
Semuanya sedang sarapan bersama. Mereka memperhatikan Riza yang tampak lesuh dengan lingkar mata yang begitu jelas kentara jika pria itu tidak tidur semalaman. Sehari saja sudah begini. Bagaimana tiga hari kedepan. Batin Papa dan Mark bertanya tanya dalam hati. "Ayo segera sarapan. Kita nanti ke perkebunan Papa." Ajak Jihan. Mereka mengangguk mulai makan sarapannya. "Kamu kalau ngantuk di rumah saja Mas." Riza dengan cepat menggeleng. Tidak mungkin dia tidak ikut. Dia tentunya akan ikut kemanapun sang istri pergi. "Ibu. Nanti bawa bekal dari rumah kan?" Tanya Jalwa. "Iya. Ibu sudah siapkan. Kita piknik nanti disana." Jawab Jihan sambil meminum susu yang tadi di buatkan sang suami. "Dek. Jangan di teruskan ya hukumannya. Masa kamu tega lihat aku tiga tiga hari empat malam nggak tidur." Ucapnya memelas. "Mau di tebus pakai apa?" Tanya Jihan tak mau rugi. "Kamu mintanya apa?" Riza malah balik bertanya pada sang istri. "Nanti aku pikir pikir dulu." Kata Jihan. Dia nggak mau rugi dong. Hukuman tetaplah hukuman. Harus ada gantinya yang setimpal.
Mereka sudah sampai di perkebunan. Anak anak langsung berlari begitu turun dari mobil. "Jangan lari lari nanti jatuh." Tutur wanita hamil itu sambil melangkah mengikuti putra putrinya. Sementara Riza dan Iparnya sedang sibuk membawa makanan dari rumah. "Turut prihatin Kak." Ucap Mark melihat kekacauan yang menimpa Riza. "Terimakasih." Jawab Pria itu sambil tersenyum kemudian mengikuti langkah adik iparnya yang sudah berjalan lebih dulu.
Riza mengikuti Istrinya yang sedang sibuk memetik berbagai buah bersama anak anak. "Apelnya besar." Tunjuk Jalwa sambil mendongak ke atas. "Mau itu." Lanjutnya. Jihan mengangguk kemudian mengambilkan untuk putri tercinta. "Terimakasih Ibu." Ucap Jalwa memeluk perut Ibunya yang mulai membesar. "Sama sama Sayang." Jawab Jihan mengelus lembut kepala Jalwa. "Jangan di makan dulu. Nanti di kupas." Ucap Jihan menuturi putrinya. "Mau jeruk." Jaffan menggandeng tangan Ibunya untuk di ajak berjalan pelan menuju pohon jeruk Mandarin yang sedang berbuah lebat. "Iya Ibu ambilkan." Jihan mulai memetik beberapa dan memasukkan ke keranjang yang sedang di bawa anaknya.
__ADS_1
Semuanya berkumpul setelah puas memetik berbagai buah buahan. Mereka duduk melingkar di tikar yang di gelar di teras belakang rumah sederhana untuk tempat istirahat Papa dan para pekerja. Jihan sibuk mengupas apel dan memotongnya. Wanita itu menyajikan di piring untuk di nikmati semua orang. "Kalau pas kesini nggak ada yang kerja ya Pa." Papa mengangguk menanggapi putrinya. "Memang Papa suruh libur kalau kamu kesini. Biar lebih leluasa saja." Jawabnya. "Kakek. Mangga yang bulat bulat itu sudah berbuah." Tunjuk Jalwa pada pohon mangga rendah yang berbuah lebat. "Iya. Tapi itu belum bisa dimakan. Masih asam." Gadis cantik itu tampak mengangguk. Riza meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Kenapa ini. Mas jangan begini. Risih tau." Ucapnya protes. "Sebentar Dek." Jawab Pria itu. "Lima menit " Tegas Jihan namun Riza tak merespon.
Beberapa menit berlalu. Riza sudah tertidur pulas. Bahkan beberapa kali Jihan membangunkan, pria itu tetap tak merespon. "Biarkan dia tidur. Semalaman sepertinya tidak tidur." Kata Papa menegur putrinya. "Mark. Ambilkan bantal di dalam. Pinggang kakak pegal." Pemuda itu mengangguk kemudian segera bergegas mengambilkan bantal seperti kemauan kakaknya.
"Um..." Riza terbangun dari tidurnya. Pria itu mendapati sekeliling sudah kosong. "Astaga aku ketiduran." Ucap Pria itu. "Istriku kemana Mark?" Tanyanya pada adik Ipar yang baru datang dari dalam. "Tidur siang di kamar sama anak anak." Jawabnya. Riza mengangguk kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
Sampai di kamar Riza dengan hati hati memindahkan Jaffan yang sedang memeluk ibunya. Pria itu ikut tidur sambil memeluk sang istri. Begitu nyaman hingga Ia terlelap dalam hitungan detik.
Sore hari Jihan dan keluarga sampai di rumah. Wanita itu bergegas masuk mengabaikan Riza yang sedaritadi mengikuti langkahnya. Ia ke kamar anak anak untuk menyiapkan baju ganti. "Kalian mandi ya. Ibu sudah siapkan bajunya." Jaffan dan Jalwa mengangguk patuh kemudian segera melaksanakan perintah sang Ibu.
Selesai mengurusi anak anak Jihan beralih menyiapkan baju untuk suaminya. "Mandi sana. Bajunya sudah siap." Kata Wanita itu. "Nanti dulu Dek. Tadi kamu gimana? Sudah di pikirkan mau apa?" Tanya Riza mengingatkan negosiasi tadi pagi. "Sudah. Buang parfum kamu yang bau melati atau apa itu. Sangat mengganggu." Ucap Jihan. "Iya. Mas buang." Kata Pria itu bergegas membuang parfum oleh oleh dari temannya. "Sudah Dek. Mas boleh tidur sama kamu kan?" Tanyanya. "Boleh. Tapi nggak ada peluk, cium dan sebagainya. Jaga jarak sama aku." Jawab Jihan bergegas masuk kamar mandi. Riza mengangguk pria itu segera menyusul istrinya. Dikira mau di ajak mandi bareng eh..ternya pintunya di kunci. Jihan mandi dengan santai mengabaikan suaminya yang menggedor-gedor pintu.
__ADS_1