
Di Sabtu pagi yang cerah. Jihan mengajak kedua anaknya memetik sayur di belakang rumah. Bebagai macam sayuran tumbuh dengan subur. Karena berlebih Ia akan membagikan dengan tetangga sekitar. "Ayo petik sayang." Kata Wanita itu menggendong Jaffan untuk memetik timun yang cukup tinggi. "Tarik kak." Jalwa begitu antusias. "Yey dapat dua." Bocah tampan itu tampak begitu senang.
"Jalwa mau Ibu." Ucapnya. Jihan mengangguk kemudian menggendong putrinya. "Jangan yang itu sayang. Masih kecil. Yang satunya lagi." Ucap Jihan memberi instruksi.
Riza baru datang dengan Mark langsung menghampiri mereka. "Kenapa gendong gendong sih Dek. Mas kan sudah bilang jangan angkat berat." Ucap Pria itu sambil mengecup kening istrinya stelah mengomel panjang lebar. Dasar Ustadz memang bibirnya main nyosor aja. "Nggak papa." Jawab Jihan lalu mengajak suami dan adiknya untuk memetik sayur juga. "Ini gimana kak?" Tanya Mark bingung. "Tinggal cabut saja." Jawab Jihan. "Kotor dong kalau akarnya ikut." Masih bingung juga dia. "Nanti di bersihkan."
__ADS_1
Mereka duduk melingkar setelah semuanya beres. Jihan memasukkan sayuran yang sudah di bersihkan ke dalam kresek untuk di bagikan ke tetangga. "Kita tanam lagi dong kak?" Tanya Mark melihat kebun mini itu sudah bersih tak bersisa. "Iya lah." Jawabnya. "Nanti beli benihnya." Lanjut Jihan sambil menata sayur yang sudah di kemas ke dalam keranjang.
Riza dan Mark baru saja pulang dari rumah para tetangga untuk membagikan sayuran. "Assalamualaikum." Ucap keduanya memasuki rumah. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan sedang menggendong Jalwa yang tampak menangis. "Kenapa?" Tanya Riza. "Sini sama Ayah." Ajaknya namun gadis kecil itu dengan cepat menggeleng. "Jatuh dari sofa." Jawab Jihan sambil mengelap air mata anaknya.
Riza memeluk istrinya yang sedang bersiap. Pria itu memperhatikan luka di tubuh Jihan yang sudah memudar sempurna. "Mas. Jangan begini. Nanti kamu terpancing dan kamu nggak jadi berangkat." Ucap Jihan mendorong tubuh suaminya. Ia sadar pria itu mudah sekali bangkit hasratnya hanya dengan berpelukan atau berciuman. "Baik." Riza tersenyum kemudian menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
"Lama banget." Kesal Mark melihat sepasang suami istri itu menuruni tangga. "Jilbab Jalwa mana?" Tanya Jihan menghampiri putrinya. "Di bawa Om." Jawabnya. "Mark. Kembalikan. Sama bocah juga usilnya nggak ketulungan." Kesal Jihan mencubit lengan pemuda itu. "Ini. Sakit tau. Ibu muda galak amat." Ucapnya sambil mengusap lengan yang memerah. "Kamu cari perkara mulu." Jawab Jihan. "Biarin. Aku seneng lihat kakak kesal." Mark mencium pipi Jihan membuat wanita itu menatap tajam.
Mereka sudah sampai di tempat acara. "Mas kesana dulu." Ucap Riza berpamitan sambil mengecup kening istrinya. Jihan mengangguk. Wanita itu segera duduk memangku putrinya sedangkan Jaffan ikut dengan Omnya di tempat duduk pria.
Tausiyah di mulai. Riza membawakan tema tentang rumah tangga yang bahagia. "Ustadz saya mau bertanya nih. Apa rahasia rumah tangga ustadz yang bahagia adem ayem itu apa sih? Soalnya kalau kita lihat ustadz sama istri itu harmonis banget." Tanya Salah satu jamaah di akhir ceramah Riza. "Ya kuncinya sederhana. Hanya saling memahami satu sama lain. Saya sama istri saya juga sering yang namanya bertengkar kecil. Tapi setelah itu ya sudah selesai tidak ada dendam atau yang bagaimana. Semuanya kita selesaikan baik baik. Apalagi saya itu jujur ya...sering banget di buat kesal. Istri saya itu bandel banget. Kalau tidak percaya monggo tanya sama anak anak dan ipar saya." Ucap Riza mengundang gelak tawa. "Nah. Ini saya cerita ya. Istri saya kan baru sembuh dari kecelakaan hebat ya....Saya sebenarnya enggan mengingat ingat lagi. Sebulan saya terpuruk dalam keadaan yang paling bawah. Alhamdulillah Allah maha baik dan mengizinkan kita berkumpul lagi. Saya sangat senang. Baru saja keluar rumah sakit istri saya sudah angkat pot di belakang rumah. Kan sebenarnya tidak boleh sama dokter. Waktu itu saya ya mengomel. Lagi, istri saya tiba jalan jalan pakai mobil yang kuncinya awalnya itu di sita sama papa mertua saya. Namun saya tau Dek Jihan itu perayu ulung makannya dia bisa luluhkan hati Papa. Itu juga saya omeli habis habisan. Ketika saya lagi kesal dia yang sabar begitupun sebaliknya ketika dia kesal saya yang sabar. Intinya saling meredam satu sama lain. Cekcok dalam rumah tangga itu biasa. Malah jika tidak ada itu yang janggal. Yang bahaya itu suami istri sama sama emosi. Nah itu yang membawa dalam hal hal yang buruk sampai maaf kata cerai terucap. Kata itu keluar dari mulut suami maka hari dan detik itu pula jatuh talak dan hubungan keduanya sudah selesai. Kalau masih tinggal satu atap tidur bareng. Terhitung zina. Dosa jadinya. Pada intinya sabar saja apa apa dibicarakan baik baik. Ajak duduk bicara pelan sampai satu sama lain paham. Ya nggak sayang?" Tanya Riza pada Jihan membuat wanita itu malu karena menjadi pusat perhatian. Ia menyembunyikan wajahnya di baling punggung Jalwa. "Dasar Suami Durhaka." batin Jihan sudah di buat malu habis habisan kali ini.
__ADS_1