Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 240


__ADS_3

Kin tiba-tiba teringat di waktu pertama kali menyentuh Tiara, itu menjadi penyesalan bagi nya. setelah bayi itu berhasil minum dia merasa lega walaupun sedikit canggung sekali.


Setelah selesai minum Kin mengendong anak itu biar dia bisa tidur. Namun sudah lama di gendong namun dia tak kunjung tidur.


Kin membawa bayi itu ke kamar Sisi.


"Loh kamu gak tidur?" tanya Kin melihat Sisi.


Sisi menggeleng kan kepala nya.


"Aku kebangun karena tuan keluar." ucap Sisi.


Kin mendekati nya, Sisi Bing melihat Kin membawa bayi Tiara ke kamar nya.


"Kenapa Tuan membawa nya ke sini? Bagaimana kalau Ibu nya marah?" tanya Sisi.


"Enggak kok, ibu nya sudah tidur, dia pasti kelelahan sekali, lagian bayi ini terus bergadang setiap malam." ucap Kin. Sisi melihat wajah bayi itu.


"Dia sangat mirip sekali dengan Tuan." ucap sisi.


"Siapa kah namanya?" tanya Sisi. Kin diam. Sisi menatap wajah kin.


"Kenapa Tuan diam? Aku bertanya siapa nama bayi Ini?" tanya Sisi.


"Biarkan suami Tiara yang memberikan dia nama, mau bagaimana pun saya harus menghargai dia yang sudah menerima Tiara dan juga menjaga nya Selama ini." udah Kin.


"Apa Tuan tidak ingin anak ini bersama Tuan?" tanya Sisi.


"Saya sangat ingin dia bersama saya. Namun dia memiliki Ibu dan Ayah yang jauh lebih sayang pada nya. Saya juga tidak ingin karena ini Tiara dengan suami nya ribut." ucap Kin.


Sisi tersenyum. "Aku selalu suka Tuan yang berfikir dewasa, tidak egois dan juga selalu menjadi orang yang penyayang." ucap Sisi.


"Kamu bisa saja." ucap Kin.


"Wanita yang menjadi istri Tuan kelak pasti akan sangat beruntung sekali." ucap Sisi.


Kin tersenyum. "Apa kah kamu mau mencoba menjadi wanita yang beruntung itu?" ucap Kin.


"Huff Tuan jangan membuat aku sakit hati lagi, aku tidak mau bercanda." ucap sisi.


Kin tertawa.


"Apa kamu mau mengendong nya?" tanya Kin. melihat dari tadi Sisi memandangi Bayi itu.


"Tapi aku tidak bisa Tuan, aku takut kenapa-napa." ucap Sisi.


"Tidak apa-apa, dia kalau di gendong tidak bergerak-gerak kok." ucap Kin.


Sisi tersenyum dia pun mengendong nya. Dia tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sudah cocok jadi seorang ibu." ucap Kin.


Sisi hanya tersenyum saja.


Sisi membantu Kin menjaga bayi itu malam ini. Dia tau kalau Kin kecapean dia pun menjaga nya agar Kin bisa tidur.


Setelah sekitar jam satu malam Bayi sudah tidur dengan nyenyak, sisi memindahkan ke kamar Kin.


Tiara terbangun.


"Loh kok kamu yang menjaga nya? Kin kemana?" tanya Tiara.


"Oohh Tuan Kin sudah tidur Mbak." ucap Sisi.


"Seperti nya dia kelelahan, makasih yah sudah mau menjaga Anak saya." ucap Tiara.


Sisi tersenyum sambil mengangguk.


"Bagaimana keadaan mbak sekarang?" tanya Sisi. Dia berfikir kalau Tiara akan Judes kepada nya namun nyatanya tidak.


"Kin merawat saya cukup baik sehingga saya cepat sembuh" ucap Tiara. Sisi tersenyum.


"Kamu yang bernama Sisi kan?" ucap Tiara. "Mbak kok bisa tau?" tanya Sisi.


"Saya tau lah. Kin tidak berhenti melihat foto kamu, dan juga tidak berhenti menceritakan kamu kepada saya. Dia selalu bilang kangen sama kamu." ucap Tiara.


Sisi terdiam.


"Hanya sekadar antara pelayan dengan Tuan kok Mbak. Mbak jangan berfikir yang tidak-tidak." ucap Sisi.


Tiara tersenyum.


"Seperti nya Kin menyukai kamu. Kamu juga kelihatan nya menyukai dia, sebaiknya saling jujur saja." ucap Tiara.


"Tidak mungkin Mbak, itu mungkin hanya perasaan mbak Saja. Dari dulu sampai sekarang Tuan Kin selalu suka sama mbak." ucap Sisi.


"Itu dulu, namun sekarang tidak lagi." ucap Tiara. Sisi terdiam.


"Kin memang melakukan kesalahan di masa lalu kepada saya. Namun bukan berarti dia orang jahat. Kin adalah orang yang baik." ucap Tiara.


Sisi terdiam. "kamu tenang saja, saja sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Kin. Karena anak dia yang ada pada ku itu sebab nya kami dekat. Semua Masalah antara kami berdua sudah selesai kamu tidak perlu ragu kepada dia." Tiara.


"Aku tidak pantas bersanding dengan Tuan Kin, kasta kita sangat berbeda jauh." ucap Sisi.


"Saran saya kalau cinta, bilang cinta. Karena cinta tidak pernah memandang apapun. Kekayaan, fisik atau sifat." ucap Tiara.


Sisi tersenyum. "Kamu paham kan apa yang saya katakan?" ucap Tiara. Sisi Menganguk.


"Ya udah kalau begitu sebaiknya kamu istirahat saja. Saya dengar kamu masih kuliah. Sekali lagi terima kasih sudah mau mengantarkan anak saya ke sini." ucap Tiara.

__ADS_1


Sisi Menganguk. Sisi keluar dari kamar itu.


"Pantesan saja tuan Kin suka pada mbak Tiara. Mbak Tiara cantik, lembut dan juga berbicara dengan lembut." ucap Sisi. Di masuk ke kamar dan tidur di samping Kin.


"Kamu dari mana?" tanya Kin membawa Sisi ke dalam pelukannya. Sisi hanya diam karena dia tau Kin setengah sadar dan setelah itu langsung tidur.


Mereka berdua pun tidur dengan sangat nyenyak.


Keesokan paginya...


Tiara bangun lebih awal dia membuka Gorden agar udara masuk. Anak nya juga sudah bangun.


"Wahh pemandangan di sini sangat sejuk sekali." ucap Tiara.


"Good morning anak papah." Kin tiba-tiba datang dan melompat ke tempat tidur. Si Bayi melihat papah nya dia hanya tersenyum.


Tiara melihat Sisi datang membawa kan sarapan untuk Dia.


"Ini sarapan untuk Mbak, kata ibu ini bagus untuk wanita yang sedang menyusui." ucap Sisi.


Tiara tersenyum. "Terimakasih yah." ucap Tiara.


"Kalau begitu saya permisi keluar." ucap sisi.


"Apa kamu tidak bisa libur hari ini? Kamu sudah berjanji akan menemani saya mengantar kan Tiara pulang." ucap kin.


"Aku tidak bisa melewati kelas ku Tuan." ucap sisi.


"Kamu berapa jam di kampus?" tanya Tiara.


"Hanya satu Jam Mbak. Jam sembilan aku sudah pulang." ucap Sisi.


"Sebaiknya aku pulang jam sebelas saja Kin," ucap Tiara. "Kamu gak apa-apa?" tanya Kin. "Enggak kok, aku juga ingin Sisi ikut." ucap Tiara.


"Oohh ya udah kalau begitu tidak apa-apa, kamu berangkat saja." ucap Kin. Sisi Menganguk.


"Huff kamu terlalu mengekang dia!" ucap Tiara pada Kin.


Kin hanya tersenyum.


"Apa dia sudah mandi?" tanya Kin.


"Belum, aku akan memandikan dia setelah Selesai makan." ucap Tiara.


"Kalau begitu saya akan membuat air mandi yang hangat untuk dia." ucap Kin. Tiara menganguk.


"Ya Allah apa nanti Mile bisa menerima anak ku? Apa nanti dia bisa seperti Kin yang selalu siap di repot kan 24 jam." batin Tiara.


Air mata nya tidak terasa keluar, jantung nya berdebar cepat ketika mengingat dia akan bertemu keluarga suami nya, dan juga suami nya.

__ADS_1


__ADS_2