
Juma menghampiri semuanya yang sudah berkumpul untuk sarapan. Sedari subuh tadi Ibunya hanya diam. Sesekali menjawab singkat apa yang Ia tanyakan. Bocah tampan itu melangkah mendekati Wanita yang sedang sibuk mengambilkan makan. "Ibu." Lirih Juma memeluk sang Ibu. Jihan tak menjawab masih sibuk dengan kegiatannya. Sebenarnya Ia tak benar benar marah. Ia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran untuk putranya agar berhati hati dan mendengarkan apa yang orang lain katakan selama itu benar.
"Ibu. Juma minta maaf." Ucapnya sambil menangis kencang. Jihan menghela napas. Ia melepaskan tangan putranya lalu mengusap air mata Juma dengan lembut. Pelukan juga Ia berikan agar putra bungsunya itu segera tenang. "Jangan menangis. Ibu tidak marah." Ucap Jihan membawa Juma dalam pangkuannya. "Ibu tidak marah sayang. Ibu diam supaya Juma sadar kalau apa yang Juma lakukan itu salah. Ibu sayang Juma. Begitu juga semuanya. Jika ada yang menegur Juma itu berarti Juma sedang salah. Juma kalau di tegur juga harus mendengarkan. Jangan mengabaikan orang lain. Semua nasihat dan teguran itu untuk kebaikan Juma. Juma paham kan?" Tanya Jihan. Bocah itu mengangguk sambil masih sesenggukan. "Ayo sarapan. Setelah ini kita belanja." Kata Jihan. Mereka semua tersenyum memperhatikan Ibu dan anak itu. Bagaimana cara Jihan memperlakukan anak anaknya begitu sabar. Kasih sayang wanita itu rata. Semuanya mendapat cinta dan perhatian yang sama.
__ADS_1
Jihan dan suami serta anak anaknya sudah berada di Mall. Wanita itu sibuk berbelanja sementara Jason, Julian dan Jaffan mendorong troli mengikutinya. "Mau itu?" Tanya Jihan melihat Juma sedaritadi melihat coklat. "Mau." Jawabnya sambil tersenyum. "Ambil. Untuk kakak juga." Ucap Jihan langsung di jawab anggukan semangat. "Bu. Beli nugget juga." Jaffan mengingatkan. "Iya." Jihan menuruti keinginan putranya segera mengambil beberapa bungkus nugget, sosis, dan makanan beku lainnya dari Freezer.
"Mahal banget." Ucap Riza terkejut melihat harga mangga. "Mangga import itu Yah. Jangan kaget begitu." Jalwa terkikik melihat ekspresi Ayahnya. "kenapa?" Tanya Jihan menghampiri keduanya. "Ayah kaget lihat harga mangga." Jawab Jalwa. "Memang segitu Mas. Kamu kalo lihat mangga jepang yang harga per bijinya jutaan pasti pingsan." Ucap Jihan. "Memang ada?" Jihan menganggu menanggapi suami dan putrinya.
__ADS_1
Juma menghampiri Ibunya yang sedang duduk mengobrol bersama para saudara, Ayah dan kakeknya. "Ibu." Panggil bocah itu. "Ini untuk Ibu. Untuk mengganti keramik Ibu." Ucapnya memberikan kaleng biscuit yang menjadi tempatnya menabung. Jihan tersenyum. Wanita itu menerima kemudian membukanya. Uang pecahan dua puluh ribu, sepuluh ribu dan lima ribu sangat penuh di dalam. Uang yang masih baru. Ia tau itu hasil pemberian dari kakeknya ketika Juma mau di suruh. Keramiknya berharga ratusan juta. Bahkan untuk biaya kirim saja ini tidak akan cukup. "Simpan saja untuk Juma." Jihan tersenyum mengembalikan kaleng itu pada putranya. "Kurang ya Bu? Oh. Masih kurang banyak." Ucapnya di jawab anggukan. "Tidak masalah keramik Ibu pecah. Ibu tidak keberatan. Ibu cuman mau Juma hati hati dan dengar nasihat orang. Itu saja. Lain kali jangan diulangi lagi." Tutur Jihan dengan lembut. Bocah tampan itu mengangguk kemudian memeluk Ibunya dengan erat. "Juma Janji nggak akan main bola di dalam rumah lagi." Ucapnya.
Riza memeluk istrinya yang sibuk makan sate saat baru datang. "Sudah dapat?" Tanya Wanita itu. Ia menyuruh Riza mencairkan uang di Bank untuk THR dan sedekah. "Ini dapat." Jawabnya memperlihatkan paper bag besar yang Ia bawa lalu mencium pipi sang istri dengan lembut. "Ayah tau ya ada kesempatan." Sindir Jalwa. "Casper marah tuh." Lanjutnya melihat Juma datang sambil bersedekap dada.
__ADS_1
Malam hari Jihan dibuat heran melihat suaminya buru buru masuk lalu mengunci pintu kamar. "Ada apa?" Tanyanya. Tak menjawab Riza langsung menggendong tubuh ringan sang istri sambil mencium bibir wanita itu dengan lembut. Riza meletakkan tubuh Jihan di ranjang dengan hati hati lalu mencumbunya dengan penuh cinta. "Mas tidak tahan lagi." Ucap Riza yang sudah dipenuhi kabut gairah.
Riza menggulingkan tubuhnya di samping sang Istri. Pria itu memeluk tubuh polos wanita yang sudah menemani Ia belasan tahun lamanya. Riza tersenyum miris. Ia yakin istrinya itu belum terpuaskan. Staminanya semakin menurun beriring dengan bertambahnya usia. Ia tak bisa memuaskan Jihan yang masih muda. "Kamu belum puas Dek. Mas tau itu. Mas minta maaf." Ucap Riza menatap sendu wajah sang istri. "Tidak masalah." Jawab Jihan menenangkan suaminya. Memang tidak memuaskan dan Jihan tidak mengelak tentang itu. Namun sebisa mungkin Ia tak akan menyinggung itu dan tetap diam untuk menjaga perasaan Riza. Jihan tak mau suaminya minder dan membuat pria itu bersedih. Apa apa yang menjadi kekurangan Riza Ia terima dengan ikhlas dan baik termasuk dalam masalah ranjang yang menjadi salah satu masalah besar dalam rumah tangga.
__ADS_1