
"Oh iya Tuan ini Nasi kuning untuk Tuan." ucap Ibu sisi.
"Nasi kuning ini buatan Sisi, tapi mungkin dia lupa itu sebab nya saya saja yang memberikan nya pada Tuan. Selamat ulang tahun ya tuan." Kin tersenyum dia mengucapkan terimakasih.
Tidak beberapa lama setelah selesai makan Kin lewat dari depan kamar Sisi. Di mengetuk pintu.
"Masuk saja Bu, Pintu nya tidak di kunci." ucap Sisi dari dalam.
Kin masuk dan ternyata Sisi lagi tidur. Melihat Kin masuk Sisi langsung duduk.
"Kenapa Tuan ke sini?" tanya Sisi. "Justru saya yang harus bertanya kenapa kamu di kamar dan tidak membantu ibu kamu?" tanya Kin.
"Aku ingin belajar." ucap Sisi. Kin Menghela nafas panjang. Dia duduk di pinggir kasur di depan Sisi.
"Sebaiknya Tuan keluar, bagaimana kalau ada orang yang melihat. Mereka akan salah paham." ucap Sisi.
"Ini adalah rumah saya, termasuk kamar ini adalah milik saya." ucap Kin.
"Kalau begitu aku yang akan keluar." ucap Sisi menurunkan kaki nya namun tiba-tiba Kin menahan tangan Sisi.
"Lepaskan saya Tuan." ucap Sisi. "Saya minta maaf sudah berbicara dengan kasar Sama kamu." ucap Kin. Sisi terdiam.
"Tidak biasa nya kamu keras kepala dan memaksa seperti itu, kepala saya juga sangat pusing itu sebab nya saya menaikkan nada berbicara saya." ucap Kin.
"Untuk apa tuan meminta maaf pada ku? Aku hanya anak pembantu, Justru aku yang harus meminta maaf sudah menganggu tuan." ucap Sisi.
"Kamu tidak mengganggu saya, saya sama sekali tidak merasa di ganggu." ucap Kin. "Sebaiknya Tuan keluar dari sini, saya tidak ingin jadi buah bibir orang lain." ucap Sisi.
"Apa kamu marah kepada saya?" tanya Kin lagi.
"Saya tidak marah kepada Tuan. Say tidak memiliki hak untuk marah." ucap Sisi.
"Kalau kamu tidak marah kamu tidak akan mengusir saya dari sini, biasa nya saya bisa keluar masuk dari kamar ini." ucap Kin.
Sisi menghela nafas panjang. "Aku bukan marah Aku hanya sedikit kecewa karena tuan tau sendiri aku membuat pidato ini karena Tuan. Tuan yang meminta ku untuk ikut lomba ini." ucap Sisi.
"Baiklah-baiklah saya akan datang. Tapi saya tidak bisa lama-lama di sana." ucap Kin.
__ADS_1
"Tuan serius?" tanya Sisi senyuman nya kembali, dia juga sudah mau menatap Kin.
"Iyah." jawab Kin. Sisi sangat senang sekali. "Aku tidak sabar menunggu esok." ucap Sisi.
"Kamu seperti anak kecil saja." ucap Kin mencubit pipi Sisi.
"Ya udah Tuan harus segera keluar dari sini, ini sudah larut malam, semua orang juga sudah tidur..Tuan juga harus segera tidur." ucap Sisi.
"Saya terlalu malas kembali ke kamar saya. Apa saya boleh tidur di sini bersama adik kesayangan saya ini?" tanya Kin.
Kin langsung berbaring di samping Sisi.
"Tuan tidak bisa di sini." ucap Sisi.
"Kenapa? Apa kamu takut saya akan macem-macem?" tanya Kin.
Sisi terdiam. Kin langsung duduk.
"Saya hanya bercanda. Saya tidak meniduri orang yang bekerja dengan saya apa lagi anak pembantu saya." ucap Kin turun dari kasur.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Kin. "Tidurlah dengan saya." ucap Sisi lagi.
"Jangan berbicara seperti itu Sisi! Saya hanya bercanda. Kamu tau sendiri saya seperti apa. Kalau saya ingin saya bisa membayar wanita lain seperti biasa." ucap Kin.
"Tapi saya serius tuan. Saya dan ibu saya memiliki banyak hutang Budi kepada tuan. Mulai saya dari kecil keluarga tuan sudah banyak membantu. Dan Sekolah SMA serta masuk ke universitas terbaik adalah uang Tuan." ucap Sisi.
"Saya tidak bisa membayar itu dengan uang karena saya tidak memiliki uang. Lebih baik tuan menyimpan uang tuan menyewa wanita dan tidur lah dengan ku." ucap Sisi.
Kin mendekati Sisi.
"Apa kamu serius?" tanya Kin dengan suara yang begitu berat tepat di telinga Sisi.
"Aku sudah memikirkan ini cukup lama Tuan. Tapi saya tidak ingin ibu saya tau." ucap Sisi. Kin mengelus Lengan Sisi.
Kin juga mencium leher Sisi dengan sangat lembut.
"Tunggu Tuan." Sisi menahan Kin.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu takut? Apa kamu pikir saya tidak tergoda? Saya sangat tertarik dengan perempuan yang sangat masih perawan." ucap Kin.
Mendengar itu Sisi sangat takut. "Pintu belum di kunci." ucap Sisi. Dia mau pergi mau menutup nya namun di tahan oleh Kin.
"Jangan konyol Sisi! Jangan bodoh sebagai perempuan! Saya tidak pernah meminta lagi apa yang saya berikan kepada orang lain. Dan yang kamu lakukan ini adalah suatu kesalahan yang membuat saya marah!" ucap Kin.
Sisi kaget. "Saya meminta kamu untuk menjaga diri bukan untuk saya Tapi untuk kamu sendiri..Kamu harus bisa menghargai diri kamu sendiri agar pria lain menghargai kamu." ucap Kin.
Sisi terdiam. "Saya tidak ada pilihan lain Tuan." ucap Sisi.
"Saya tidak menuntut apa pun dari kamu, saya hanya meminta kamu agar kuliah dengan baik." ucap Kin.
Sisi terdiam. "Sudah lah kamu istirahat saja. Saya akan keluar." ucap Kin. Sisi membiarkan Angga keluar dari kamar nya.
Kin di kamar nya kembali menghubungi semua orang nya namun tidak ada satu pun yang memberikan informasi.
Dia semakin pusing dan juga mengkhawatirkan keadaan Tiara sekarang.
Sementara di tempat lain.. Tempat yang begitu sunyi gelap Tiara terbangun di atas tempat tidur yang memiliki busa sangat tipis sehingga pinggang nya terasa sangat sakit sekali.
"Aarrr.. Aku ada di mana ini?" Tiara mencoba menggerakkan tubuhnya yang sangat sakit namun ternyata tidak bisa di gerak kan sama sekali.
Tangan nya di rantai, kaki nya begitu erat sehingga dia tidak bisa bergerak sedikit pun.
Tiara mencoba mengingat lagi apa yang terjadi pada namun dia sama sekali tidak ingat. Kepala nya begitu pusing sekali.
Tiba-tiba Cahaya lampu hidup dari luar. Tidak beberapa lama lampu di kamar juga hidup. "Ternyata kamu sudah bangun." ucap wanita yang baru saja masuk.
Tiara Tidak bisa melihat jelas wajah siapa yang di depan nya karena cahaya lampu yang kurang terang.
Intinya Tiara bisa melihat kalau di wanita yang cantik, pakaian nya rapi dari belakang ada dua pria yang berbadan besar mengawal nya.
Seperti nya itu adalah bodyguard nya. "Siapa kau? Kenapa kau menangkap ku?" tanya Tiara. Wanita itu hanya tertawa saja.
"Kamu tidak perlu takut. Saya hanya memberikan pelajaran saja pada Suami dan mertua kamu." ucap wanita itu.
"Lepaskan aku! Suami ku akan datang menangkap'mu!" ucap Tiara dengan lantang.
__ADS_1