
Pagi hari Riza begitu panik karena Jihan muntah muntah dan mengeluh pusing. "Jangan ngeyel Dek. Aku suruh anak anak panggil dokter dulu. Kamu tunggu sini." Ucap Pria itu bergegas pergi setelah mengecup kening sang istri.
"Jaffan." Panggil Riza tergesa gesa. "Ada apa Yah?" Tanya remaja itu ikut ikutan panik melihat Ayahnya. "Panggilkan dokter Dewi. Ibu muntah muntah sejak subuh tadi. Ayah mau bikin teh hangat dulu." Ia bergegas pergi setelah anaknya mengangguk.
__ADS_1
"Ustadz." Bibi terkejut melihat kedatangan suami majikannya yang tiba-tiba. "Mau bikin teh Bi." Kaya pria itu sembari mengambil mug dari lemari. "Biar Bibi yang bikinkan. Oh iya ustadz, Mbak Jihan dari tadi belum turun kenapa ya? Biasanya subuh sudah bikin sarapan." Tanya Bibi sambil mengaduk tehnya. "Muntah muntah sejak subuh tadi Bi. Nggak tau kenapa. Kita masih panggil dokter. Makasih ya Bi." Riza bergegas pergi sembari membawa teh yang sudah siap.
"Minum dulu." Ucap Riza duduk di samping sang istri. Disana sudah ada anak anak dan Papa mertuanya. "Nggak mau." Tolak Jihan. "Dikit aja Dek." Bujuknya tapi tetap mendapat jawaban yang sama. "Jihan kenapa lagi?" Tanya Dokter Dewi memasuki kamar. "Nggak tau dok. Dari subuh tadi muntah muntah kepalanya juga pusing." Jelas Riza. Wanita seumuran istrinya itu mengangguk kemudian segera memeriksa. "Jangan tatap aku seperti itu." Kesal Jihan sembari memalingkan wajahnya. "Sudah aku duga kamu tidak berhenti makan sembarangan. Sudah aku katakan tetap saja tidak mau dengar. Sekarang lambung kamu benar benar luka kan." Ucap dokter Dewi membuat mereka kebingungan. "Bagaimana dok?" Tanya Riza. "Ya...Sudah aku peringatkan tapi dia tidak menurut. Sebenarnya sudah terkena asam lambung 2 atau tiga bulan yang lalu. Belum parah tapi sekarang sudah parah gara gara minum kopi dan makan sembarangan." Jawab wanita itu sembari memasang infus di punggung tangan Jihan. "Sekarang nggak boleh makan yang kasar pedas dan pantangan yang lain yang sudah aku jelaskan ke kamu Ji. Duh pusing aku. Juga jangan minum kopi." Tegasnya. "Iya." Jawab Jihan. "Iya iya. Kalau dikasih tau masuk telinga kanan keluar telinga kiri." Kesalnya sembari menyerahkan resep obat untuk sahabatnya yang ngeyel itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak bilang sih Dek." Kata Riza sekarang telah tau Jihan menyembunyikan sakitnya. "Sudah. Nggak parah juga." Jawab wanita itu. "Nggak parah bagaimana. Sekarang jadi begini kan. Lambung kamu luka." Jawab Pria itu menahan kesal. "Juma kira Ibu hamil lagi." Kata Juma yang sedang tiduran memeluk Ibunya. " Takut banget punya adek." Jihan terkekeh. "Sudah tiga saja cukup Bu. Adanya Juma Ibu sudah melanggar saran pemerintah." Kata Jaffan. "Kenapa kalau Juma ada. Kakak nggak suka?" Tanya remaja itu menatap kesal. "Sudah jangan ribut. Biarkan Ibu istirahat." Tegur Kakek.
Anak anak sudah keluar. Tinggal Riza saja yang menemani istrinya. "Masih mual?" Tanya Pria itu sembari mengusap perut datar sang istri. "Sudah mendingan." Jawab Jihan. "Untuk kedepannya jangan minum kopi dan jangan makan yang aneh aneh lagi. Mulai sekarang Mas akan kontrol makan kamu. Nggak ada lagi jajan di luar. Aplikasi di ponsel kamu juga sudah Mas hapus." Kata Riza membuat Jihan membulatkan matanya. Bisa bisanya sang suami sekejam itu padanya. "Menganggur dong mesin pembuat kopi aku. Juga para pedagang di luar sana dan ojek online kasihan dong Mas." Kata Jihan mencari alasan yang membuat Suaminya ingin sekali tertawa keras. "Kamu nggak bisa bantah Dek. Harus menurut. Semuanya demi kebaikan kamu. Yang boleh masuk sini hanya makanan bergizi dan lembut." Kata Riza mengusap perut istrinya. "Sekarang tidur jangan banyak protes. Katanya kalau membantah suami itu dosa lo." Ia menyindir istrinya membuat wanita itu diam seketika.
__ADS_1
Siang hari Jihan sedang nonton film bersama anak anaknya. "Mau eskrim." Ucap wanita itu menarik lengan suaminya yang sedang duduk membaca di sofa. "Baru enakan perutnya sudah minta eskrim. Nggak boleh." Tegas pria itu. "Katanya makan yang lembut lembut. Eskrim kan lembut." Mereka menghela napas. Eskrim memang lembut. Tapi bukan begitu juga konsepnya. "Nggak." Jawab Riza tetap menolak. "Ayo dong Mas." Mulai merengek dia. "Hm. Iya." Jawab Pria itu bergegas pergi setelah mengecup kening sang istri.
Jihan makan eskrim bersama anak anak ditemani beberapa kukis coklat. "Enak banget ya?" Tanya Riza sembari mengelap eskrim di sudut bibir sang istri. "Enak." Jawab Jihan memasukkan lagi satu sendok ke dalam mulut. "Ibu mau nggak janji sama Juma?" Tanya Remaja itu. "Janji apa?" Jihan bertanya balik. "Ibu nggak akan punya anak lagi." Jawabnya membuat Jihan menatap putranya itu kesulitan. "Kalau Ibu punya anak lagi bagaimana?" Tanya Jihan membuat semua menatapnya serius.
__ADS_1