Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Membantu


__ADS_3

Hari Minggu pagi. Jihan sudah menyiapkan sarapan. Wanita itu kini sedang joging mengelilingi istananya yang besar. "Ibu." Panggil Juma mengimbangi lari santai Ibunya. "Hey." Jihan tersenyum. Si bungsu selalu menemaninya saat olahraga pagi beda dengan kakak Kakaknya yang malas olahraga seperti sang Ayah. "Ibu ayo jengukin Lucifer dan Artes." Ajak Juma. "Ayo." Jihan menggandeng tangan putranya berlari mengikuti jalan setapak menuju halaman belakang rumah.


Riza ikut bergabung dengan mereka yang sudah siap di meja makan. "Ibu sama Juma kemana?" Tanya Pria itu. "Lagi joging Yah. Kita disuruh sarapan dulu." Jawab Jalwa. "Belum sarapan. Nanti lupa sarapan." Gerutu Riza hendak berdiri dari duduk langsung di cegah mertuanya. "Biarkan Za. Jangan ganggu mereka. Nanti juga sarapan." Kata Papa. Riza hanya bisa menurut kemudian duduk kembali di kursinya.

__ADS_1


Jihan dan Juma mengeluarkan kudanya. Mereka menuntun dua hewan beda warna itu menuju ke lapangan. "Pakai helmnya." Ucap Jihan memasangkan pelindung kepala pada putranya. Ia juga memasang pelindung siku dan lutut untuk Juma. Bocah itu baru belajar belajar menunggang kuda satu tahun yang lalu. Jadi Jihan khawatir nanti Juma terjatuh. "Ayo naik." Ucapnya. Selesai membantu putranya Jihan juga naik ke kuda hitam miliknya. Ia memacu hewan gagah itu pelan sembari mengawasi Juma dari belakang.


Riza, Papa dan kedua anaknya menghampiri Jihan yang sedang asyik bersenda gurau dengan Juma. "Dek. Juma. Sarapan dulu." Teriak Riza karena jarak mereka yang cukup jauh. Jihan dan putra bungsunya mendekat dengan menunggangi kuda masing masing. "Nanti dulu. Belum lapar." Jawab Jihan. "Iya. Tadi sudah minum susu. Masih kenyang Yah." Remaja itu menimpali. "Yaudah. Berhenti main kudanya." Jihan menggeleng. "Ini baru pemanasan." Ucapnya sambil menggerakkan tali hingga kuda hitam itu berlari cepat meninggalkan mereka. "Ibu. Tunggu." Kata Juma menyusul wanita itu. "Mereka itu." Gumam Jaffan memutuskan untuk duduk diikuti saudara kembarnya.

__ADS_1


Juma mengelap keringat ibunya lalu menggandeng tangan Jihan menghampiri semua orang yang menunggu. "Minum dulu." Kata Riza menyerahkan botol minum untuk sang istri. Jihan duduk kemudian minum diikuti Juma. "Mau mandi dulu." Kata wanita itu berlalu pergi diikuti putranya. "Nempel teros." Sindir Jaffan sambil berteriak namun adiknya tak peduli tetap mengejar Sang Ibu.


Riza terus mengekori istrinya hingga wanita itu sampai di dapur. Jihan sedang sibuk dengan kegiatannya membuat cappucino. "Anak anak mana?" Tanya Wanita itu sembari mengangkat cangkirnya ketika selesai. "Masih di belakang mungkin." Jawab Riza.

__ADS_1


Keduanya kini sudah duduk berdua di teras belakang menikmati suasana taman yang begitu menyejukkan mata. "Ibu." Jaffan datang bersama kedua adiknya bergabung. Riza mengehela napas. Nggak ada ya waktu berdua dengan sang istri selain tidur. Pasalnya ketiga anaknya begitu tak mau lepas dari Jihan.


"Hm. Berhubung semuanya sudah kumpul ada yang pengen Ibu sampaikan." Kata Wanita itu. "Apa? Ibu pengen sesuatu?" Tanya Jalwa. "Bukan. Ibu mau kasih tau kalau Ibu mau mendaki gunung di daerah Jawa tengah minggu depan." Mereka membelalakkan mata mendengar apa yang barusan terlontar dari mulut Ibunya. "Dek. Kenapa sih? Jangan aneh aneh deh." Kata Riza diangguki oleh anak anak. "Iya. Ibu nggak usah aneh aneh deh. Kita dukung semua kemauan Ibu. Tapi untuk yang ini Big No." Jaffan berkata dengan tegas. Ia khawatir dengan ibunya. Ia tak mau sesuatu terjadi pada Wanita yang begitu Ia Cintai. "Cuman lima hari. Kalian jangan khawatir. Banyak temannya juga. Ibu akan baik baik saja. Hari Rabu nanti Ibu akan berangkat. Nanti kita kabar kabaran kan bisa." Kata Jihan namun mereka tetap menentang keinginan wanita itu. "Ibu. Ibu kan nggak boleh kecapean." Jalwa mengingatkan. "Dokter kan sudah bilang jika Ibu sudah sembuh." Jawab wanita itu meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2