Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Manisnya Istriku


__ADS_3

Yuhu....


Yang minta manis manis tak kasih ya..Meskipun tidak terlalu manis tapi boleh lah....


Jihan heran karena Riza tidur lagi setelah pulang sholat subuh dari mushola. "Kenapa Mas?" Tanya Wanita itu menghampiri suaminya yang sedang berbaring di ranjang. "Agak nggak enak badan Dek." Jawabnya. "Badan kamu panas." Kata Jihan setelah menempelkan tangannya pada kening sang suami. "Sebentar aku ambilkan obat sama sekalian bikin sarapan." Ia mengecup kening Riza sekilas kemudian segera bergegas pergi ke dapur.

__ADS_1


"Astaga." Ucap Jihan terkejut saat menutup kulkas Mark tiba tiba ada di dekatnya. "Istrinya ustad kaget bukannya bilang astagfirullah malah astaga." Sindirnya membuat sang kakak mendengus. "Ada apa? Tumben ke dapur pagi pagi. Biasanya habis subuh tidur lagi." Mark hanya nyengir kemudian mulai membantu kakaknya mencuci sayuran. "Kenapa sih?" Tanya Jihan melihat tingkah aneh sang adik. "Kemarin kakak kan belanjakan aku jadi hari ini mau bantu kakak." Jawabnya sambil tersenyum. Jihan acuh saja memilih untuk meneruskan kegiatannya. "Kak Riza mana? Tumben nggak nempel sama kakak." Mark celingukan mencari iparnya. " Tidur lagi. Badannya panas." Remaja itu mengangguk kemudian mulai memotong wortel yang sudah di cucinya. "Mau di buat Sop. Potongnya jangan serong begitu, yang biasa saja." Tegur Jihan dan Mark mengangguk.


"Makan dulu Mas. Habis itu minum obat biar cepat turun panasnya." Kata Jihan dengan lembut sambil mengusap kepala suaminya. Riza mengangguk kemudian duduk bersandar di headboard ranjang. Pria itu mengecup kening istrinya. Ia tersenyum memperhatikan Jihan yang dengan telaten meniup makanan sampai dingin sebelum menyuapkan padanya. "Kamu sudah sarapan Dek?" Tanyanya hanya di jawab gelengan oleh sang istri. "Sarapan juga. Nanti kamu sakit." Ucapnya khawatir. "Iya. Nanti setelah ini sekalian sama anak anak." Jawab Jihan sambil terus menyuapi Riza. Setelah Suaminya menghabiskan sarapan dengan telaten Ia membantu Pria itu untuk minum obat. "Mau minum lagi?" Tanya Jihan namun suaminya menggeleng pelan. "Kamu istirahat saja. Nanti aku kembali setelah mandikan anak anak." Ucapnya membenarkan selimut Riza kemudian mengecup kening dan pipi pria itu. "Manisnya Istriku." Riza tersenyum memperhatikan istrinya yang melangkah pergi. Dia rela deh harus demam setiap hari asalkan si perlakukan seperti ini oleh istrinya.


Mark menghampiri kakaknya yang sibuk makan sambil menyuapi si kembar. "Kak Riza masih panas badannya?" Tanyanya ikut duduk bergabung. "Belum tau. Tadi tidur habis minum obat." Jawab Jihan. "Mau kemana kamu udah rapi aja?"Lanjutnya bertanya. "Mau ke rumah teman sebentar kak. Aku berangkat dulu ya." Pamit Mark sambil mencium tangan kakaknya. "Hmm iya. Hati hati di jalan" Remaja itu mengangguk kemudian segera pergi setelah mengecup kening kakak dan dua ponakannya.

__ADS_1


Jihan kembali ke kamar membawa serta dua anaknya. Wanita itu duduk di karpet sambil bercengkrama dengan anak anak agak jauh agar istirahat suaminya tidak terganggu dengan celotehan Jaffan dan Jalwa. "Ibu. Mau jeruk." Jihan mengangguk kemudian mengupasnya dan memberikan pada Jalwa. "Jaffan nggak mau ya?" Tanyanya di jawab gelengan oleh bocah tampan itu. "Mau strawberry." Jihan tersenyum. "Kamu suka strawberry semenjak ke rumah kakek ya...." Jihan memberikan sekotak Strawberry pada putranya agar dimakan sendiri.


Jaffan dan Jalwa sudah tertidur pulas di karpet dekat pintu balkon yang terbuka setelah keduanya makan siang. "Mereka cepat sekali tidurnya." Riza menghampiri dan memeluk Sang istri. Pria itu tampak masih menggunakan sarung selesai Sholah dhuhur berjamaah dari mushola. Tadi Jihan sudah bilang pada suaminya untuk sholat di rumah saja. Namun karena Riza sebagai Imam pria itu tak enak hati harus lepas tanggung jawab begitu saja. "Iya. Tadi habis makan langsung tidur." Jawabnya.


Jihan menemani suaminya istirahat setelah makan dan minum obat. Pria itu tiduran di pangkuan sang istri yang sibuk mengupas apel. "Makan dulu sudah aku kupas." Ucap Jihan. "A..." Riza membuka mulutnya. "Duduk. Makan sambil tiduran nggak baik pak ustadz." Ucapnya sambil mengecup kening suaminya membuat pria itu seakan melayang kemudian segera duduk dan mencium bibir istrinya dengan rakus. Tangan Riza bergerak mulai menahan tengkuk sang istri lalu ciuman turun semakin ke bawah dan....."Tok tok...tok..." Suara ketukan pintu membuat dua insan itu melepaskan pangutannya. "Kak aku masuk." Kata Mark masuk ke dalam kamar menghampiri pasangan suami-istri itu. "Itu sudah masuk Mark." Jawab Riza menahan kesalnya karena gangguan datang. "Hehe iya." Remaja itu langsung tiduran di ranjang. "Kakak sudah sembuh?" Tanyanya dan Riza mengangguk sambil makan apel yang di suapkan sang istri. Kekesalan dengan Mark seketika hilang karena perhatian adik iparnya itu. Riza menyayangi Mark seperti adiknya sendiri. Maklum dulu Ia ingin sekali punya adik laki laki tapi tidak kesampaian dan sekarang mungkin Mark lah yang di takdirkan Allah untuk menjadi adiknya. Ya meskipun tidak ada ikatan darah namun hubungan keduanya bagai saudara kandung. "Kamu sudah makan?" Tanya Jihan dan Mark menggeleng. "Kakak sudah siapkan di meja makan." Remaja itu mengangguk. "Sudah sholat?" Kini Riza yang bertanya. "Sudah tadi mampir di masjid." Jawabnya. "Mau dong." Mark duduk lalu membuka mulutnya untuk di suapi oleh sang kakak. "Leher kakak kenapa merah begitu?" Tanya Mark membuat Riza membulatkan mata. "Gatal." Jawab Jihan dengan wajah datarnya.

__ADS_1


__ADS_2