
Tiara baru tau ternyata seperti itu keinginan papah mertua nya itu. "Dan Tante Tiara Ketika om Mile bilang di rumah Saja dulu Tante harus mengikuti nya karena kalau om bilang seperti itu situasi sedang tidak Aman." ucap Vandi.
"Kenapa tidak melaporkan ke polisi?" tanya Tiara.
Vandi dan Lena Menggeleng kan kepala nya.
"Nanti Tante pasti Akan paham sendiri." ucap Vandi. Tiara semakin bingung.
"Tadi Om bilang dia akan pulang lambat, jadi jangan menunggu nya." ucap Vandi.
Tiara pun sedikit tenang karena Mile mengabari Keponakan nya.
"Lebih baik Non Tiara istirahat dulu, saya khawatir kalau non tidak istirahat banyak Janin nya semakin lemah." ucap Bibik Ja.
Tiara mengangguk dia pun di bantu oleh Bibik ke kamar.
"Kak menurut kamu Siapa yang menyerang Om Mile dengan Tante Tiara?" tanya Lena pada Vandi.
"Aku juga tidak tau, musuh om Mile dan juga Kakek sangat banyak. Sehingga kita tidak bisa menebak siapa itu." ucap Vandi.
"Huff kalau seperti ini keadaan Tante Tiara semakin bahaya, dia pasti jadi sasaran mereka." ucap Lena.
"Humm kamu benar banget Len." ucap Vandi.
"Kalian pada ngomongin apa sih? Kerjaan kalian belum selesai, nanti malam Om pulang pasti memeriksa nya." ucap Tita.
"Aku sudah Kok, aku juga sudah mengirimkan nya pada Om Mile." ucap Lena. "Kamu Vandi bagaimana?" tanya Tita.
"Aku tidak ada kerjaan apa pun karena Besok aku harus menemui kakek." ucap Vandi.
"Loh untuk apa? Jangan-jangan mau membujuk kamu bekerja dengan Om Roy." ucap Riska.
"Seperti nya Enggak, kakek meminta ku membantu melakukan sesuatu tapi aku tidak tau mau melakukan apa, yang penting aku harus sampai pagi di rumah Nya." ucap Vandi.
"Ya udah kamu pergi saja, nanti kalau Kakek marah hidup kita kelar." ucap Tita.
"Oh iya dengar-dengar Ibu Ku mau datang. Bagaimana dengan Ibu kakak?" tanya Lena.
"Mereka tidak bisa datang karena sangat sibuk." ucap Vandi.
__ADS_1
"Oohhh, begitu." ucap Lena.
"Loh Mbak Riksa mana?" tanya Lena.
"Dia sedang di ruangan GYM." ucap Tita..
"Tumben-tumbenan banget siang-siang seperti dia olahraga." ucap Vandi.
"Kalian juga harus olahraga. Kalau Om Mile tau Kalau kalian tidak pernah latihan lagi dia pasti sangat marah." ucap Tita.
"Aaargggh di sini sangat menyebalkan namun jauh menyebalkan di rumah. Apa-apa semua nya harus di lakukan padahal gak suka." ucap Vandi.
"Hus kamu ngomong apa! Niat Om Mile baik mau menjadikan kita anak yang berguna dan banyak prestasi." ucap Lena. Vandi pun diam.
"Aku ingin hidup seperti teman-teman ku pada umumnya, mereka bisa bebas ke sana ke sini melakukan yang mereka inginkan tanpa ada larangan sama sekali." ucap Vandi.
"Bersyukur saja apa yang di berikan tuhan sama kamu, banyak banget protes nya." ucap Tita. Vandi Terkekeh.
Di Malam hari nya. Tiara terbangun tiba-tiba karena teringat kejadian tadi.
Dia melihat ke bawah Mile Belum ada, dia melihat Jam sudah jam sebelas malam namun tidak ada tanda-tanda suami nya pulang.
Tiara mau turun dari kasur namun tiba-tiba seseorang membuka pintu.
Mile membuka pintu sambil berbicara lewat telepon terlihat sangat serius sehingga dia belum melihat Tiara.
"Kamu sudah pulang? kenapa sangat malam?" tanya Tiara. Namun Mile masih sangat serius berbicara lewat telepon nya.
Tiara pun diam memerhatikan Mile.
Tidak beberapa lama Mile selesai menelpon. Dia melihat ke arah Tiara.
"Ini sudah sangat malam kenapa kamu belum tidur?" tanya Mile duduk di kursi sambil membuka sepatu dan kaus kaki tidak lupa kancing jas, dan juga kancing di pergelangan nya.
"Justru aku yang nanya sama kamu kenapa Pulang larut malam?" tanya Tiara.
"Pekerjaan saya sangat banyak." ucap Mile.
"Tapi ini hari libur." ucap Tiara. Mile Menghela nafas panjang sambil melonggarkan dasinya.
__ADS_1
"Wanita seperti kamu tidak Akan paham yang namanya banting tulang cari uang." ucap Mile. Tiara langsung diam.
"Kamu tidur lah, dokter bilang kamu harus banyak istirahat, jangan mencoba menyusahkan saya!" ucap Mile dengan nada yang sangat datar.
"Bagaimana dengan memar di wajah dan badan kamu?" tanya Tiara langsung sebelum Mile masuk ke dalam kamar mandi.
"Luka tembakan saja tidak butuh waktu lama untuk sembuh, begitu juga dengan luka ruangan ini hanya seperti di gigit semut saja." ucap Mile.
Tiara diam. Mile pun masuk ke dalam kamar mandi. Tidak beberapa lama selesai mandi dia handuk keluar sambil menggosok kan Handuk kecil ke rambut yang basah.
"Kemana dia?" Ucap Mile tidak melihat Tiara di tempat tidur. Tiara baru saja masuk dia membawa mangkuk dan juga kain di tangan nya.
"Kamu duduk Dulu." ucap Tiara menuntun Mile duduk.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Mile. "Aku akan membantu mengompres memar ini, kamu bilang ini adalah luka ringan tapi ini sangat berdampak untuk kesehatan kamu." ucap Tiara.
"Ini sangat dingin jadi Jang terkejut." ucap Tiara dengan lembut mengompres memar Mile.
"Ssstt sakit." ucap Mile menahan tangan Tiara. Kebetulan tangan Tiara juga sakit di bagian pergelangan nya karena Mile menarik nya ke rumah sakit.
"Tangan ku juga sakit." ucap Tiara namun tiba-tiba Mile menarik tangan Tiara sehingga Tiara menimpa badan Mile yang telanjang.
Mata mereka bertemu. "Maaf-maaf aku tidak sengaja." Tiara mau beranjak namun lagi-lagi dia jatuh karena mengunakan tangan yang sakit untuk menopang badan nya.
Tiara menjerit kesakitan. Mile pun membantu mengoleskan minyak ke tangan Tiara.
"Saya menarik nya terlalu keras, saya minta maaf tidak sadar Sama sekali." ucap Mile. Tiara memerhatikan Mile yang sangat hati-hati memegang tangan nya.
"Kalau di Saat emosi kamu selalu kehilangan kesadaran. Aku takut jadi korban kamu suatu saat nanti." ucap Tiara.
"Jangan membuat kesalahan. Saya tidak akan pernah mengganggu seseorang kalau mau mendengarkan kata-kata saya." ucap Mile.
"Tapi aku berhak melakukan apapun yang aku mau." ucap Tiara. "Saya suami kamu! Seorang istri harus menuruti perkataan suami." ucap Mile.
"Yang kamu lakukan adalah kesalahan, kamu pergi minum alkohol sampai mabuk dalam keadaan hamil dan juga pergi dengan adik ipar kamu sendiri. Kamu akan membuat reputasi keluarga Minor rusak." ucap Mile.
Tiara Menghela nafas panjang.
"Aku bosan tiap hari di rumah, semenjak menikah aku tidak memiliki kebebasan lagi, aku tidak bisa berfikir dengan jernih aku merasa jenuh tiap hari. Kamu saja jarang di rumah bagaimana aku bisa nyaman di rumah orang lain." ucap Tiara.
__ADS_1