Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Momen Bahagia


__ADS_3

"Sakit." Keluh Jihan sudah berada di dalam ruang persalinan sebuah rumahsakit terbesar di kota. "Sabar sayang." Riza menggenggam tangan istrinya sembari membaca doa. Melihat Jihan kesakitan seperti ini membuat hatinya terluka. Memang sudah kodratnya. Tapi cinta membuat pria begitu rapuh. Jangankan sakit karena melahirkan. Terkena jarum saja jika itu terjadi pada istrinya Riza sudah di buat lemah. "Sudah pembukaan akhir." Ucap seorang dokter wanita paruh baya kemudian memberi instruksi pada Jihan.


Suara tangisan bayi pertama terdengar di susul oleh bayi berikutnya. Jihan dan Riza sama sama meneteskan air mata haru karena kini keduanya benar benar menjadi orang tua. "Alhamdulillah. Terimakasih Sayang." Ucap Riza menciumi wajah istrinya penuh dengan cinta.

__ADS_1


Semua orang baru boleh masuk setelah Jihan selesai memberikan ASI pada putra putrinya. Wajah kedua bayi mungil sangat tampan dan cantik itu mirip dengan sang Ibu. "Lihat. Sangat mirip denganmu." Ucap Meta mengelus lembut pipi bayi tampan yang tertidur pulas dalam gendongan Jihan. "Iya. Mirip Ibunya semua." Ucap Papa setuju. "Siapa namanya Kak?" Tanya Mark pada iparnya yang sedang menimang. "Jaffan Cemal Ramdhani dan Jalwa Cemal Ramdhani." Jawab Riza mendapat anggukan dari semua orang. "Coba aku gendong." Mark begitu antusias ingin menggendong keponakannya. "Jangan dikasih Mas. Dia ceroboh. Nanti jatuh." Ucap Jihan membuat adiknya mendengus sebal. "Alah. Sebentar saja." Pintanya memohon. "Riza mengangguk setelah mendapat persetujuan sang istri kemudian memberikan putrinya pada Mark dengan hati hati. "Papa istirahatlah." Jihan menggenggam tangan pria paruh baya itu. Usia yang tak lagi muda membuatnya khawatir jika Papanya kelelahan. "Kenapa? Kamu yang harusnya Istirahat." Jawabnya sambil mengusap kepala Jihan dengan lembut. "Kakak. Gita sama Lita mau lihat." Dua bocah yang baru datang dengan Papanya itu sangat antusias. "Kalian ini. Jangan berisik. Nanti adiknya bangun." Tegur Meta. "Iya sini." Jihan tersenyum menyuruh pasangan suami istri itu menggendong kedua putrinya karena ranjang yang cukup tinggi membuat dua bocah itu kesulitan. "Tampan sekali." Ucapnya penuh kekaguman. "Hidungnya mancung kan. Mirip hidung kakak." Ucap Rudi menimpali putrinya.


Sore hari Jihan sudah boleh pulang. Rumah terasa ramai karena banyak tetangga dan karyawan yang datang untuk melihat si kembar. Juga ada yang sibuk wara Wiri menyiapkan hidangan untuk menjamu orang orang yang datang. "Pak Samsul." Riza menghampiri pria itu yang sedang mengobrol dengan yang lain setelah dari ruang tengah untuk melihat istrinya. "Ada apa Ustadz?" Tanyanya sembari meletakkan cangkir di atas meja. "Em...Saya mau beli kambing untuk akikah. Nanti temani ya." Ucap Riza langsung mendapat anggukan cepat. "Kapan? Sekarang?" Riza menggeleng cepat. "Ya tidak dong pak. Ini sudah sore. Nanti magribnya gimana." Jawab Riza membuat pria itu mengangguk paham.

__ADS_1


Rumah kembali sepi setelah semuanya pulang. Meta juga pulang beberapa menit yang lalu karena besok anak anaknya sekolah. Riza menghampiri istrinya yang masih duduk di ruang keluarga. Pria itu sudah mengenakan sarung dan baju Koko di ikuti Papa mertuanya yang berjalan di belakang."Dek. Aku sama Papa ke mushola dulu ya." Pamitnya dan Jihan mengangguk. "Bangun Mark. Pergi sholat sana." Ucap Jihan menggoyangkan bahu remaja yang sedang tidur di sampingnya itu. "Um....Aku di rumah saja temani kakak." Jawabnya sambil menyembunyikan kepala dengan kedua lengannya. "Heh. Nggak usah alasan kamu. Bangun." Ucapnya lagi. "Bangun Mark. Papa sudah siap nih." Pria paruh baya itu ikut membangunkan. "Tinggal saja Pa. Biar tau rasa." Ucap Jihan membuat adiknya bangun seketika. "Tunggu dulu." Ia bergegas pergi dengan kantuk dan malas yang melanda. "Kamu di rumah sendiri nggak papa Nak?" Tanya Papa begitu lembut. "Nggak Pa. Kalian berangkat saja." Jawab Jihan sambil tersenyum.


Jihan memindahkan dua buah hatinya ke kamar. "Jaffan bangun ya sayang." Ucapannya segera memberi ASI pada bayi tampan itu sebelum menangis dan mengganggu putrinya yang masih tertidur dengan lelap. "Mata Biru yang indah." Wanita itu tersenyum mengamati manik mata Jaffan yang menurun darinya.

__ADS_1


__ADS_2