Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tanggung Jawab Riza


__ADS_3

Jihan mengecek jadwalnya. Hari ini cukup free. Hanya ada satu acara malam nanti sebagai tamu di salah satu acara. "Pagi sampai sore aman. Biasa ajak Papa ke perkebunan." Gumamnya. "Astaga. Bikin kaget aja Mas." Kata Jihan yang membalikkan badan tiba tiba suami sudah ada di depannya. "Maaf Dek. Tolong pakaikan dasi." Ucap Pria itu sambil mengecup bibir istrinya. "Pegangin dulu." Kata Jihan menyerahkan ponselnya pada Riza. "Em...Mas. Nanti malam ada satu acara. Aku datang ga papa ya." Ijin wanita itu. "Boleh aja asal pulangnya nggak malem banget. Mas antar ya." Jawab Riza sambil tersenyum. "Aku sendiri saja. Pulangnya nggak malem kok. Jam 8 pasti sudah pulang." Kata Jihan sembari merapikan kerah kemeja suaminya. "Ayo sarapan." Ajak Jihan menggandeng tangan Riza.


Semuanya sudah berkumpul dan makan sarapan masing masing. "Kita nggak bisa ikut Ibu ke perkebunan dong." Keluh Jalwa karena tidak libur. "Nanti Ibu bawakan kelengkeng." Jawab Wanita itu sambil tersenyum. "Ibu nanti jadi bintang tamu di acara talk show ya?" Tanya Jaffan. "Iya. Malam nanti. Mau dibawakan apa pas Ibu pulang?" Tanya Jihan. "Nggak usah. Yang penting Ibu pulang nggak kemaleman aja sudah cukup." Jawab Jalwa. "Kamu sekarang sibuk ya? Apa nggak capek?" Tanya Papa. "Capek sih biasa pa. Yang penting waktu sama keluarga nggak kurang." Riza menghela napas atas jawaban istrinya. Memang waktu dengan keluarga selalu menjadi prioritas untuk wanita itu. Namun bukan itu yang dikhawatirkan. Kesehatan Jihan lah yang paling utama. "Kesehatan kamu itu lo Dek." Tutur Riza. "Aku nggak papa Mas. Kamu tenang saja." Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Tiga puluh menit perjalanan Jihan, Papa dan Juma sudah sampai di perkebunan. "Pak. Mbak Jihan. Dek Juma." Sambut salah satu pekerja dan mereka tersenyum. "Gimana? Semuanya lancar kan?" Tanya Papa. "Lancar Pak." Jawabnya. " Yasudah. Mau lihat lihat dulu ya. Cucu dan anak saya pengen buah." Pria itu mengangguk menanggapi Papa. "Silahkan." Ucapnya sambil tersenyum ramah. "Terima kasih." Balas Jihan dan putranya.


Juma menggandeng tangan Ibunya sembari membawa keranjang di tangan kiri. "Ibu. Ayah sekarang kan sudah tua ya. Sudah 51 umurnya. Kenapa belum pensiun?" Tanya Juma. "Belum mau. Katanya masih ada tanggungan kalian yang belum lulus sekolah. Ayah pengen ngebiayain kalian pakai uangnya sendiri nggak pakai uang Ibu." Jawab Jihan sambil mengusap kepala anaknya. "Kenapa?" Tanya Juma lagi. "Karena Ibu, kamu dan kakak kamu itu tanggung jawab Ayah. Dia kepala keluarga yang harus menafkahi dan mencukupi kebutuhan kita." Remaja itu tampak mengangguk. "Tapi Mobil, rumah dan lainnya itu kan punya Ibu." Jihan menghela napas pelan. "Ya. Itu semua memang Ibu yang beli. Tapi untuk kebutuhan sekolah dan rumah tangga Ayah yang mencukupi. Kalau misal Ayah kurang nanti Ibu baru turun tangan. Sudah Ayo petik buah yang kamu suka. Nanti kesiangan." Ajak Jihan.

__ADS_1


Pukul 21.30 Jihan baru sampai di rumah. "Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam. Kamu kok baru sampai Dek? Di telpon juga nggak di angkat." Cerocos Riza. "Maaf. Tadi mampir dulu beli makanan. Ini di siapin dulu. Ibu mau ganti baju." Jalwa mengangguk kemudian membawa makanan yang di bawa ibunya. "Lain kali jangan mampir Bu. Kita khawatir." Ucap Jaffan mengecup pipi Ibunya diikuti sang adik.


Selesai mengganti baju. Jihan bersama suaminya menghampiri anak anak dan Papa yang berkumpul di ruang keluarga. "Ibu ayo makan." Ajak Juma berdiri kemudian menggandeng tangan Ibunya untuk diajak duduk. "Makan Bu. Sosisnya enak." Jaffan menyuapi Ibunya. "Mas sama Papa nggak mau?" Tanya Jihan. "Nggak. Kalian aja." Jawab Pria paruh baya itu sembari mengusap kepala putrinya. "Kamu tadi nggak makan nasi Dek?" Jihan menggeleng pelan. "Mas ambilkan ya." Tawarnya. "Nggak usah. Ini nanti sudah kenyang." Jawab Jihan.

__ADS_1


Riza mengahmpiri Istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu ikut menaiki ranjang dan berbaring sambil memeluk Istri tercinta. "Pasti capek ya?" Riza mengusap punggung Jihan dengan lembut. "Nggak juga." Jawabnya. "Mas. Aku pengen kerupuk rujak deh." Ucap Jihan dengan tiba tiba. "Ini sudah jam 10 Dek. Yang jualan juga sudah tutup. Mau di Carikan sekarang ya?" Tanya Riza. "Nggak. Besok saja. Kamu besok libur kan?" Pria itu mengangguk menanggapi sang istri. "Besok kita beli." Kata Riza mengecup bibir istrinya dan mendekap hangat. "Ayo segera tidur Sayang." Ucapnya karena tau Jihan sebenarnya lelah dan butuh istirahat.


__ADS_2