Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 251


__ADS_3

"Kamu berikan suami kamu kesempatan, beri dia kesempatan. Ingat Tian yang harus bahagia. Kalau kamu dengan suami kamu tidak bisa akur Tian akan saya ambil." ucap Kin.


"Jangan aku mohon." ucap Tiara Takut.


"Saya tidak memiliki hak untuk mengambil anak ini, namun kalau kamu dengan Mile tidak akur bagaimana mencontohkan yang baik untuk Tian." ucap Kin.


Tiara menunduk kan kepala nya. "Baiklah." ucap Tiara.


Mile baru saja sampai di kantor nya.


"Pagi sayang..." Tiba-tiba Mina datang ke ruangan nya mau memeluk dan mencium Mile. Namun Mile langsung berdiri.


Mina menatap nya dengan tatapan bingung. Mile menatap Mina.


"Kapan kamu akan sadar kalau aku memiliki istri dan anak? Kamu tau kalau awalnya aku dengan kamu memiliki hubungan hanya karena aku putus asa." ucap Mile.


Mina menahan air mata nya agar tidak jatuh namun langsung keluar tanpa ijin dari nya.


"Apa ini semua balasan kamu kepada ku? Kenapa kamu begitu tega?" ucap Mina. "Maafin aku Mina. Maafin aku." ucap Mile.


Mina lemas namun langsung di bantu oleh Mile. "Kamu kenapa?" tanya Mile. Mina menangis di pelukan Mile.


"Aku sangat mencintai kamu Mile, aku sangat tulus mencintai kamu." ucap Mina.


Mile bingung mau menjawab apa namun dia berusaha untuk menenangkan Mina dulu.


Di rumah Mile. Tiara berbincang-bincang dengan Kin. Mengurus Tian bersama sehingga membuat Sisi Cemburu. Dia memilih untuk diam saja.


Tiara baru sadar kalau Sisi dari tadi lebih banyak diam.


"Sisi kamu kenapa diam saja?" tanya Tiara. Kin menoleh ke arah Sisi.


Sisi tersenyum. "Aku ke atas dulu yah." ucap Tiara meninggalkan Kin dan juga Sisi di ruang tamu.


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa dari tadi kamu diam saja?" tanya Kin pada sisi.


"Aku gak apa-apa kok." ucap Sisi. "Kamu cemburu melihat saya dengan Tiara?" tanya Kin. Sisi Menggeleng kan kepala nya.


"Kamu bohong, saya bisa melihat jelas kalau kamu cemburu." ucap Kin. Sisi menghela nafas panjang.


"Enggak kak. Ngapain aku cemburu." ucap Sisi. Kin tersenyum.


"Tidak perlu malu-malu seperti itu. Saya senang kok kalau kamu cemburu, itu artinya kamu cinta kepada saya" ucap Kin.

__ADS_1


"Ekhem-Ekhem.." Tiara tersenyum ketika Kin menggoda Sisi.


"Kamu tidak perlu cemburu kepada saya. Saya tidak memiliki perasaan kepada Kin. Kin juga sudah mencintai kamu melupakan saya. Hanya menjaga hubungan demi Tian saja, saya harap kamu mengerti." ucap Tiara.


Sisi tersenyum. Karena sudah sore Kin dan juga Sisi harus segera pulang ke rumah.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


"Sisi.. Kamu dari mana?" tanya pelayan yang melihat sisi baru pulang.


"Aku ada tugas di luar." ucap Sisi.


"Oohhh. Tuan Kin juga baru pulang, apa kamu tau di mana tuan Kin menginap dua malam ini? Karena tidak biasa nya." ucap pelayan itu.


Sisi menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau." jawab Sisi.


"Sebaiknya kamu istirahat ." ucap ibu nya kepada Sisi. Sisi Menganguk.


Dia masuk ke kamar nya, "Untung saja mereka tidak tanya lebih banyak, aku bingung harus menjawab apa." ucap Sisi.


Di malam hari nya. Sisi dan Kin duduk di balkon bersama.


Dari bawah pelayan sedang bersih-bersih namun tidak sengaja melihat ke atas.


Pelayan sangat terkejut melihat itu. "Sudah benar dugaan ku kalau Sisi dengan Tuan Kin memiliki hubungan. Sisi pasti sedang menggoda Tuan Kin." ucap pelayan itu.


Dia langsung mencari Ibu nya Sisi.


"Bu! Ibu.." Dia menggedor pintu kamar.


"Ada apa? Ini sudah malam waktu nya untuk istirahat." ucap ibu nya Sisi.


"Saya melihat Sisi dengan Tuan Kin di balkon kamar sedang bermesraan, saya Sudah bilang beberapa kali kalau tuan Kin dengan Sisi memiliki hubungan." ucap pelayan itu.


Ibu nya Sisi terkejut. Mereka memastikan untuk datang ke kamar Sisi.


Dan Sisi pun tidak ada di sana.


"Sisi tidak tau posisi nya! Bagaimana bisa dia menggoda tuan Kin sementara dia hanya anak pelayan." ucap pelayan itu.


Hati nya ibu Sisi begitu sakit mendengar itu.


Dia menunggu anak nya keluar dari kamar Kin.

__ADS_1


"Kak aku harus tidur sekarang, aku akan kembali ke kamar." ucap Sisi. Namun tiba-tiba Kin menahan pinggang Sisi. "Saya Masih ingin kamu di sini." ucap Kin.


"Besok aku ada kuliah pagi." ucap Sisi. "Apa kamu tega meninggalkan saya di sini?" tanya Kin. Sisi Menghela nafas panjang.


"Aku tidak pergi jauh kak, besok masih ada waktu untuk bertemu." ucap Sisi.


"Baiklah-baiklah kalau begitu. Berikan saya ciuman." ucap Kin. Sisi malu-malu mencium pipi Kin namun Kin menggeser Kepala nya agar sisi mencium bibir nya bukan Pipi nya.


Setelah itu Sisi keluar. Dia masuk ke kamar nya dan sangat terkejut melihat Ibunya yang duduk di pinggir kasur berdiam diri.


"Ibu kenapa di sini? Ini sudah larut malam kenapa ibu tidak tidur?" tanya Sisi. "Ibu mau bertanya ke pada kamu." ucap ibu nya membuat Sisi deg-degan.


"Ibu mau bertanya soal apa?" tanya Sisi.


"Kamu dari mana?" tanya Ibu nya. Sisi terdiam.


"Jawab ibu! Kamu kenapa tidak menjawab ibu?!" ucap Ibunya marah.


"Aku dari kamar Tuan Kin." ucap Sisi. Ibu nya menghela nafas panjang.


"Apa hubungan kamu dengan Tuan Kin?" tanya Ibu nya.


"Aku dengan Tuan Kin berpacaran." ucap Sisi.


"Ya Allah Sisi.. Kenapa kamu sangat berani? apa kamu tidak memikirkan resiko apa yang kamu lakukan?" ucap Ibu nya.


"Aku mencintai Tuan Kin Bu, sudah dari dulu aku mencintai dia, dan tuan Kin juga mencintai aku." ucap Sisi.


"Jangan mimpi Sisi. Kita adalah orang biasa, bahkan kita hidup sekarang hanya karena bantuan Tuan Kin. Kamu jangan membuat semua nya sulit, sudah banyak masalah ibu." ucap Ibunya.


"Apa masalah nya Bu? Aku tidak mengganggu ibu." ucap sisi.


"Semua orang menghujat Dan mengatakan kalau kamu murahan. Kamu yang menggoda Tuan Kin." ucap Ibunya.


"Tidak perlu mendengar kan kata mereka Bu." ucap Sisi.


"Ibu tidak mau tau, kamu harus memutuskan hubungan dengan tuan Kin, setelah itu kamu tinggal di luar." ucap Ibu nya.


"Aku mohon Bu jangan lakukan itu. Aku ingin bersama Tuan Kin." ucap Sisi.


"Jangan keras kepala! Anak pembantu tetap lah anak pembantu, kamu hanya di jadikan pemuas nafsu Tuan Kin, dia akan malu mempunyai pasangan seperti kamu." ucap Ibu nya.


Sisi menangis mendengar ucap ibu nya, ibu nya saja tidak mendukung hubungan nya.

__ADS_1


__ADS_2