
"Tadi aku tidak sengaja bertemu pas di luar." ucap Tiara. "Say sudah bilang kalau teman kamu satu pun tidak ada yang baik, lebih baik kamu tidak perlu bergaul dengan mereka!" ucap Mile.
Tiara hanya diam saja. "Tidak mungkin aku beri tahu tentang Rino yang selalu membuat ku kesal, ini akan membuat dia salah paham." batin Tiara.
"Ya udah aku minta maaf karena sifat ku membuat kamu tidak nyaman." ucap Tiara. Mereka pun lanjut makan.
"Loh kok kita cuman berdua aja? Yang lain pada kemana?" tanya Mile. Tiara melihat rumah itu terlihat sangat sepi.
"Mungkin mereka sudah ketiduran di kamar masing-masing." ucap Tiara.
"Oohh begitu." ucap Mile. Tidak beberapa lama setelah selesai makan seperti biasa Tiara langsung ke kamar sementara Mile duduk di ruang tamu.
Bili tiba-tiba menelpon nya. Mereka berbicara panjang lebar di sofa ruang tamu itu.
Tiara di kamar nya sedang berbaring. Namun dia lagi-lagi kefikiran tentang jam tangan yang ada di tas nya.
"Lebih baik aku menyimpan itu, jangan sampai Mile tau kalau jam itu Masih ada di tas ku." ucap Tiara.
Dia membongkar Tas nya. "Loh satu lagi mana foto nya?" batin Tiara. Dia terus mengobok-obok Tas nya namun tak kunjung mendapatkan nya.
"Jangan bilang kalau foto itu jatuh, tidak mungkin." ucap Tiara.
"Aku memastikan kalau semua nya ada di tas ku." Tiara sudah sangat deg-degan sekali. Dia mencari di tas lain nya, di saku baju atau di dompet namun tidak ada.
"Kemana foto itu?" ucap Tiara. Namun tiba-tiba Mile masuk dia menyimpan tas nya lagi ke tempat nya. "Aku pikir kamu sudah tidur." ucap Mile sambil naik ke kasur.
"Nih mau tidur." ucap Tiara. Mile tersenyum.
"Bekerja lagi?" ucap Tiara karena Mile sangat fokus pada laptop nya. Mile menoleh ke arah istri nya, dia membawa Tiara ke pelukan nya.
"Saya harus menyelesaikan ini. Setelah acara di mulai selama Tiga hari Perusahaan Minor semua yang Bersangkutan dengan usaha keluarga Minor tutup. Jadi ini waktu saya menyelesaikan semua ini." ucap Mile.
"Itu artinya kamu juga libur?" tanya Tiara. Mile mengangguk.
"Kenapa?" tanya Mile. "Kita jalan-jalan ke puncak yah Sama Lena, Riska, Vandi dan juga Rika." ucap Tiara.
"Kamu sudah tau sendiri kalau saya tidak memiliki waktu untuk istirahat. Libur sekali setahun ingin saya gunakan istirahat sepenuhnya di rumah tidak akan keluar." ucap Mile.
__ADS_1
Tiara terdiam. "Tapi kan aku pengen ke sana." ucap Tiara.
"Kamu harus mengerti situasi aku yah. Kalau kamu ingin pergi bersama Lena tidak apa-apa." ucap Mile.
"Oohh ya udah deh gak apa-apa." ucap Tiara. Mile tersenyum sambil mengelus wajah istri nya.
"Kamu lanjut saja bekerja, aku akan tidur." ucap Tiara. Mile menganguk.
Setelah beberapa lama Akhirnya dia tertidur walaupun sebenarnya hati nya sangat sedih karena Mile tidak mau menuruti keinginan nya.
Mile menoleh ke arah istri nya. Dia menghela nafas panjang namun lanjut bekerja lagi.
Dua jam kemudian Mile mulai ngantuk. Pekerjaan nya juga sudah selesai dia menutup Laptopnya dan berbaring di samping istri nya.
"Selamat malam nak, bobok yang nyenyak yah." ucap Mile mengelus perut Tiara. Dia tidak lupa mencium kening istrinya dan juga pipi nya.
Dia memeluk pinggang Tiara baru dia bisa tidur, namun baru saja dia tidur tangan nya di geser oleh Tiara. Mile membuka mata nya.
"Kenapa kamu melepaskan tangan saya?" tanya Mile, namun Tiara tidak bangun sama sekali. Milee mengira kalau Tiara hanya mimpi saja.
Mile di dorong jauh dari Tiara. Mile kebingungan.
"Kata nya kepanasan tapi memakai selimut." batin Mile. .
Karena mata nya juga sudah mengantuk akhirnya dia memilih untuk tidur saja.
Sementara di tempat Rafi dia tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan Alisa yang memutuskan untuk tidak bertemu beberapa hari.
Alisa meminta Rafi memikir kan lagi keputusan nya seperti apa, jangan sampai dia salah memilih dan menyesal.
Mau bagaimana pun Alisa mempunyai orang tua, pasti dia memikirkan perasaan orang tua Rafi.
Mereka sudah sama-sama dewasa Rafi melakukan apa yang di minta oleh Alisa karena dia merasa itu adalah cara dewasa, dia melakukan itu karena dia juga mencintai Alisa.
Alisa juga sudah berjanji kalau dia akan setia menunggu Rafi. Alisa juga bilang, kalau orang tua tidak merestui hubungan mereka lebih baik mereka berpisah saja karena itu adalah jalan yang salah.
Rafi melihat handphone nya ada pesan dari Enjel. Enjel mengabari kalau orang tua nya sudah mau pulang besok, bisa jadi Sampai nya malam.
__ADS_1
Enjel meminta Rafi menjelaskan semuanya kepada keluarga nya. Rafi tidak membalas nya dia sangat bingung harus menjelaskan nya bagaimana nanti.
Itu membuat nya semakin pusing. Namun demi perasaan nya dia harus jahat memikirkan diri sendiri kali ini.
"Baiklah?" Jawab Rafi.
"Apa kamu yakin memilih wanita kekanak-kanakan seperti Alisa? selain itu dia juga mempunyai pergaulan bebas." ucap Enjel.
"Sudah kamu tidak perlu ikut campur, setidaknya kamu sudah lepas dari pria yang jahat seperti aku. Aku ingin kamu menjaga kesehatan kamu. Semoga mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari aku " ucap Rafi.
"Semoga saja dua kamu terkabul. Aku tidak ingin bertemu pria brengsek seperti kamu. Pria yang tidak mempunyai hati!" balas Enjel lagi.
"Maafin aku yah. Setelah itu Rafi tidak membalas nya lagi, bahkan membacanya tidak.
Keesokan harinya...
"Huammmm...." Mile bangun dia bergeliat sambil meraba-raba kasur di sebelah nya.. "Loh Tiara kemana?" tanya Mile.
Dia ke kamar mandi dengan cepat. Tidak beberapa lama dia turun dari kamar nya.
"Tiara kemana?" tanya Rafi.
"Seperti nya olahraga Om. Tuh baru saja datang." ucap Lena.
Dia melihat Tiara.
"Kamu kenapa tidak membangun saya? Saya jadi telat ke kantor hari ini." ucap Mile.
"Kamu sangat nyenyak Sekali, aku tidak tega membangun kan kamu." ucap Tiara. Mile melihat istrinya sedikit berbeda.
"Aku mau bersih-bersih dulu." ucap Tiara dia naik ke atas meninggalnya suami dan keponakan nya.
Lena dan yang lainnya kebingungan melihat suasana pagi ini cukup tidak baik.
"Ada apa dengan Tante Tiara om? Seperti nya Tante Tiara ngambek." ucap Vandi. "Tidak perlu sok tau, selesaikan sarapan dan segera pergi bekerja." ucap Mile.
"Om kenapa gak peka banget sih, Tante Tiara menginginkan sesuatu sehingga dia terlihat kesal seperti itu." ucap Vandi.
__ADS_1