
Jihan selesai menyiapkan sarapan. Wanita itu kini sedang sibuk dengan coffe makernya. Membuat cappucino untuk menemani sarapan dengan roti bakar selai kacang. "Dek." Panggil Riza menghampiri istrinya. Pria itu memeluk dan mengecup pipi sang istri. Jihan membalikkan badan. Ia kemudian meraih dasi itu dari tangan Riza dan mulai memakaikan.
"Hari ini kamu ada kegiatan apa?" Tanyanya. "Apa ya? Pagi ini kayanya ada meeting di perusahaan Peter dengan perusahaan lainnya. Siangnya nanti ada ketemu sama Carissa di kantor." Jawab Jihan. "Nggak bisa ya kalau nggak ketemu mantan kamu itu." Keluh Riza sembari mengusap pipi mulus sang istri. "Mana boleh begitu Mas. Ini cuman kerjaan. Bisnis properti dan real estate kita saling bekerjasama. Jangan berpikir yang macam macam. Aku nggak akan berpaling dari kamu." Kata Jihan membuat hati Riza menghangat dan cemas dalam satu waktu. "Kenapa kamu makin banyak kerjaan Dek. Harusnya istirahat saja di rumah." Ucap Riza karena istrinya itu kini makin memperbesar bisnisnya hingga menjadi perusahaan yang besar. Ibu tiga anak dengan gelar CEO itu merasa tak cukup dengan pencapaian yang luar biasa. "Bukannya mau banyak kerjaan Mas. Anak kita tiga. Aku dan kamu sebagai orang tua tentunya ingin bersikap adil bukan? Kita tidak ingin anak kita ada yang merasa di bedakan. Aku kerja dan kamu kerja supaya mereka sudah punya masa depan di masa mendatang. Tidak seperti kita dulu yang harus berjuang. Biar mereka merintis saja yang sudah ada. Aku harap kamu paham Mas." Ucap Jihan mengecup pipi suaminya itu kemudian berlalu pergi.
Sosok wanita berjalan menghampiri mereka yang sudah siap di meja makan. Ia tampak menawan dengan dress formal dan tas jinjing dengan warna senada. "Ibu mau ke kantor?" Tanya Juma sudah tampan dengan seragam nya. "Iya. Hari ini Ibu ada meeting. Pulang jam 3 mungkin." Jawabnya sambil duduk kemudian menyesap cappucino yang masih hangat. "Ibu. Hari ini kan Juma ada tanding basket jam 12. Ibu tidak bisa nonton?" Tanya remaja itu sambil menundukkan kepala. "Hari ini? Kenapa tidak bilang?" Jihan menghela napasnya pelan. "Kakak kan nonton. Ibu kalau ada keperluan diurus saja. Nanti biar kami yang temani Juma." Kata Jaffan mencoba memahami kesibukan sang Ibu.
__ADS_1
Suara ketukan hills yang beradu dengan lantai menyita perhatian orang-orang. Jihan berjalan tegap memasuki perusahaan milik Peter diikuti seorang wanita yang menjabat sebagai asisten dan sekretarisnya. Keduanya menaiki lift untuk menuju ke lantai 23 tempat di mana pertemuan akan dilakukan.
Pintu ruangan terbuka. "Selamat Siang." Sapa Jihan ramah kepada beberapa orang yang sudah duduk. "Siang." Jawab mereka tersenyum. Tak berselang lama sosok pria datang. Setelah menjawab sapaan pria itu tampak duduk di kursi paling ujung hingga bisa mengamati seluruh orang yang hadir tak terkecuali Jihan yang sedang duduk tegap dengan penuh kharisma. Sudut bibir Peter terangkat membentuk senyuman tipis. "Mari kita mulai." Ucapnya.
Jihan sudah berada di parkiran kemudian masuk ke dalam mobil. "Din. Itu mobil yang menjemputmu. Kembalilah ke kantor dan makan siang. Aku mau ke sekolah Juma. Dia ngambek tadi gara gara aku nggak nonton pertandingannya." Kata Jihan. "Baik Bu. Hati hati di jalan ya." Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
Sampai di sekolah Jihan langsung menuju ke lapangan dengan langkah terburu buru. Wanita itu sesekali tersenyum membalas sapaan orang orang. "Lain kali saja Carissa. Anakku sedang ngambek sekarang. Aku ada di sekolah Juma untuk melihat pertandingannya. Nanti aku hubungi lagi." Ucapnya segera mengakhiri panggilan.
"Ibu." Jaffan dan Jalwa terkejut melihat kedatangan wanita itu. "Katanya Ibu ada meeting." Ucap mereka sembari mengajak Jihan untuk duduk. "Sudah Ibu batalkan. Anak anak Ibu lebih penting." Jawabnya sambil tersenyum.
Juma berlari kemudian memeluk erat Ibunya. Ia menang karena sangat bersemangat di tonton Ibu tercinta. "Good Boy." Ucap Jihan mencium kening putranya yang berkeringat. Wanita itu mengelap peluh si bungsu dengan tissue. "Terimakasih sudah datang." Kata Juma mengeratkan pelukan pada sang Ibu.
__ADS_1