu mengangguk kemudian mengambil lagi tiga bungkus. "Kalian mau apalagi?" Tawar Jihan keduanya menggeleng. "Kayanya sudah semua deh Mas." Riza mengangguk. "Yakin?" Tanya Pria itu memastikan. "Iya. Sudah semua kok." Jawab Jihan.


"Assalamualaikum." Riza memasuki rumah diikuti istri dan anak anaknya. "Waalaikumsalam. Kalian darimana? Dicariin." Ucap Mark. "Dari minimarket. Ada apa memang?" Pemuda itu menggeleng sambil tersenyum. "Nggak ada apa apa. Heran aja tiba tiba sepi." Jawabnya sambil duduk di sofa. "Ambilin daun pisang di belakang." Perintah Jihan. "Buat apa?" Tanya Mark sambil asyik makan kacang yang dibawa dua keponakan. "Udah deh. Yang penting ambilin aja." Wanita itu berlalu pergi diikuti suaminya yang membawa belanjaan.

__ADS_1


Sore hari setelah magrib Jihan bersama anak anak membeli sate di dekat minimarket tadi. "Satenya 40 tusuk Pak." Ucapnya memesan. "Baik Mbak. Tunggu ya." Wanita itu mengangguk sambil tersenyum kemudian mengajak anak anak untuk duduk. "Kalian mau pakai lontong nggak?" Tanyanya. "Iya Ibu. Pakai lontong makin enak." Jawab Jaffan.


Semuanya berkumpul untuk makan bersama. Jihan melepas daging dari tusuk sate agar anak anak tidak kesulitan saat makan. "Pa. Papa besok ada jadwal cek kesehatan rutin lo." Kata Jihan mengingatkan. "Besok aku antar ya Pa." Lanjutnya. "Iya. Besok pagi ya." Jawab pria paruh baya itu dan putrinya mengangguk setuju.

__ADS_1


Riza menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang sembari memainkan ponsel. Pria itu mencium pipi, kening, hidung dan bibir Jihan kemudian memeluk dengan erat sembari menaikkan kakinya untuk menindih kaki sang istri. "Dek. Besok ada acara kondangan di tempat karyawan Mas." Kata Riza. "Iya. Datangnya malam aja." Jawab Jihan mendapat anggukan dari suaminya. "Kamu pengen nggak Dek nikahan kita di buat acara sepeti yang lainnya?" Riza sudah menanyakan ini berulang kali tapi Jihan menolak. Ia ingin sekali mewujudkan pernikahan impian Istrinya. "Nggak usah. Yang penting kan sudah sah. Lagian sudah punya dua anak. Kenapa di bikin acara. Nggak perlu deh." Jihan meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian memiringkan tubuh menghadap suaminya dan memeluk pria itu. "Maaf ya." Kata Riza tiba tiba membuat Jihan membuka matanya. "Maaf kerena nggak bisa kasih materi berlimpah dan kebahagiaan buat kamu. Kamu beli apa apa sendiri sampai sekarang buat rumah impian sendiri karena aku nggak bisa wujudkan." Kata Riza merasa rendah diri. Seharusnya dia yang mencukupi dan mewujudkan semua impian sang istri. "Kamu ngomong apaan sih Mas. Itu mulu yang dibahas tiap hari. Materi bukan segalanya Mas. Cinta dan kebahagiaan yang kamu berikan sudah cukup untuk melengkapi semua." Jawabnya. "Mas nggak enak Dek. Sebagai laki laki...." Ucapnya Riza terhenti kala Jihan tiba tiba mengecup bibirnya. "Tidur." Ucapnya sambil mengeratkan pelukan pada suami.


__ADS_2