Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Buka Bersama


__ADS_3

Riza mengundang mampir ke rumah mertuanya sebentar. "Benarkah? Kapan?" Tanya Wanita itu dengan mata berbinar menatap menantunya. "Nanti Bun. Bunda kasih tau Ayah dan yang lain ya." Pesannya sebelum pergi. Bunda Jihan mengangguk kemudian mengantarkan menantunya sampai ke depan. "Riza ke kampus dulu Bun. Assalamualaikum." Riza berpamitan. "Waalaikumsalam." Jawab Bunda masih dengan senyumnya.


Di sisi lain Jihan sedang memasak untuk menyiapkan menu buka puasa. "Papa." Sapanya sudah terhubung dengan panggilan Video. "Papa nanti buka puasa disini ya. Jihan sudah masak banyak nih." Ajaknya di sahuti anggukan oleh pria di sebrang sana. "Kamu masak sendiri? Jangan terlalu lelah." Tuturnya dengan raut wajah khawatir yang sangat kentara membuat Jihan tersenyum.

__ADS_1


Mark menghampiri kakaknya yang masih sibuk di dapur. "Assalamualaikum." Ucap pemuda itu memberikan kecupan sayang di pipi sang kakak. "Waalaikumsalam. Kenapa kamu di hubungi nggak bisa?" Cerocos Jihan bertanya secara bertubi tubi. "Em.... HP Aku lagi Aku matiin aja karna pengen fokus belajar." Jawabnya gugup. Jihan membalikkan tubuhnya menatap Mark dengan intens. Ia tau betul adiknya itu sedang berbohong. "Kakak sudah kenal kamu dari bayi ya. Jangan bohong." Ucapnya sambil bersedekap dada. Mark menghela napas. Ia akhirnya mengaku jika ponselnya sedang rusak karena tercebur dalam kolam beberapa hari yang lalu. "Nanti kita beli habis traweh." Ucap sang kakak membuat remaja itu membulatkan matanya. Jihan begitu dadakan dan spontan. "Kak." Keluhnya merasa tidak enak karena selalu merepotkan. "Uang kakak banyak. Jangan khawatir." ucapnya membuat Mark diam seketika.


Semuanya sudah duduk bersama dalam satu meja makan setelah sholat magrib berjamaah selesai dilaksanakan. "Kamu sendiri yang masak Dek?" Tanya Bunda memulai obrolan. "Iya. Nggak enak ya?" Semuanya dengan cepat menggeleng. "Enak Dek. Kita cuma khawatir kamu kelelahan saja." Ayah Jihan tersenyum menatap putrinya. "Pa. Papa sudah waktunya pensiun sekarang. Istirahat saja Pa." Jihan memberi nasihat membuat pria paruh baya itu mengangguk. "Iya. Papa nanti akan pensiun. Papa akan sibuk dengan berkebun saja." Jawabnya. "Papa sudah beli tanah untuk berkebun. Atas nama kamu. Sebagai hadiah kehamilan Putri Papa." Ucapnya. "Pa?" Jihan menatap pria di depannya dengan mata berkaca kanca. Tidak ada ikatan darah di antara mereka. Namun Papanya begitu loyal. Rumah, mobil bahkan tanah selalu di hadiahkan untuk Jihan. "Oh kemarilah. Jangan memberi tatapan Papa seperti itu." Pria itu merengkuh tubuh Jihan dan memeluknya dengan erat. "Terimakasih." Ucap Jihan tidak mungkin menolak karena takut papanya akan marah seperti yang dulu dulu. Orang lain bisa menjadi keluarga dan lebih dekat daripada dengan keluarga kandung sendiri. Pikir masing masing orang.

__ADS_1


Baru saja ingin masuk rumah namun Riza melihat Istrinya keluar lagi. "Eh...Mau kemana Dek?" Tanyanya melihat Jihan sudah membawa kunci mobil. "Mau ke Mall sebentar. Ponsel Mark rusak." Jawabnya. "Nggak bisa besok aja ya. Ini sudah malam lo. Angin malam nggak baik buat kesehatan." Riza mulai merayu agar tidak pergi. "Enggak. Sekarang belum malam. Masih jam 8." Kata Jihan sembari memperhatikan jam tangannya. "Yasudah sama Mas juga." Ucapnya dan Jihan mengangguk. "Ganti sarungmu dulu. Kita tunggu di mobil." Jihan berlalu pergi menuju ke mobilnya yang masih terparkir di halaman.


Jihan dan suaminya sedang menunggu Mark yang sedang memilih ponsel. "Haish .. Kamu lama. Yang ini saja lo. Samaan kaya punya kakak." Ucap Jihan menunjuk ponsel keluaran terbaru dengan lambang apel yang tak habis di makan itu. "Kemahalan kak." Keluh Mark tidak enak hati. "Mau yang ini Mas." Ucapnya sambil memberikan black card nya. "Laptop kamu masih ok?" Tanya Wanita itu tanpa menatap adiknya. "Masih." Jawab Mark. "Ini Nona. Terimakasih atas kunjungannya." Ucap pramuniaga sambil tersenyum menatap Jihan tanpa berkedip. "Sama sama." Riza yang menerimanya kemudian segera mengajak Jihan untuk pergi.

__ADS_1


"Kenapa manyun begitu?" Tanya Jihan memperhatikan adiknya dari spion tengah mobil. "Ini kemahalan kak." Ucap Mark karena tak enak mengurangi uang kakaknya puluhan juta hari ini. "Kakak buang ya kalo kamu ngomong gitu terus." Kesal Jihan. "Ya jangan dong." Mark memeluk Paper bagnya erat. "Yasudah jangan bawel." Jihan bersedekap dada sambil cemberut membuat suaminya gemas sendiri. "Makasih Kak." Ucap remaja itu mencondongkan tubuhnya ke depan kemudian mencium pipi kakaknya.


__ADS_2