
Hari Senin semua orang akan beraktivitas seperti biasanya. Keadaan Jihan sudah baik baik saja. Wanita itu sudah bisa berkegiatan normal seperti biasa setelah dua hari beristirahat total. Semuanya tak berhenti mewanti wanti wanita itu. Kini di rumah juga sudah ada beberapa asisten rumah tangga untuk menyiapkan segala kebutuhan Jihan. Awalnya Wanita itu menolak namun suaminya yang terus memaksa membuat Ia akhirnya menurut juga.
__ADS_1
Semuanya sudah lengkap berkumpul di meja makan. Jihan sedang mengambilkan makan untuk suami dan anak anak karena papa dan Mark sudah mengambil sendiri tak mau merepotkan. "Kamu jangan banyak beraktivitas Dek. Jangan macam macam. Apalagi kamu banyak alergi. Jangan makan atau pegang benda sembarangan. Nanti ada yang berdebu alergi kamu kambuh." Tutur Riza baru kembali dari dapur sambil meletakkan segelas susu hangat di depan istrinya. "Iya. Kok hangat Mas? Nggak dingin ya?" Tanyanya. "Pagi pagi minum yang hangat saja Dek." Kata pria itu segera duduk setelah mengecup kening sang istri. "Papa nanti mau ke perkebunan. Mau di bawakan apa?" Tanya Pria paruh baya itu pada putrinya. Barangkali Jihan menginginkan buah. "Apa aja boleh Pa. Jeruk juga boleh." Jawabnya sambil tersenyum. "Anggur kakek berbuah?" Tanya Jalwa. "Berbuah dong. Banyak. Jalwa mau?" Tanyanya langsung di jawab anggukan semangat. "Kalau Jaffan mau strawberry saja kek. Nanti bawakan ya." Ucap bocah tampan itu. "Iya. Nanti kakek bawakan pesanan kalian." Ucap papa sambil meneruskan makan.
__ADS_1
Jihan mengantar mereka sampai ke depan. "Kami berangkat dulu Ibu. Ayah." Pamit dua bocah itu yang akan berangkat bersama Mark. "Iya. Hati hati sayang." Jihan memberikan kecupan kepada kedua anaknya dan Mark sekalian. "Kakak baik baik di rumah." Pesan Mark sebelum pergi. "Iya. Kamu hati hati." Pemuda itu mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya. "Hm...Kalau gitu papa juga mau berangkat." Ucap Pria paruh baya itu. "Hati hati Pa." Jihan dan suami mencium tangan papa bergantian. Sekarang tinggal Riza yang masih tersisa. Pria itu seperti enggan meninggalkan sang istri. Riza memeluk Jihan begitu lama. "Berangkat sana Mas. Kamu telat nanti. Pisah mau ke kampus aja kaya mau kemana. Nanti pulang juga ketemu." Ucap Jihan menepuk punggung suaminya. Riza tampak menghela napas. "Mas berangkat dulu Dek. Kamu baik baik di rumah ya Sayang. Kalo ada sesuatu atau kepengen sesuatu telpon saja. Nanti kalo Mas telpon atau kirim pesan untuk tanya kabar kamu diangkat. Di balas. Jangan di diamkan saja. Jangan macam macam. Istirahat saja. Jangan banyak jalan atau berkegiatan yang berat berat. Nanti sore kita ke rumah sakit buat cek kandungan. Mas berangkat dulu. Assalamualaikum Cinta." Ucap Riza sepanjang pidato bupati kemudian menciumi wajah istrinya tanpa terlewat. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan. Riza tampak berjalan menuruni tangga. Pria itu sesekali menoleh sebelum sampai ke halaman dan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Siang Hari. Riza pulang bersama anak anaknya. "Assalamualaikum." Ucap ketiganya memasuki rumah. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan langsung menghampiri mereka. "Bersih bersih dulu, lanjut sholat terus makan siang." Tutur Jihan di jawab anggukan oleh si kembar. Dua bocah itu langsung melesat pergi setelah mencium Ibunya. "Mas kangen." Ucap Riza sambil memeluk dan mencium sang istri. "Kamu berangkat jam 7 pulang jam 12 Mas. Aku rasa berlebihan kalau kamu bilang begitu." Riza memegang tidak bohong. Tapi entah kenapa istrinya ini tidak percayaan.
__ADS_1