Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Akan Tau


__ADS_3

Yuh...siap siap ya. Akan ada konflik. Ditahan emosinya........Sekali ini saja kalau author ngga khilaf. Tapi tetap tenang dan kalem. Soalnya bakalan tetep walking on the track kok.


Sore hari selesai ashar Jihan dan Suaminya sudah siap akan berangkat pergi ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan dapur. "Mark. Kamu ikut ngga? Kakak nanti pulangnya malam lo." Ucap Jihan menawari adiknya. "Dua menit. Aku pikir dulu." Ucap remaja itu sambil mendudukkan diri di samping kakaknya. "Lama ya kamu. Kalo ikut ayo. Belum mandi juga. Nanti kesorean. Kakak tinggal nih." Kesal Jihan harus menunggu. "Iya. Ikut." Mark bergegas pergi ke kamarnya untuk mandi.

__ADS_1


Jihan menghela napas melihat tingkah sang adik. "Kita nanti beli nasi bebeknya di bungkus aja Mas. Kayanya kemaleman kalau makan disana. Gara gara Mark nih." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. "Jangan cemberut begitu." Ucap Riza sambil menggigit pelan bibir istrinya. "Ih..Sakit tau." Ia memukul lengan suaminya. "Iya. Maaf Sayang. Uluh uluh..." Pria itu mengusap bibir sang istri dengan lembut menggunakan ibu jari. "Mas cinta sama kamu." Ungkapnya sambil menatap istrinya dalam dalam. "Malah romantis romantisan. Nggak tau apa disini ada remaja puber. Ayo berangkat." Mark tiba tiba datang merusak momen romantis yang baru saja diciptakan. Riza menghela napas kemudian segera menyusul istrinya yang sudah melangkah cukup jauh.


Riza mengikuti istri dan iparnya yang sibuk memilih bahan makanan. "Ini apa?" Tanya Jihan menunjukan sesuatu pada suaminya. "Bakso Aci itu Dek." Jawa Riza tak terlalu tau tapi Ia membaca kemasannya. "Mau coba deh." Kata Jihan langsung di tentang Sang suami. "Jangan Dek. Pedas itu." Jihan menatap suaminya penuh kecurigaan. "Nggak percaya. Baca saja kemasannya." Ucap Riza. " Pedas juga tidak apa." Jihan mulai dengan mode ngeyelnya. "Jangan Dek. Yang lain saja. Beli bakso yang biasa saja. Nanti di buat di rumah." Sarannya sambil mengambil dari tangan sang istri dan menaruhnya kembali di rak.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah pukul delapan lebih. Jihan langsung membuka jilbabnya lalu menyiapkan makan. "Eh.." Ucap wanita itu terkejut ketika Riza mengikat rambutnya. "Diikat biar tidak ribet ketika makan." Pria itu tersenyum mengecup kening sang istri pelan kemudian mengajaknya duduk.


Riza makan sembari menyuapi istrinya. Meskipun wanita itu menolak namun Ia tetap memaksa dan Jihan hanya bisa pasrah karena tak ingin berdebat. "Makan pakai tangan Mark. Kalau pakai sendok tidak enak." Pria itu menegur Iparnya. "Seperti ini." Ucapnya sambil menyuapi sang istri dengan tangan kosong. Remaja itu mengangguk kemudian mencobanya. "Pakai sambelnya dong Mas. Dikit aja." Keluh Jihan hanya di suapi daging bebek dengan nasi. "Pedes ini." Riza menolak. "Sedikit saja coba. Masa rasanya asin gurih saja. Percuma dong dikasih sambal tidak di makan." Rengek Jihan akhirnya membuat Suaminya luluh. "Iya iya. Cium dulu." Ucap Riza modus. "Dasar. Bisa bisanya. Aku ambil sendiri kalau begitu." Ucap Jihan. "Eh...Enggak enggak. Peluk saja. Masa suami minta peluk tidak mau." Nah menyebalkan lagi. Kalau begini kesannya kan Jihan istri yang kejam seperti di sinetron itu. Ia menghela napas kemudian memeluk suaminya.

__ADS_1


Tepat tengah malam Jihan melepaskan lengan suaminya perlahan. Wanita itu turun dengan gerakan hati hati dari ranjang agar Suaminya tidak terbangun. Ia melangkahkan kaki menuju balkon kamar dan berdiri di dekat pembatas. "Hm. Iya." Ucap Jihan sambil mendekatkan ponselnya di telinga. "Kapan sampai?" tanyanya kemudian mengangguk setelah mendapat jawaban. "Terimakasih banyak." Ucapnya sambil tersenyum mengakhiri panggilan. "Aku akan tau." Ucapnya pelan sembari menatap langit malam.


__ADS_2