
Riza selesai Sholat Ashar berjamaah di mushola dekat rumahnya. "Ustadz." Panggil seorang pria berusia 40 an ikut mengimbangi jalannya. "Pak Amir." Riza tersenyum. "Besok jadi puasa nggak ya?" Tanyanya pada Sang Ustadz. "Tunggu sidang isbath nya pak. Nanti sore pasti sudah ada pengumuman." Jawab Riza. "Semenjak punya istri ustadz Segeran ya. Pulangnya cepet lagi." Kata Pak Amir menggoda karena melihat perubahan Riza. Saat membujang pria itu pasti menyempatkan untuk mengobrol. Tapi sekarang selesai sholat Riza langsung melesat pulang. "Iya dong pak. Dimasakin terus sama Istri. Kalau pulang cepet itu karna bawaanya kangen mulu." Jawabnya sambil terkekeh.
__ADS_1
Jihan, Riza dan Juga Mark selesai sholat magrib berkumpul di ruang tengah menunggu keputusan sidang Isbath yang di siarkan secara Live di TV. " Besok puasa." Kata Mark. "Iya. Kamu jangan ikut puasa dulu Dek. Lagi hamil." Riza menuturi istrinya. "Kenapa? Kata dokter boleh. Aku mau puasa." Nah lo, kalau sudah begini Riza tak mungkin berkutik lagi. Pria itu hanya bisa mengangguk menuruti Ibu negara meskipun ada rasa khawatir yang mengganjal di hati.
__ADS_1
Tiga orang sedang berjalan bersama menuju ke mushola terdekat. Riza sebenarnya tidak mengizinkan Jihan ikut traweh karna takut kelelahan. Namun apa daya jika wanita itu sudah berkata Riza tak bisa mengubahnya. "Kalau capek istirahat saja." Pesannya sebelum berpisah dengan sang istri. Jihan mengangguk kemudian segera bergabung di bagian shaf wanita.
__ADS_1
Jihan sampai rumah langsung menghampiri Mark yang sudah bersantai sambil menonton. "Jangan malem malem tidurnya. Kalau kamu susah di bangunin pas sahur. Awas saja." Ucap sang kakak membuat remaja itu tersenyum. "Iya kakakku yang bawel. Nanti jam 10 aku sudah tidur kok. Kakak tenang saja." Jawabnya. "Kamu bilang kakak apa?" Jihan berkacak pinggang. "Bawel. Tapi cantik dan baik juga." Mark sudah mendaratkan bibirnya dengan mulus di pipi Jihan membuat wanita itu kesal. "Jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya tambah lo." Teriaknya sambil menatap punggung Jihan yang mulai menaiki tangga.
__ADS_1
Riza langsung menghampiri istrinya di kamar setelah mengunci semua pintu dan jendela. "Mas gemukan ya Dek?" Tanya Riza sambil melepaskan baju koko dan sarung hanya menyisakan celana boxernya saja. Pria itu kemudian duduk di samping sang istri sambil bersender manja."Lah kamu itu gimana. Orang yang punya badan kamu kok malah tanya aku." Jawab Jihan ada benarnya juga tapi juga tidak benar membuat suaminya gemas. "Ah...Masa jawabnya begitu." Nah kan, sekarang pria itu mulai merengek membuat Jihan sebal. "Nggak gemuk. Cuman agak berisi aja. Dulu kan kurus." Jawab wanita itu pada akhirnya agar sang suami segera berhenti. "Berarti Mas gemukan pada intinya." Sekarang dia berkata begitu. Jihan malas harus meladeninya lagi. Sikap Riza benar benar seperti seorang wanita yang begitu memusingkan berat badannya. "Kenapa begitu saja kamu pikirkan sih. Kalau mau bagus badannya, mau sixpack ya pergi ke gym sana." Ucap Jihan memberi saran. "Kamu sukanya laki laki yang perutnya kotak kotak begitu ya. Jadi kalau seperti aku ini kamu ngga suka." Loh. Riza mulai membuat kesimpulan sendiri padahal sang istri hanya berucap saja. Kenapa dimasukkan ke hati. Jihan terpaksa harus membuat suaminya berhenti sebelum Ia mengeluarkan kata kata pedasnya. "Bukan begitu Mas. Kamu nggak gemuk kok. Tapi nggak sixpack juga. Pada intinya proporsional. Kalau memang kamu gemuk pasti perut kamu ini tidak rata seperti sekarang." Ucapnya sambil meraba perut Riza membuat pria itu memejamkan mata keenakan mendapat sentuhan dari sang istri. "Jadi jangan ganggu aku." Ucapnya sembari mencubit perut suaminya. "Aw...Dek. Kamu sudah buat punya Mas berdiri tidak mau tanggung jawab." Riza menyusul istrinya ke ranjang.
__ADS_1