Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Jalan Jalan


__ADS_3

Seperti yang sudah di janjikan Jihan, hari Ini Ia akan mengajak suami dan adiknya untuk jalan jalan. Ketiganya sudah siap di ruang makan untuk sarapan sebelum berangkat. "Susunya di habiskan Dek." Tegur Riza melihat Jihan masih menyisakan seperempat. "Kenyang Mas. Bentar aku napas dulu." Alasan. Sebenarnya Ia sudah bosan dengan rasa Vanilla. Mau ganti rasa juga terlanjur ini yang dibuatkan suaminya. Jadi tidak enak kan menolak. Meskipun akan di buatkan juga saat Ia meminta. Namun sayang kan kalau tidak diminum. Mubazir.


Riza mengecek semua perlengkapan sebelum berangkat. "Susu ada. Apalagi yang kurang?" Gumam pria itu mengobrak abrik tas yang sedang di bawanya. "Kenapa Mas?" tanya Jihan menghampiri suaminya sembari membawa tas kamera. "Enggak. Cuman ngecek aja kalau kalau ada yang tertinggal." Jawab Pria itu sambil tersenyum. "Sudah lengkap kok. Ayo masuk." Ajak Jihan dan Pria itu langsung mengangguk.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Trafalgar Square yaitu alun alun yang berada di pusat kota london. Riza tak berhenti menggenggam tangan istrinya takut wanita itu hilang karena pengunjung yang cukup ramai. Harusnya bukan dia yang menghawatirkan Jihan namun dia yang harus khawatir dengan dirinya sendiri karena tidak tau seluk beluk tempat ini. Bahasa Inggrisnya saja berantakan. Kan bahaya jika tersesat harus bagaimana. "Nggak istirahat dulu Dek?" Tanya Riza karena daritadi istrinya berjalan. "Nggak. Nggak capek kok. Habis ini kita ke Hyde Park terus istirahat disana sekalian." Jawab Jihan dan suaminya hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


Jihan dan Riza duduk di bangku sedangkan Mark masih jalan jalan. Mereka sekarang sudah berada di Hyde Park yang merupakan salah satu taman terbesar di pusat kota London. Jihan tak berhenti memotret sekitar membuat suaminya gemas. Pria itu mengecup pipi sang istri dan mengigit kecil membuat Jihan memekik seketika. "Kamu kenapa sih." Kesalnya sambil memukul lengan suami. "Gemas saja lihat kamu serius begitu. Suami sendiri di anggurin." Ucap Riza mengambil kamera istrinya kemudian menautkan jemarinya pada jemari sang istri dengan erat. "Begini kan enak Dek." Ucapnya sambil tersenyum.


Suasana jalan hari ini lengang sehingga mereka bisa tiba dengan cepat di pantai Margate. Jihan mengajak suami dan adiknya untuk segera turun. "Astaghfirullah." Ucap Riza memalingkan wajahnya. "Kenapa sih Mas?" Tanya Jihan keheranan. "Aku nggak mau disini. Kita pulang saja. Masa kamu bawa aku ke tempat orang orang ngga pakai baju begitu." Ucap Riza membuat istri dan Iparnya menghela napas. Keyakinan dan Ketaatan agama Riza begitu dalam. Jihan sampai lupa suaminya itu sangat sensitif. "Iya. Kita pulang. Tapi mampir untuk sholat sama makan siang dulu ya." Riza mengangguk kemudian segera masuk lagi ke dalam mobil.


Pulang dari jalan jalan Jihan langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Nasi sudah matang tinggal lauknya saja. "Maaf ya Dek." Ucap Riza merasa bersalah karena merusak momen liburan istrinya. "Nggak papa." Tuh kan sekarang Jihan jadi sangat sabar dan berlapang dada. Kenapa sekarang jadi Riza yang menyebalkan. Tertukar dimana jiwa keduanya? Atau gegara mabuk udara pria itu jadi sedikit lain. "Tunggu di ruang makan. Sebentar lagi matang kok." Riza menggeleng pelan. "Biar aku yang bawa kesana." Ucap pria itu di jawab anggukan oleh sang istri.

__ADS_1


Ketiganya makan bersama meskipun dengan menu yang berbeda. Jihan dan Mark makan hidangan dari restoran tadi sedangkan Riza makan masakan sang istri. Jihan tersenyum melihat suaminya makan begitu lahap. "Besok kalian pulangnya siang." Ucap Jihan membuat dua orang itu mengehentikan makannya seketika. "Dek. Bukannya malam ya?" Riza seketika sedih harus berpisah dengan istrinya. Tak rela? Memang. Namun bagaimana lagi mereka sudah sepakat. "Mas. Penerbangan malam katanya tidak bisa. Adanya siang dan pagi. Daripada pagi aku pilihnya siang saja." Ucap Jihan sambil menggenggam tangan suaminya. "Tidak bisa ya Mas tetap disini sama kamu?" Tanyanya membuat keadaan menjadi mengharu biru. "Mas kita sudah sepakat." Ucapnya. Riza langsung mendekat dan memeluk istrinya. Ia benar benar tak rela harus berpisah. Apalagi kondisi Jihan sedang hamil membuatnya khawatir.


Di suasana kamar yang temaram Riza memeluk tubuh istrinya. Keduanya memejamkan mata namun sama sama belum tidur. "Kenapa Mas?" Tanya Jihan merasakan ada yang aneh. "Mas. Boleh minta itu...." Ucapnya ambigu namun Jihan mengerti maksud suaminya. Riza sedaritadi hanya bisa menahan karena mungkin istrinya lelah seharian ini jalan jalan. Jihan mengangguk pelan membuat Riza tersenyum. Pria itu langsung mendudukkan diri dengan semangat. Ia mengungkung tubuh istrinya dan mulai melepaskan pakaian wanita itu dan membuangnya ke sembarang arah. Tangan dan mulutnya tak berhenti bekerja untuk mencumbu sang istri yang berada di bawahnya. "Mas akan pelan dek." Pria itu mengarahkan miliknya pada milik Jihan. Mendorong pinggul yang ada di bawah selimut itu dengan pelan. "Ouh...Mas...Sakit." Jihan mendesis sambil mencengkram lengan kokoh suaminya merasakan si bawah sana begitu sesak. "Masih sempit Dek...Sabar." Ucapnya mendorong lagi hingga terbenam sempurna. Riza mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang lembut dan pelan.


Erangan panjang terdengar beberapa kali. Riza mendongak menatap langit langit kamar dengan keringat yang bercucuran. Pria itu menggulingkan tubuhnya kemudian menciumi wajah sang istri dengan napas yang masih belum beraturan. "Terimakasih Dek." Ucapnya pelan kemudian memeluk tubuh polos Jihan yang berada di bawah selimut. Keduanya akan istirahat sebentar sebelum mandi bersama agar besok subuh bisa langsung sholat.

__ADS_1


__ADS_2