Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Doa


__ADS_3

Semuanya sedang cemas menunggu di depan ruang UGD. Riza tak berhenti berdoa berharap istrinya akan baik baik saja. Pria itu masih setia mengenakan kemejanya yang dipenuhi darah sang istri. "Ganti pakaianmu dulu kak. Anak anak tidak nyaman melihatmu seperti ini." Ucap Mark sambil memberikan baju ganti pada iparnya. Riza menatap dua anaknya yang baru tenang duduk bersama Meta kemudian mengangguk.


Berjam jam menunggu. Dokter keluar dengan wajah lelahnya. "Bagaimana dok?" Tanya Riza begitu tak sabaran ingin mendengar kabar tentang keadaan sang istri. "Maaf." Ucap Pria paruh baya itu sambil menghela napas. Riza menggeleng tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. "Tidak. Tidak mungkin. Istriku baik baik saja. Tidak mungkin dia pergi. Dokter pasti bohong. Ini semua salahku. Jika bukan karena aku istriku tidak akan terluka. Dia seperti ini karena menyelamatkan aku." Teriaknya jatuh terduduk di lantai. "Kami sudah berusaha. Kami turut berduka." Lagi lagi semuanya di buat terpaku di tempat masing masing. Pikiran mereka kosong tak percaya apa yang di dengar barusan. "Dokter." Seseorang keluar dari ruangan tempat Jihan berada. "Detak jantung pasien kembali." Ucapnya memberikan semua orang titik terang. "Baik. Saya permisi." Pamitnya kembali ke dalam.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Ucap Riza begitu bersyukur dengan apa yang di dengarnya barusan. Ini sebuah keajaiban. Allah masih memberikan mereka kesempatan untuk hidup bersama di dunia. Membesarkan dan merawat anak anak bersama. Menjadi keluarga yang bahagia. "Makan dulu Za." Papa Jihan menepuk punggung menantunya. Riza menggeleng. "Riza tidak lapar pa. Riza minta maaf. Ini semua gara gara Riza." Jawabnya pelan. Pria paruh baya itu menggeleng pelan. Ia paham dengan situasi menantunya. Semuanya juga merasakan hal yang sama. "Bukan salahmu Nak. Ini semua takdir. Kami sama sama merasakan apa yang kamu rasakan Za. Terlebih lagi Papa. Dia putri Papa. Sedari kecil sudah bersama Papa. Melihatnya menderita sejak dulu membuat luka dalam di hati Papa. Terlebih keadaan yang seperti ini terulang lagi. Papa tidak kuasa." Ucapnya dengan berat menahan air mata untuk tidak jatuh. "Anak anak butuh kamu sementara Ibunya belum sembuh. Pikirkan itu." Ucapnya.


Riza berjalan mendekati putra putrinya. Pria itu memeluk kedua bocah itu sembari meminta maaf. "Ibu baik baik saja kan Ayah?" Tanya Jaffan membuat napas Pria itu tercekat. "Ibu baik baik saja. Hanya perlu waktu untuk sembuh dan berkumpul lagi dengan kita." Ucap Pria itu menenangkan kedua buah hatinya.

__ADS_1


Riza mengamati istrinya yang masih terbaring lemah dari balik kaca dengan berbagai alat bantu untuk menunjang hidup yang menempel pada tubuh Wanita itu. " Benar Dek. Kamu tidak meninggalkan Mas. Allah beri kamu kesempatan untuk menepati janji. Mas mencintai kamu. Cepatlah sembuh dan berkumpul dengan kita. Maaf Mas membuatmu terluka." Ucapnya sambil meneteskan air mata. "Pergilah sholat Kak. Aku akan menunggu disini." Ucap Mark langsung di angguki oleh iparnya.


Di sebuah masjid. Seorang pria tengah menengadahkan tangannya mengucapkan rasa syukur dan memohon. "Terimakasih ya Allah karena engkau telah memberikan harapan bagi kami. Terimakasih telah memberikan kesempatan kedua pada istri hamba. Sembuhkan lah dia. Dia wanita yang baik. Jangan engkau memberinya rasa sakit dan penderitaan yang berlebih. Dia dan kami semua hanya manusia biasa yang tak bisa menahan rasa sakit yang teramat. Jangan uji kami di luar batas kemampuan kami. Ampunilah kami jika lalai dan khilaf. Hati hamba tak bisa menahan rasa sakit ketika melihat wanita yang hamba cintai terluka. Hamba mencintai engkau dan hamba mencintai istri hamba dengan kadar masing masing. Engkau Tuhan hamba. Engkaulah tempat hamba meminta dan memohon. Sembuhkan lah Istri hamba." Ucapnya dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi.

__ADS_1


__ADS_2