Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tempat Konsultasi


__ADS_3

Mark menghampiri kakaknya yang sedang duduk sendiri sambil memainkan ponsel. "Kak." Panggilnya sambil menyandarkan kepala di bahu Jihan. "Em.." Jawabnya begitu singkat padat dan terkesan malas. "Kak Riza mana?" Ia merasa heran tidak mendapati pria itu di samping wanita yang begitu di cintainya. Sikap bucin Riza sudah bukan rahasia lagi. Pria itu tak segan memperlakukan sang istri sangat romantis dan manis di depan umum sekalipun. Dan ada yang bisa menebak Jihan bagaimana? Ya tetap cuek dan datar saja. Namun Setidaknya Mark bersyukur Kakaknya tidak akan berteriak girang dan lebay seperti wanita di luar sana saat di perlakukan seperti ratu oleh suaminya. Ia patut bangga dengan sikap bawaan Jihan. "Bilangnya tadi ke rumah pak RT." Jawabnya setelah sekian lama. "Kenapa? Kangen?" Jihan meletakkan ponselnya kemudian mengusap kepala Mark dengan lembut. "Ngapain kangen. Tiap hari ketemu. Yang ada malah bosen." Jawabnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Riza masih berada di rumah pak RT dengan bapak bapak komplek lainnya. Yah...meskipun dia masih calon bapak tapi termasuk bapak juga untuk istrinya yang kekanakan dan banyak tingkah. Punya istri macam Jihan harus banyak bersabar dan ngemong. "Jadi bagaimana kesepakatannya?" Tanya Pria berpeci yang usianya sama seperti Mertua Riza. "Kita bersih kompleksnya hari Sabtu saja pak. Pas itu seminggu lagi kan lebaran. Kita beri waktu kalau ada yang mau mudik. Kalau kami sih tidak mudik. Kalau Ustadz Riza bagaimana?" Riza menggeleng. "Sama pak saya juga tidak mudik. Sudah tidak punya siapa siapa di kampung." Jawabnya membuat semua mengangguk paham. "Berarti sepakat ya ini. Kalau tidak pada mudik berarti hari minggu nanti kita bersih bersih kompleks." Tegas Pak RT menyampaikan lagi hasil kesepakatan mereka.

__ADS_1


Pak Samsul mampir di rumah Riza setelah kembali dari rumah Pak RT tadi. Mereka duduk di teras sambil mengobrol. "Ustadz. Istri Istri saya kok sering marah marah ya. Saya pusing kan jadinya. Perasaan saya sudah kasih uang bulanan seperti biasa malah lebih. Terus salah saya dimana?" Pria itu berkeluh kesah pada Riza yang sekarang menjadi tempat konsultasi rumah tangganya. Padahal Riza menikah belum genap setahun justru pak Samsul lah yang banyak pengalaman. Bahkan Pria itu istrinya dua. Terus fungsi Riza ditanyai tentang rumah tangga apa? Namun Ia akan berusaha menjawab sebisanya. "Pak. Istri itu tidak hanya butuh materi namun juga butuh di perhatikan. Butuh di sayang dan dimanja. Coba di bicarakan dulu apa apa yang kiranya membuat istri bapak tidak nyaman. Di tanyakan baik baik maunya istri itu apa. Apa nafkah batin yang kurang atau pembagian waktu atau yang lainnya. Sebenarnya membuat wanita bahagia itu simpel pak. Mereka hanya butuh nyaman dan kasih sayang." Jelas Riza panjang lebar sampai lawan bicaranya itu paham.

__ADS_1


Sore hari seperti yang sudah di janjikan Pak ustadz, kini Jihan dan juga adiknya sedang berjalan di di dekat taman untuk membeli martabak. "Dek. Jalannya pelan pelan saja. Kalau tidak menurut pulang nih." Ucap Riza ampuh membuat wanita itu berhenti seketika. "Jalannya kenapa cepat cepat sih." Kata Pria itu menggandeng lagi tangan istrinya yang sempat terlepas. "Mana yang jual?" Tanya Jihan sambil celingukan. "Itu. Kita pesan dulu terus di tinggal cari makanan lain yang kamu mau." Ucap Riza langsung mendapat anggukan cepat dari istrinya.

__ADS_1


__ADS_2