
Jihan bersedekap dada sambil menatap suaminya dengan tajam. "Tau kesalahan kamu?" Tanyanya dengan tegas. "Tau." Jawab Riza sembari menunduk. "Apa?" Tanya wanita itu membuat sang suami menelan ludah dengan susah payah. "Membuat keramik peninggalan Nenek pecah dan membuat kamu sakit hati Dek." Jawabnya. "Kemarin itu aku belum memberi maaf sepenuhnya. Enak saja dengan kata maaf kamu yang mudah terucap itu semuanya bisa aku lupakan. Aku tidak akan luluh." Ucap Jihan sambil meraih kertas di depannya. Wanita itu menuliskan sesuatu sambil mulut tak berhenti mengomel. Apapun akan Riza lakukan untuk menebus kesalahannya.
"Belikan semua ini dalam waktu satu jam." Ucap Jihan sambil mendorong secarik kertas itu hingga sampai di depan suami yang duduk bersebrangan karena Ia tak mau duduk berdekatan dengan Riza. Pria itu dengan cepat meraih kertas dari sang istri dan membacanya. 7 jenis makanan dan minuman telah tertulis dan Jihan menginginkan semua itu dalam waktu satu jam. "Dek. Ini tidak cukup waktunya." Keluh pria itu karena pasti antrian panjang. "Jadi kamu tidak sanggup?" Riza dengan cepat menggeleng. "Sanggup." Jawabnya mantap. Jihan meraih ponselnya. "Waktu di mulai.....Sekarang." Ucap wanita itu menunjukkan stop watch yang mulai berjalan mundur. Riza berpamitan sekilas kemudian segera pergi. "Kakak mengerjainya?" Tanya Mark. "Memang harus di beri pelajaran." Jawabnya sambil merebahkan tubuh di sofa dengan nyaman.
__ADS_1
Riza berhenti di pinggir jalan untuk membeli menu pertama. Jihan menginginkan martabak manis dan asin langganannya. "Masih lama ya Mas?" Tanya Pria itu. "Masih Ustadz." Jawab Penjual. "Kalau begitu saya tinggal dulu ya. Saya mau beli yang lain." Pamit Riza bergegas pergi untuk membeli sate ayam di sekitaran sana.
Terakhir Riza mengunjungi warung bakso pak Sukur. "Ustadz. Kenapa ngos ngosan begitu?" Tanyanya heran. "Habis lari pak. Bakso dua. Dibungkus." Ucapnya sambil mengatur napas. "Minum dulu Ustadz. Saya buatkan dulu." Kata Pria itu bergegas pergi setelah memberi Riza air mineral karena melihat pria itu sepertinya sedang terburu buru.
__ADS_1
Mark menatap Kakaknya makan dengan lahap sambil menyuapi anak anak. Sementara Iparnya hanya melihat makan yang sudah tersaji di depannya. Riza terlihat tidak berselera sama sekali. "Kenapa nggak makan Kak?" Tanya Mark. "Iya. Ini mau makan." Jawab Pria itu sambil melahap satenya. Mark tidak tau saja jika Riza sedang memikirkan nasibnya nanti malam dan tiga hari ke depan tidur tanpa sang istri. Bisa sampai pagi nggak tidur dong. "Dek." Panggil Riza dengan suara lemah. "Hm." jawab Jihan sambil mengunyah bola daging lezat itu. "Jangan tega begitu ya....Mas nggak bisa tidur nanti." Keluhnya dengan sangat memelas. "Baru kali ini aku tega sama kamu. Jangan mendramatisir." Jawab Jihan. "Iya. Tapi kalau nggak tega sama sekali ke suami pasti lebih baik Dek." Ucap Pria itu. "Tau dari mana? Seseorang yang membuat kesalahan itu harus di hukum biar ada efek jera. Makannya ada penjara. Masa kamu nggak tau soal itu Mas?" Riza menghela napas. "Hukuman yang lain kan bisa. Jangan itu." Jihan tersenyum. "Yasudah. Kamu tetap tidur di kamar." Kata wanita itu membuat Riza berbinar. "Tapi aku tidur sama anak anak." Lanjutnya membuat Riza kembali ke ekspresi semula. "Sama saja Dek." Keluhnya.
Malam hari Jihan mengabaikan suara bel dari suaminya. Pria itu masih saja berusaha masuk padahal kamar sudah di kunci rapat rapat. "Aku mau tidur. Jangan ganggu. Kalau ganggu aku tambah hukumannya menjadi tujuh hari." Ucap Jihan lewat monitor dan speaker pesan suara. Ia bergegas menuju ranjang untuk segera tidur mengabaikan suaminya yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1