
Kalau anak itu yang membuat mereka berdamai dia ikhlas.
Orang tua Tiara dan keluarga Tiara juga di undang untuk datang hari itu.
Mereka semua kaget mendapati kabar Tiara kembali. Apa lagi Rafi, dia langsung tancap gas ke rumah Mile.
Melihat Tiara dia benar-benar sangat senang sekali. Dia memeluk adik nya begitu erat. Bahkan dia juga berterima kasih kepada Kin.
"Ini kakak gak mimpi kan? Kamu masih hidup dek?" tanya Rafi, Tiara tersenyum sambil mengangguk.
"Terimakasih ya Allah." Rafi sampai menangis.
Bu Rosa dan Juga Pak Yuda baru sampai. Mereka melihat Tiara sangat terharu sekali.
"Terimakasih banyak Kin.. Terimakasih. Kalau bukan karena kamu mungkin Tiara tidak akan kembali lagi." ucap Rafi. "Ini berkat kekuatan doa dari kalian semua. Saya tidak melakukan apapun ini semua sudah takdir." ucap Kin.
Rafi Tersenyum dia memeluk Kin.
"Saya tidak bisa memaafkan perbuatan kamu, namun untuk sekarang saya berterima kasih kepada kamu, adik saya adalah segala nya bagi saya." ucap Rafi.
Kin menganguk sambil tersenyum.
"Kami tidak bisa lama-lama di sini, kami harus pulang." ucap Kin. "Apa Tiara dan Juga Bastian akan kamu bawa?" tanya Bu Rosa.
Kin menggeleng kan kepala nya. Kin Pamitan dan setelah itu mereka pun langsung pergi.
"Kamu yakin mau meninggalkan anak kamu?" tanya Mile. Kin tersenyum ke arah Mile. "Saya percaya kau bisa menjaga nya." ucap Kin sambil menepuk pundak Mile.
Kin menarik tangan Sisi ke dalam mobil.
Mereka meninggalkan rumah itu.
"Huff untung saja kita bisa pergi dari sana." ucap Kin. "Tuan kenapa sengaja pergi?" tanya Sisi. "Saya tidak ingin mendengar masalah mereka!" ucap Kin.
Sisi Menghela nafas panjang. "Apa Tuan yakin memberikan anak itu kepada mereka?" tanya Sisi.
"Saya yakin. Saya juga tidak akan lepas tangan." ucap Kin.
Sisi tersenyum. Kin melihat wajah Sisi.
Kin tiba-tiba memegang tangan Sisi. Sisi kaget dia menatap wajah Kin.
"Aku tidak enak kalau seperti ini Tuan." ucap Sisi.
__ADS_1
"Saya ingin membawa kamu jalan-jalan, apa kamu mau?" tanya Kin.
"Kemana tuan?" tanya Sisi. "Rahasia." ucap Kin. Sisi bingung dia menaikkan Alis nya.
Mereka sampai di sebuah taman. "Tuan membawa aku ke sini untuk apa?" tanya Sisi. "Ini adalah taman yang paling bagus di kota ini. Apa kamu tidak suka?" tanya Kin.
"Saya sudah bosan Tiap hari ke sini Tuan." ucap sisi.
"Tiap hari? Apa ada pria lain yang membawa kamu ke sini?" tanya Kin.
Sisi menggeleng kan kepala nya. "Aku datang sendiri, aku suka juga nongkrong di sini." ucap Sisi.
"Kalau begitu ayo makan di sebelah sana." ucap Kin. Sisi Menganguk. Kin berjalan mau menggandeng tangan Sisi namun tiba-tiba Sisi menghindar.
"Kenapa?" tanya Kin. "Saya takut ada yang melihat nya tuan. Saya tidak enak." ucap Sisi. Kin Menghela nafas panjang.
"Bisa berhenti memikirkan tentang apa tanggapan orang lain tidak?" ucap Kin.
Sisi terdiam.
"Ini adalah urusan kita berdua, tidak ada salah nya kalau kita bergandengan tangan, apa kamu malu bergandengan tangan dengan pria yang tua seperti saya?" tanya Kin.
Sisi Menggeleng kan kepala nya.
"Apa saya harus menjadikan kamu kekasih saya terlebih dahulu?" tanya Kin. Sisi terdiam.
"Kalau begitu apa kamu mau menjadi kekasih saya?" tanya Kin.
Sisi menepuk tangan Kin. "Tuan kenapa menganggap hal seperti ini bercanda selalu? Tuan sudah tau kalau aku mencintai Tuan. Tuan membuat saya bahan pelampiasan!" ucap Sisi segera meninggalkannya Kin.
Kin bingung tiba-tiba Sisi marah. "Kamu kenapa marah? Saya bertanya dengan serius." ucap Kin menahan tangan Sisi.
"Lepaskan aku Tuan. Aku tau Tuan hanya menjadikan aku pelampiasan aja, mana ada orang yang sangat terpandang berpacaran dengan Anak pembantu yang tidak memiliki Ayah." ucap Sisi.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Saya bahkan tidak pernah berfikir seperti itu!" ucap Kin. "Aku tidak mau lagi Tuan, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam. Aku harus sadar diri." ucap Sisi.
Kin melihat Sisi masuk ke dalam taksi dan pulang sendiri. Kin menghela nafas panjang.
"Apa yang salah dengan perkataan ku? Apa sifat dan perlakuan ku masih kurang membuktikan kalau aku cinta pada nya?" batin Kin.
"Wanita memang sangat sulit di tebak." ucap Kin.
Di kamar Tiara sedang memberikan Tian minum agar dia bisa tidur. Bu Vina dan Juga Bu Rosa ada di sana menemani Tiara.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Mile masuk.
"Mah, Ibu aku ingin berbicara dengan Tiara." ucap Mile. Bu Vina menganguk. Namun tiba-tiba Tiara menahan tangan Bu Vina.
"Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, bicarakan saja!" ucap Tiara.
"ini adalah urusan kamu dengan suami kamu, bicarakan baik-baik." ucap Bu Rosa. Tiara akhirnya menganguk.
Setelah mereka keluar Mile menutup pintu.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Mile mendekati Tian.
"Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan!" ucap Tiara.
Mile duduk di samping tempat tidur menatap wajah istri nya.
"Saya ingin menjelaskan tentang wanita itu kepada kamu." ucap Mile. Tiara diam.
"Beberapa bulan yang lalu saya sangat depresi karena mendengar kamu meninggal.. Namun dia datang untuk menghibur saya sampai pada akhirnya saya merasa nyaman dan dia juga selalu ada untuk saya." ucap Mile.
Tiara mendengar nya walaupun hati nya sangat sakit mendengar itu.
"Dan berjalan nya waktu saya berfikir harus menemukan kehidupan yang baru. Saya memutuskan untuk berhubungan dengan dia, saya tidak tau Akan seperti ini." ucap Mile.
"Aku tidak pernah berfikir kalau kamu dengan mudah bisa melupakan ku." ucap Tiara. Mile menggeleng kan kepala nya.
"Saya hanya ingin memulai hidup saya yang baru." ucap Mile.
"Namun kamu harus tau kalau saya sangat mencintai kamu, saya akan meninggalkan wanita itu." ucap Mile.
Tiara Menggeleng kan kepala nya. "Kamu sangat tega meninggalkan Dia begitu saja. Kamu adalah pria yang tidak mempunyai hati." ucap Tiara.
"Kamu adalah istri Saya, saya memilih istri saya dan juga anak kita." ucap Mile. Tiara hanya diam. "Aku tidak ingin kamu menyakiti hati wanita lain." ucap Tiara.
Mile menghela nafas panjang.
"Saya lebih memilih kamu." ucap Mile. "Aku tidak ingin bersama kamu lagi." ucap Tiara. Mile menggeleng kan kepala nya.
"Kamu berbohong, kalau kamu tidak ingin bersama kau kamu tidak akan kembali dan memilih Kin." ucap Mile.
Tiara menatap wajah Suaminya.
"Aku sangat tulus, aku ikhlas menghadapi masalah apapun demi kamu, namun aku tidak melihat ketulusan di mata kamu sekarang." batin Tiara.
__ADS_1