
Yang membuat nya bingung adalah satu hari yang lalu dia mendapatkan surat di ruangan kerjanya.
"Anak itu adalah anak ku, suatu saat nanti aku akan mengambil nya dan juga mengungkap kebenaran." isi surat yang membuat Mile langsung mengerti kalau yang mengirim itu adalah pria yang menghamili istri nya.
"Arghhhh!!!!" Mile sangat marah dia melempar kan botol minuman ke bawah yang Masih berisi.
"Ini membuat ku gila!" ucap Mile.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Mile menoleh ke arah pintu kamar nya. "Siapa itu?" tanya Mile.
"Saya mendengar suara teriakan Den, apa den baik-baik saja?" tanya Bibik. "Saya baik-baik saja. bik." ucap Mile.
"Non Tiara bertanya apa kah den di sini. Saya harus menjawab apa den?" tanya Bibik.
"Katakan saya tidak ingin di ganggu!" ucap Mile.
"Baik Tuan." ucap Bibik Ja, dan setelah itu dia pun pergi meninggalkan pintu kamar Mile.
"Tiara!! Kenapa kamu melakukan ini kepada ku? Kamu membuat aku hancur, pusing dan bingung harus bersikap bagaimana sekarang!" ucap Mile.
Dia duduk di lantai menatap langit.
"Mamah..Di saat aku marah seperti ini kau Akan datang menenangkan ku. Sekarang Kau ada di Mana?" tanya Mile air mata nya menetes.
"Aku ingin sekali bertemu dengan mamah, aku mohon kembali mah." batin Mile. Tidak beberapa lama dia ketiduran di lantai, terkena angin malam.
Keesokan harinya Tiara bangun dia merasa badan nya terasa sangat pegal sekali. Dia baru sadar ini sudah jam sebelas siang.
Tiara melihat ke atas tempat tidur.
"Mile belum pulang?" ucap nya dengan suara yang sangat lesu. Tiba-tiba dia mual dengan cepat dia langsung ke kamar mandi.
"Perut ku sakit sekali." ucap nya. Tidak beberapa dia keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi. Berpakaian dengan rapi merias wajah nya agar tidak terlihat pucat.
Dia keluar dari kamar namun merasa aneh karena rumah itu terkesan sangat sepi sekali.
"Non Tiara sudah bangun?" ucap Bibik Ja. Tiara terkejut karena Bibik Ja yang datang tiba-tiba.
"Iyah Bik." ucap Tiara.
__ADS_1
"Hari ini Non Tiara di panggil ke rumah Tuan Daniel." ucap Bibik Ja. Tiara kaget.
Jantung nya seakan darah berhenti mengalir sebentar dan jantung nya berdetak begitu cepat .
"Masalah Apa bik? Apa papah sama Mamah sudah mendengar tentang hal ini?" tanya Sophia.
"Saya tidak tau non." ucap Bibik Ja. Tiara terlihat sangat cemas sekali.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?" ucap Tiara.
"Sebaiknya non Tiara ke sana terlebih dahulu, mereka sudah menunggu Non dari pagi." ucap Bibik Ja.
"Ya udah Kalau begitu buat kan aku susu dulu yah bik agar perut ku terisi." ucap Tiara. "Baik non." Bibik Ja membuat kan Susu sementara Tiara mengambil Tas dan juga ponsel nya ke kamar.
Tidak beberapa lama dia sudah mau sampai di rumah mertua nya.
"Ya Tuhan semoga saja tidak terjadi apa-apa, aku tidak kena marah." sepanjang perjalanan Tiara berdoa agar Mertua nya tidak marah, namun hal itu percuma saja.
Mustahil mertua nya tidak marah mendengar kalau menantu pertama nya akan membuat nama baiknya tercoreng. Dan juga Cucu yang sudah di tunggu-tunggu bukan Cucu kandung nya.
mobil yang di naikin Tiara sudah berhenti di depan rumah Mertua nya. Tiara turun dari mobil dan melihat mobil Keponakan Suami nya di sana semua nya.
"Mah." panggil Tiara karena hanya melihat mertua perempuan nya yang ada di sana.
Bu Vina yang menonton TV melihat Tiara datang dia sangat senang langsung tersenyum.
"Mamah sudah menunggu kamu dari tadi. Kenapa sangat lama?" tanya Bu Vina.
"Aku bangun kesiangan mah, aku tidak bisa tidur." ucap Tiara. "Ya ampun pasti hamil muda sangat menyiksa kamu kan?" ucap Bu Vina. Tiara tersenyum.
"Ya udah duduk dulu yok. Wajah kamu pucat, badan kamu juga hangat." ucap Bu Vina. Tiara menginyakan.
"Papah mana mah?" tanya Tiara.
"Mereka lagi ada meeting di ruangan papah sama rombongan Vandi." ucap Bu Vina. "Oohhh." ucap Tiara.
"Tiara kamu sudah sampai?" tiba-tiba Pak Daniel datang membuat Tiara gugup. Melihat wajah dingin dan terlihat sangat menakutkan.
"Iyah Pah." ucap Tiara menyalim tangan Mertua nya.
__ADS_1
Tiara heran karena mereka sangat senang Tiara datang. Pak Daniel bahkan mengelus kepala nya.
Tiara melihat ke arah Keponakan suami nya. Mereka tidak ada yang tersenyum sama sekali kepada nya.
"Kakek kami langsung kembali ke kantor yah, masih ada kerjaan." ucap Lena. mereka menyalim tangan Bu Vina dan Pak Daniel setelah itu pergi tanpa menegur Tiara.
"Tante datang bersama siapa?" tanya Vandi yang tinggal di sana. Dia harus bisa menghargai Tante dan juga Kakek nya.
"Sendirian saja sama dokter." ucap Tiara. "Oohhh.."
"Tadi Om Mile bilang kalau dia belum bisa pulang hari ini, ada pekerjaan yang harus di selesaikan, Tante tidak perlu mengkhawatirkan dia." ucap Vandi.
Sebenarnya Mile tidak ada memberikan kabar apapun namun Vandi hanya ingin membuat Tiara tenang.
"Bagaimana sih suami seperti Mile? Bisa-bisa nya dia pergi tanpa mengingat istri nya sedang hamil." ucap Bu Vina.
"Dia pergi karena tanggung jawab nya. Lagian banyak yang menjaga Tiara di sini." ucap Pak Daniel.
Cukup lama mereka berbincang-bincang Tiara di ajak oleh Vandi untuk pergi dari sana.
Dia tau Kalau Tiara tidak nyaman. Dan juga Vandi tidak ingin membuat Kakek Nenek nya curiga.
Di dalam mobil Tiara duduk di samping Vandi yang menyetir mobil.
"Apa benar ini adalah mantan Tante?" tanya Vandi sambil menunjuk kan Foto yang di dalam ponsel nya. Tiara melihat nya.
"Dari mana kamu mendapatkan foto ini? Dari mana juga kamu tau dia adalah mantan Tante?" tanya Tiara.
"Bilmar adalah teman lama ku, kami tidak begitu dekat namun aku cukup tau tentang dia." ucap Vandi.
Tiara sangat malu. "Aku juga tau karena dia selingkuh Tante sakit hati dan memutuskan untuk mabuk sehingga tidak sadar di bawa oleh pria lain." ucap Vandi.
"Tante tidak ingin membahas itu, sekarang Mile sudah marah pada Tante, apa yang harus Tante lakukan?" ucap Tiara.
"Aku tidak tau harus memberikan saran apa Tan, tapi sebaiknya Tante tenang memikirkan kesehatan Tante terlebih dahulu." ucap Vandi.
"Apa kamu bisa mengantar kan Tante ke tempat Mile?" tanya Tiara. Vandi menggeleng kan kepala nya.
"Ketika Om Mile mengatakan dia ingin sendiri dia ingin sendiri Tampa di ganggu oleh siapapun." ucap Vandi.
__ADS_1