
Tiara menghela nafas panjang.
"Sekarang di rumah ini aku adalah bos nya Bibik. Jadi aku meminta untuk makan sama-sama ayo makan sama-sama." ucap Tiara.
"Tapi non, saya tidak pantas Makan bersama majikan di Meja Makan yang mewah ini, bagaimana kalau saya grogi dan merusak semua nya." ucap Tiara.
Tiara tertawa. Dia langsung mengambil kan Nasi untuk Bibik Ja. "Kita semua sama bik, ayo Makan." ucap Tiara.
Bibik Ja sedikit canggung untuk pertama kalinya dia makan dengan majikan nya seperti ini.
"Non Tiara gak masalah kan kalau saya duduk di sini?" tanya Bibik Ja lagi.
Tiara menghela nafas panjang.
"Jangan membuat aku berubah fikiran bik, ayo Makan." ucap Tiara.
Bibik tersenyum dia pun makan berusaha untuk hati-hati. Tiara yang melihat hanya bisa tersenyum saja.
"Oh iya bik, belakangan ini badan ku sering sakit-sakit. Bibik tau ada yang bisa mengurut wanita hamil?" tanya Tiara.
"Sakit-sakit badan itu hal biasa Non, saya akan bantu memijit-mijit." ucap Bibik Ja.
"Tapi bik ini bukan karena itu.." ucap Tiara. Bibik Ja langsung menatap Tiara. "Tidak perlu di lanjutkan Non, saya sudah paham." ucap Bibik Ja.
Tiara menaikkan alis nya.
"Maksud Bibik paham?" ucap Tiara kebingungan.
"Pasti karena Tuan Mile kan?" ucap Bibik Ja. Seketika Tiara terdiam. Dia menunduk kan wajah nya.
"Maaf non, saya hanya menebak nya, saya minta maaf kalau salah." ucap Bibik Ja tidak enak karena melihat wajah Tiara.
"Bukan seperti itu Bik, saya malu mau jujur. Kenapa Bibik bisa tau?" ucap Tiara.
Bibik Ja tersenyum.
"Kita sesama perempuan tidak perlu malu non, saya juga merasakan apa yang non rasakan kok dulu." ucap Bibik Ja. Tiara bingung dengan keberanian Bibik Ja yang tidak malu untuk jujur.
"Non Tiara tidak perlu malu kepada Saya." ucap Bibik Ja.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak malu Bik, ini adalah hal baru untuk ku." ucap Tiara.
"Sudah-sudah Non tidak perlu membahas nya lagi kalau tidak nyaman. Saya bisa memijit kok non, saya juga sebelum nya pernah tukang urut di kampung dan di kota saya bekerja di salon jadi sekalian bisa spa juga." ucap Bibik.
"Wahh sungguh bik?" tanya Tiara.
"Iyah Non." ucap Bibik.
"Non Tiara sama orang lain pasti sangat malu, karena biasanya tukang urut seperti itu Akan membahas semua nya, bertanya juga dan banyak omong." ucap Bibik.
Tiara tersenyum. Akhirnya dia lega karena Bibik pasti bisa menjaga privasi nya.
"Oh iya Bik kalau boleh tau Bibik kenapa tidak pernah membawa anak Bibik ke sini?" tanya Tiara.
"Anak Bibik hanya satu, itu pun di bawa sama mantan suami Bibik, yah Bibik tidak pernah bertemu dengan dia lagi." ucap Bibik.
"Lalu Bibik tidak mencari nya?" tanya Tiara.
"Sebelum nya Bibik mencari nya namun dia tidak mau ikut dengan Bibik, ya maklum lah Bibik orang miskin." ucap Bibik Ja.
"Loh bukannya gaji Bibik di sini sangat besar? Aku tau Bibik di sini sudah sangat Lama dan terpercaya." ucap Tiara.
"Kalau begitu aku akan meminta Mile menaikkan gaji Bibik." ucap Tiara. "Jangan Non sebenarnya utang saya pada ke keluarga ini sudah sangat banyak." ucap Bibik.
Tiara terdiam.
"Kita jangan membahas ini lagi non. Saya akan menyimpan ini dulu." ucap Bibik Ja.
"Humm Baik lah bik." ucap Tiara. Di tempat lain Alisa baru saja masuk ke kamar Rafi. Dia melihat Rafi yang sedang tidur.
"Waktu nya makan siang dan setelah itu minum obat." ucap Alisa duduk di pinggir kasur membangun kan Rafi.
Rafi membuka mata nya dia melihat ke arah Alisa.
"Kamu bisa Makan sendiri kan? Aku akan pulang." ucap Alisa. "Humm, terimakasih sudah membantu saya." ucap Rafi dengan nada yang sangat datar sekali.
"Aku sudah membawa kan minum dan juga makan siang. Jangan lupa minum obat nya." ucap Alisa.
"Baiklah. Kamu bisa keluar." ucap Rafi. Alisa mengangguk dia menarik koper dan mengangkat barang-barang nya.
__ADS_1
Rafi mau minum air putih berusaha untuk mengjakau nya namun tiba-tiba jatuh karena dia Masih tidak kuat. Alisa sangat kaget dia langsung mendekati Rafi.
Dia melihat tangan Rafi yang terluka. Dengan cepat dia menghentikan darah Rafi dengan cara memasukkan jari yang Luka ke dalam mulutnya.
Rafi menatap wajah Alisa yang terlihat sangat panik. Sementara Alisa juga menatap mata Sayu Rafi yang jelas kesakitan.
"Deg!!! Deg!! deg!!! Bunyi jantung Rafi.
"Bagaimana aku tidak semakin mencintai kamu Alisa? Kamu sangat perhatian, kamu sangat baik walaupun saya sudah membuat kamu sedih dan juga menderita serta tertekan." batin Rafi.
"Aku ambil obat merah dulu."ucap Alisa. Tidak beberapa lama dia kembali dan mengobati luka Rafi.
"Sudah selesai. Kamu tunggu sebentar aku akan mengganti minum yang baru." ucap Alisa.
Rafi mengangguk. Alisa kembali membawa air dan setelah itu dia membersihkan pecahan Gelas.
"Maafin saya sudah mereposisi kamu." ucap Rafi. Alisa diam saja. "Ayo makan dulu." ucap Alisa menyuapi Rafi.
Rafi yang sudah tidak enak akhirnya dia mengikuti saja perintah nya Alisa.
Setelah selesai makan dia minum obat. Alisa memeriksa suhu badan Rafi. "Sudah lebih baik sekarang Bapak hanya perlu banyak istirahat jangan berfikir terlalu banyak." ucap Alisa. Tiba-tiba Ponsel Rafi berbunyi.
Dia membaca pesan dari Tiara.
"Tiara mau ke sini." ucap Rafi. Alisa beranjak.
"Baiklah aku rasa tugas ku sudah selesai, aku pamit dulu." ucap Alisa.
Dia keluar dari kamar itu meninggal kan Rafi.
"Apa aku bisa percaya meninggalkan nya sendiri? tapi Tiara mau ke sini, dia tidak boleh tau kalau aku ada di sini." ucap Alisa dia pun langsung keluar meninggalkan apartemen itu.
"Loh itu bukan nya Alisa? dia dari mana?" ucap Tiara yang baru saja sampai di depan gedung itu namun melihat sahabatnya memasukkan koper dan juga barang-barang ke dalam taksi.
Dia keluar dari mobil namun tiba-tiba di tahan oleh bodyguard nya.
"Maaf Non. Bukan kami lantang Namun non tidak boleh pergi ke sembarangan tempat." ucap bodyguard kembar nya.
"Saya hanya mau menjumpai sahabat saya." ucap Tiara mau mengejar Alisa namun keburu Alisa sudah pergi. "Yah kan sudah pergi, Ini semua karena kalian!" ucap Tiara marah.
__ADS_1
"Huff Untung saja Tiara tidak sempat bertemu dengan ku, maafin aku yah Tiara bukan aku bermaksud mengabaikan kamu." ucap Alisa melihat Tiara.