
"Humm tidak sia-sia aku memiliki suami yang pandai Masak. Semua makanan yang kamu masak seperti masakan di restoran termahal saja." ucap Tiara.
"Kamu terlalu berlebihan." ucap Mile.
"aku Curiga deh. Atau jangan-jangan sebelum nya kamu pernah bekerja di restoran sebagai Chef?" tanya Tiara.
"Saya tidak memiliki waktu untuk bekerja menjadi Chef." ucap Mile.
Tiara tersenyum dia pun menghabiskan ikan panggang yang ada di piring nya.
Di rumah Mile.
Lena dan juga Riska baru saja pulang shopping dari mall.
"Kalian dari mana saja?" tanya Vandi yang duduk di Ruang tamu. "Kami baru saja belanja. Sudah lama aku tidak pergi shopping." ucap Lena.
Vandi menghela nafas berat.
"Lihat kerjaan kamu yang menumpuk itu! Om Mile Akan marah sama kamu kalau melihat itu." ucap Vandi.
"Nanti aku kerjain, santai saja. kapan lagi bisa seperti ini." ucap Lena. "Lebih baik kamu kerjain Lena. Itu kan sudah kerjaan kamu." ucap Riska.
"Iyah kak, nanti aku kerjain." ucap Lena.
Tiba-tiba Tita keluar dari kamar nya mengangkat Laptop nya dengan wajah panik.
"Hey jangan bertengkar terus. Lihat ini apa yang terjadi pada file-file perusahaan?" tanya Tita menunjukkan pada mereka bertiga.
Seketika mereka semua terdiam. Saling tatap menatap.
"File kita sudah di ambil oleh orang lain. Mati lah kita." ucap Vandi.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah menyiapkan ini sudah lama." ucap Tita. Mereka berempat terlihat sangat pusing sekali.
"Permisi." Tiba-tiba Kakek mereka datang ke sana. Mereka langsung berdiri.
"Ada apa dengan Kalian? Kenapa kelihatan nya sangat tegang sekali?" tanya Bu Vina.
"Gak apa-apa kok Omah." ucap Lena dengan cepat menjawab nya.
"Omah sama Kakek datang untuk memberikan ini pada kalian." ucap Bu Vina memberikan surat undangan party merayakan ke 17 tahun berdiri nya perusahaan Pak Daniel.
"Semoga Kalian datang yah." ucap Bu Vina.
__ADS_1
"Humm baik Omah. Kalau kami tidak sibuk, kami pasti Akan datang." ucap Tita.
"Bibik Ja Di mana?" tanya Pak Daniel.
"Bibik Ja di suruh istirahat oleh Om Mile. Di rumah ini hanya kami berempat saja." ucap Vandi.
"Mile sungguh aneh sekali. Tapi dia juga baik melakukan hal seperti ini agar kalian tidak malas-malasan." ucap Pak Daniel.
Mereka hanya tersenyum saja. Tidak beberapa lama Riska datang membawa Minuman untuk mereka.
"Silahkan di minum Omah, Opah." ucap Riska. Setelah lama duduk di sana akhirnya mereka pulang.
Mereka mengantarkan keluar.
"Huff Untung saja Mereka tidak bertanya tentang kerjaan kita. Seperti nya malam ini kita tidak bisa datang ke sana, kita harus memperbaiki semua nya sebelum Om Mile pulang." ucap Tita.
Mereka menutup pintu dan langsung keluar dari kamar masing-masing membawa semua laptop dan juga buku yang di perlukan.
Butuh waktu lama untuk memperbaiki itu semua. Tapi setidaknya setengah dari pekerjaan mereka harus selesai.
Sementara Lena juga harus menyiapkan pekerjaan nya yang dari kantor Belum selesai.
Malam hari nya.
Rombongan Vandi kok belum datang yah Pah? Acara sudah mau di mulai. salah satu di antara mereka harus datang mengantikan Mile." ucap Bu Vina.
"Sudah lah Pah mungkin mereka tidak bisa datang atau ada alasan lain. Biar Roy saja yang menggantikan Mile." ucap Bu Vina.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Kursi milik Mile harus di duduki oleh Roy.
Mile yang duduk di ruang tamu melihat ponsel nya dia melihat postingan grup Keluarga nya.
"Loh bagaimana bisa Roy yang ada di sana? Saya sudah bilang untuk di pilih di antara Vandi atau yang lain bukan Roy!" ucap Mile.
Dia terlihat sangat emosi. Dia pun langsung menelpon keponakan nya.
"Kak lihat lah Om Mile menelpon, apa yang harus kita katakan? dia pasti sangat marah karena kita tidak datang." ucap Lena.
Panggilan pertama tidak di jawab, tidak ada yang berani menjawab satu pun.
"Permisi Non tadi Tuan mie mengatakan kalau mereka ingin berbicara dengan non dan Den Vandi." ucap Pengawal.
Mereka semua saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Tidak beberapa lama Mile menelpon. Lena memberanikan diri untuk menjawab nya.
"Apa yang kalian lakukan?!" ucap Mile sangat kuat sampai mereka terdiam langsung.
Tiara yang di kamar pun kaget karena Mile marah-marah, dia langsung keluar ternyata suami nya Sedang berbicara di handphone.
"Maaf kan kami Om, kami tidak bisa meninggal kan pekerjaan kami." ucap Lena.
"Saya sudah bilang pada Kalian agar salah satu di antara kalian duduk di sana menggantikan saya!" ucap Mile.
"Dan sekarang Roy yang duduk di sana. Saya tidak terima itu!" ucap Mile.
Setelah selesai marah-marah Mile langsung menutup handphone.
"Aaargggh!!" dia dengan kesal membanting ponsel nya ke dinding.
Tiara hampir kena Untung saja dengan cepat dia mengelak ponsel itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tiara. "Jangan ikut campur! Kamu pergi ke kamar!" ucap Mile meninggikan suara nya.
"Tapi Kamu kenapa? Ada apa? Tenangin diri kamu dulu." ucap Tiara.
"Saya bilang jangan ikut campur dan masuk ke kamar! Ini semua karena kamu yang menginginkan pulang di undur!" ucap Mile.
Tiara terdiam. Dia tidak tau salah nya di mana. Dan Mereka pun pulang bukan karena permintaan Tiara namun hanya karena kendala di pekerjaan Mile Besok di Sana.
"Aku tidak paham apa yang kamu marah kan, aku mohon tenangin diri kamu dulu." ucap Tiara. Mile melemparkan bantal pada Tiara.
Mengenai perut Tiara cukup Kuat karena Mile melemparkan nya dengan sangat kuat.
"Masuk! Jangan membuat saya melampiaskan kemarahan saya pada kamu!" ucap Mile.
Tiara takut dia pun langsung ke kamar dia mengunci pintu.
Jantung nya berdetak begitu cepat. Tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Lena?" ucap Tiara. Dia menjawab nya. Lena bertanya apakah Tiara baik-baik saja. Tiara berbohong dia mengucapkan baik-baik Saja. Akhirnya Lena memberitahu apa yang terjadi.
Setelah itu Tiara Memeriksa postingan terbaru keluarga Minor dan ternyata Benar kalau posisi Mile di ambil oleh adik nya.
Mau bagaimana pun Tiara tau kalau Mile sangat membenci Adik nya, Tiara paham kemarahan Mile pada adiknya itu.
Setelah itu tiba-tiba Suara barang pecah terdengar lagi. Tiara mematikan ponsel nya dia langsung berbaring meringkuk memeluk bantal guling nya.
__ADS_1
Dia sangat takut melihat Mile sangat marah seperti itu. Namun dia takut juga kalau Mile melukai diri nya sendiri.
Dia mengelus perut nya yang terasa sakit karena lemparan tadi, Jantung nya tidak berhenti berdetak cepat sekali karena suami nya Itu.