Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 100


__ADS_3

"Ayo bangun. Saya sudah menyiapkan sarapan untuk kamu." ucap Mile. Tiara perlahan bangun.


Dia melihat bubur buatan suami nya.


Tiara turun dari tempat tidur berjalan ke kamar mandi. Mile tersenyum dia merasa sangat senang. Senyuman tipis tak kunjung hilang dari wajah nya.


Tidak beberapa lama Tiara keluar dari kamar mandi dia memeriksa ponsel nya. Dia membalas pesan Alisa terlebih dahulu dan setelah itu duduk di kasur memakan sarapannya.


Mile keluar dari kamar itu. Dia memeriksa beberapa makanan di dapur. Namun dia melihat Susu untuk Tiara sudah habis. Ternyata stok yang di bawa sudah habis.


Tiara di kamar menghabis kan bubur yang di buat oleh suami nya


Saat mau menyimpan piring kotor nya dia merasa ada yang aneh dengan jari nya. Dia melihat nya. Tiara baru sadar ternyata cincin berlian sudah ada dua di tangan nya.


Dia sudah bisa menebak itu dari Mile. Karena beberapa hari yang lalu saat berkemas dia tidak sengaja menjatuhkan kotak cincin dari jas Suami nya.


Dia berfikir itu untuk Jenny. Itu sebabnya dia sangat khawatir ketika suami nya pergi keluar menemui Opah.


Tiara tersenyum sambil mengelus cincin itu.


"Mile." panggil Tiara saat keluar. Namun Mile tidak ada di luar. Dia mencari keseluruhan ruangan namun tidak ada.


"Loh dia kemana?" ucap Tiara. Dia menelpon suami nya.


"Halo. Ada Apa?" tanya Mile.


"Kamu di mana?" tanya Tiara.


"Saya keluar sebentar membeli keperluan dapur dan juga Susu untuk kamu." ucap Mile. Panggilan langsung mati.


Tiara menghela nafas panjang.


"Huff kenapa aku dengan Mile kebalik yah? Seharusnya aku yang keluar untuk membeli keperluan dapur dan juga kepentingan ku sendiri. Kalau seperti ini aku tidak Akan mengerti apapun." ucap Tiara.


Tidak beberapa lama Mile kembali. Tiara melihat Mile pulang dia langsung membantu membawa barang-barang suami nya ke dalam.


"Seharusnya kalau belanja seperti ini, kamu harus membawa ku, aku juga ingin pandai." ucap Tiara.


"Dalam kondisi yang cepat sekali Lelah dan sakit saya tidak akan membiarkan kamu melakukan ini sendirian. Karena saya yang pasti kerepotan karena kamu." ucap Mile.


"Humm kamu sendiri yang bilang jadi wanita harus bisa di andalkan jangan selalu menyusahkan orang lain." ucap Tiara.

__ADS_1


"Kamu tidak menyusahkan saya sama sekali. Yang kamu kandung adalah anak saya. Ini sudah kewajiban saya." ucap Mile.


Tiara mengikuti Mile ke dapur.


"Oh iya nih cemilan untuk kamu." ucap Mile memberikan cemilan untuk Tiara. "Lalu yang itu untuk Siapa?" tanya Tiara melihat jajanan yang banyak.


"Itu untuk saya, kamu tidak bisa memakan itu." ucap Mile. Tiara menghela nafas panjang. Mile tersenyum melihat ekspresi Tiara.


Dia mencuci buah-buahan yang di beli oleh nya, namun tiba-tiba Tiara memeluk Mile dari belakang.


"Kamu memasang kan Cincin ini tadi malam di jari ku Secara diam-diam yah?" ucap Tiara.


Mile melihat jari istri nya.


Dia hanya diam.


"Aku sangat suka. Terimakasih." ucap Tiara. Mile tersenyum.


"Oh iya kamu kok bisa sih tau ukuran jari tengah ku?" ucap Tiara. "Saya hanya menebak nya ." ucap Mile.


"Humm jangan-jangan kamu diam-diam juga mengukur jari ku." ucap Tiara.


"Suami aku sosweett banget sih." ucap Tiara memeluk Mile begitu erat. "Kalau begitu aku mau mandi dulu. Bye suami ku." ucap Tiara.


"Dia sungguh pandai menggoda ku." ucap Mile.


Setelah selesai merapikan belanja yang dia beli dia duduk di ruang tamu sambil memangku laptop nya.


Di tempat lain Alisa membaca pesan dari Tiara.


"Huff ngapain sih Tiara selalu meminta ku untuk datang melihat pak Rafi? dia sudah baikan lagian ada mbak Enjel menemani nya." ucap Alisa.


"Alisa." panggil Tita. Dia datang ke tempat bagian kerja Alisa.


"Eh Mbak tita. Ada apa mbak?" tanya Alisa.


"Tadi Tante Tiara memesan sama kamu untuk datang menemui Kak Rafi di apartemen nya. Mungkin ada sesuatu yang penting, lebih baik kamu pergi." ucap Tita.


"Tapi Mbak." ucap Alisa.


"Gak apa-apa Alisa, saya akan berbicara pada atasan kamu nanti." ucap Tita.

__ADS_1


Akhirnya Alisa menginyakan dia pun pamit. Mau bagaikan pun dia harus menghormati perintah dari atasan nya itu.


Alisa ke apartemen Rafi. "Huff sebenarnya aku sangat malas ke sini." ucap Alisa. Dia menghela nafas sambil menekan Bel.


Tidak beberapa lama pintu terbuka.


"Akhirnya kamu datang juga." ucap Rafi melihat Alisa.


"Apa yang perlu pak? Saya sedang bekerja." ucap Alisa.


"Masuk dulu." ucap Rafi pada Alisa.


Alisa masuk.


"Kenapa kau memblokir nomor saya? kamu sudah janji untuk menemani saya di rumah sakit sampai sembuh, bukti nya kamu sendiri yang melanggar janji itu." ucap Rafi.


"Aku tidak ingin menjadi penghancur hubungan bapak dengan mbak Enjel." ucap Alisa. Tiba-tiba Rafi mendorong Alisa.


"Aku sudah bilang kalau aku hanya mencintai kamu, aku mencintai kamu bukan Enjel. Saya tidak bisa mengutarakan nya karena orang tua." ucap Rafi.


Alisa menepis tangan Rafi dari bahu.


"Sekarang apa yang bapak perlukan?" ucap Alisa.


"Saya butuh kamu, saya butuh kamu disini bersama saya." ucap Rafi memeluk Alisa.


"Tidak seharusnya bapak seperti ini." ucap Alisa. Namun Rafi tidak melepaskan Alisa. "Saya tau kamu juga mencintai saya kan?" ucap Rafi langsung mencium bibir Alisa. Namun Alisa tidak mau. Dia berontak namun Rafi Terus memaksa nya dia tidak perduli Alisa yang menangis karena dia.


Dia seperti hilang akal sehatnya. Dia mencium Alisa bahkan sampai Bibir nya terluka karena Rafi.


"Lepaskan aku, aku gak mau, aku membenci Bapak." ucap Alisa. "Kamu adalah milik ku, kamu tidak akan bisa kabur dari ku." ucap Rafi. Alisa berhasil melepaskan diri namun saat mau membuka pintu ternyata pintu terkunci.


"Kamu tidak bisa kemana-mana, kamu adalah milik saya." ucap Rafi mendekati Alisa namun Alisa menghindari dia tidak mau di dekati oleh Rafi.


"Berikan kunci nya, aku mau pergi, aku mohon." ucap Alisa. Rafi mengeluarkan kunci dari sakunya.


"Kamu bisa mengambil nya di sini." ucap Rafi kembali memasuk kan ke dalam Saku celana ketat nya.


Alisa mendekati Rafi mau mengambil kunci namun tiba-tiba Rafi menahan tangan nya. Dia menggendong Alisa ke dalam kamar nya.


"Aku mohon pak, lepas kan aku." ucap Alisa. namun Rafi Sama sekali tidak perduli, dia tidak akan mau kehilangan Alisa lagi. Karena setelah itu Alisa tidak Akan mau menemui nya lagi.

__ADS_1


Dia mengikat Alisa di kamar nya.


"Maafin aku, kamu yang membuat ku seperti ini." ucap Rafi mengelus Rambut Alisa.


__ADS_2