
"Aku berangkat sama anak anak aja Mas." Ucap Jihan yang akan pergi ke cafenya. "Sama Mas saja." Jawab Riza masih makan sambil menyuapi sang istri. "Biar Ibu sama kita saja Yah." Jaffan memberikan dukungan untuk Ibunya. "Sama Ayah." Tegas Riza tak mungkin terbantahkan lagi. "Alah....Mas begitu.." Ia mulai mengeluh. "Memangnya apa bedanya? Berangkat sama Mas atau sama anak anak sama saja. Ujung ujungnya juga sampai disana." Kata Riza sambil menyuapkan potongan roti ke mulut istrinya. "Maka dari itu nggak ada bedanya kenapa Mas larang aku buat barengan sama anak anak?" Tanya Jihan tidak begitu jelas karena masih mengunyah. "Nurut sama suami kenapa sih Dek? Heran deh. Sudah di kasih izin ke cafe minta aneh aneh. Atau nggak jadi berangkat saja." Ancam Riza membuat wanita itu seketika diam.
Jason memeluk Mamanya lama. "Nanti ada pertandingan basket." Kata remaja itu. "Mama nonton." Ucap Jihan membuat suaminya membulatkan Mata. "Apaan sih Dek. Kaki kamu sakit." Riza menentang. "Memangnya aku ikut? Kan aku cuman duduk diam sambil nonton." Jawab Jihan. "Nanti Julian dan Jaffan jemput Mama." Tiga remaja itu mengecup pipi Mamanya dan buru buru pergi setelah berpamitan. "Jalwa berangkat Bu." Pamit gadis itu segera menyusul saudaranya yang sudah duluan. "Hati hati." Pesan Jihan membalas kecupan anak gadisnya.
__ADS_1
Riza mengantar Jihan sampai di ruangan tempat wanita itu akan bertemu dengan teman temannya. "Sudah sampai Mas. Astaga." Keluh Jihan melihat Suaminya masih enggan untuk pergi. "Duduk." Tegas pria itu. "Iya." Jawab Jihan kesal kemudian duduk dengan kasar. "Hati hati bisa kan Dek." Tegurnya. Mia dan Dewi hanya bisa menahan tawa melihat pasangan suami istri itu. "Jangan makan aneh aneh. Mas ke kampus dulu. Kalian tolong jagain ya. Kalau sampai macam macam kasih kasih tau aja. Assalamualaikum." Riza pergi setelah mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Kenapa?" Tanya Jihan kesal melihat dua sahabatnya sedang cengengesan. "Nggak papa Ji. Kasian suami kamu. Mbok yang nurut gitu lo. Masa mau nyamain Juma." Jawab Dewi sambil terkekeh. "Bayangin aja apa apa nggak boleh. Makan ini, mau itu semuanya nggak boleh." Ia mulai berkeluh kesah pada keduanya. "Memang. Harus begitu. Kalau di bolehin kan kamu ngelunjak." Jawab Mia. "Sebenarnya kamu ini teman siapa sih? Kenapa memihak suami aku?" Tanya Jihan. "Kita tetap teman kamu. Tapi kalau soal begini kita lebih berpihak pada yang benar." Jihan berdecak mendengar jawaban sahabatnya.
__ADS_1
Seorang pelayan masih menunggu Jihan yang memperhatikan buku menu. "Mau spaghetti Mbak." Ucapnya setelah memilih. "Ustadz tadi bilang tidak boleh Mbak." Jawabnya. "Nasi goreng kalau begitu." Ia beralih ke menu yang lain. "Tidak boleh Mbak. Kata ustadz Mbak Jihan tidak boleh makan yang kasar kasar." Jawabnya membuat Dewi dan Mia tertawa. "Yang boleh apa dong?" Tanya Jihan sambil mengeluh. "Bubur ayam, bubur sumsum dan bubur....." Jihan mengangkat tangannya memberi kode untuk berhenti menyebutkan. "Eskrim sama pusing susu." Putusnya sambil menghela napas.
Riza baru datang langsung memberikan ciuman pada istrinya yang sedang menunggu di depan cafe. "Kita pulang duluan. Anak anak masih makan di dalam sama teman temannya untuk rayain kemenangan mereka. Nanti Juma ngomel kelamaan nunggu." Kata Jihan. "Ayo. Jalannya pelan pelan." Jawabnya sambil membantu Istrinya berjalan.
__ADS_1
Sore hari setelah mandi semuanya berkumpul di ruang keluarga. Jihan sibuk menikmati jagung rebusnya sambil mendengar anak anaknya yang bergantian bercerita. "Lihat Bu. Gigi Juma goyang." Ucapnya sembari menunjukkan gigi depan. "Wah gigi susu kamu baru mau lepas. Kakak dulu waktu TK sudah lepas." Kata Julian. "Di lepas saja sekalian. Mau pakai tang atau benang?" Tawar Riza membuat putranya menutup mulut lalu memeluk Ibunya. "Mas. Jangan nakut nakutin anaknya kenapa sih." Tegur Jihan. "Nanti juga lepas sendiri giginya." Lanjut wanita itu menenangkan putranya. "Iya lepas sendiri waktu kamu tidur terus ketelan. Tumbuh si usus." Sahut Jaffan. "Kamu ini sama kaya Ayah." Jihan menghela napas melihat Riza dan Jaffan yang selalu menggoda si Bungsu.
"Papa lagi baca apa serius banget?" Tanya Jihan melihat pria paruh baya itu sedaritadi fokus dengan tabnya. "Lihat. Saham perusahaan Ayah kamu anjlok drastis. Dari berita ini disebut kalau Jaffan tidak bisa menghandle dengan baik. Banyak kerjasama yang di batalkan karena belum apa apa mereka sudah dibuat rugi." Ucap Papa sembari menunjukkan berita yang Ia baca. "Bagaimana bisa seperti ini. Hutang perusahaan juga banyak banget. Bisa terancam bangkrut." Gumam Jihan. Riza yang tak tau menahu masalah bisnis hanya bisa diam menyimak. "Opa bangkrut Bu?" Tanya Jalwa. Wanita itu menggeleng menanggapi putrinya. "Semoga saja tidak." Jawab Jihan.
__ADS_1