Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 118


__ADS_3

Setelah selesai makan Orang tua Tiara pulang terlebih dahulu. Setelah itu orang tua nya Mile.


"Kami pulang dulu yah." ucap Bu Vina.


Tiara mengangguk sambil tersenyum.


Mereka bersalaman.


"Dari tadi nak Mile hanya diam saja. Apa Kalian tidak ingin membicarakan sesuatu?" tanya Bu Vina pada Mile dan juga suami nya.


Seketika langsung sunyi. Tidak ada yang berbicara. Pak Daniel langsung keluar duluan. Bu Vina mengikuti nya keluar.


"Kamu pulang dulu yah. Sampai jumpa besok." ucap Roy pada Tiara. "Makasih yah sudah mau datang." ucap Tiara. Roy tersenyum.


Setelah itu dia pun pergi meninggalkan rumah itu. Alisa melihat ponsel nya. Rafi meminta nya untuk pulang cepat. Alisa tidak boleh menentang kalau sempat dia tidak pulang dia sendiri yang akan menanggung nya.


"Tiara aku pulang dulu yah," ucap Alisa. "Loh kamu gak nginap di sini?" tanya Tiara.


"Aku gak bisa nginap sekarang, sampai jumpa lagi." ucap Alisa dia pun meninggalkan rumah itu.


Mile menatap semua Keponakan nya itu. Dia berdiri mendekati satu persatu dan sampai ke pada Vandi. Semua mereka sudah sangat tegang sekali.


Tiba-tiba Vandi menampar wajah Vandi dengan sangat keras.


Semua nya terkejut. "Saya sudah bilang untuk kamu mengantikan saya. Namun kenapa kamu mengabaikan perintah saya? Kamu sudah merasa hebat?" ucap Mile.


Suara nya memenuhi ruangan itu.


"Kalian semua bukan baru bekerja dengan saya disini. Tanggung jawab kalian sudah ada. Namun kenapa tidak bisa bekerja dengan baik?" ucap Mile.


"Tidak perlu marah-marah, mungkin mereka ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan." ucap Tiara.


"Kamu jangan ikut campur! Kamu pergi masuk ke dalam kamar!" ucap Mile. Tiara pun terdiam.


"Kenapa kamu diam di sana? masuk!" ucap Mile. Tiara sangat khawatir pada mereka berempat namun dia juga tidak bisa melakukan apapun.


Karena semua nya sudah terlanjur Vandi memberi tahu alasan yang sebenarnya apa. Kenapa mereka tidak bisa datang.


Mendengar kejujuran itu Mile tidak bisa menahan emosi nya. Dia sangat membenci orang yang tidak hati-hati, dan tidak bisa di percaya.


Mereka berempat tidak ada yang berani mengatakan apapun. Cukup lama Mile marah sampai akhirnya dia diam.

__ADS_1


File yang di percaya kan pada keponakan nya adalah saham terbesar milik nya.


Bagaimana semua nya tidak ketar-ketir. Karena kalau file itu sampai ke tangan musuh, bisa saja mereka mengambil semua nya tampa sisa.


Mile menggeprak Meja membuat mereka terkejut.


"Kalian semua sangat payah! Saya tidak mau melihat Kalian lagi!" ucap Mile.


Mereka langsung memohon dan meminta maaf pada Mile. Orang tua dan semua keluarga akan marah pada mereka ketika tau masalah itu.


Mereka memohon namun Mile hanya diam saja.


"Menjauh lah dari saya!" ucap Mile.


"Kalau Kalian seperti ini terus menerus bagaimana bisa kalian menjadi pemimpin yang di percaya?" ucap Mile.


"Saya lelah, kalian juga pasti sudah lelah istirahat lah. Semua nya yang sudah hilang tidak bisa kembali lagi. Lain kali terjadi hal seperti ini saya pastikan kalian akan di coret dari keluarga Minor!" ucap Mile.


Semua mereka terdiam.


Mile berdiri.


"Apa Kalian semua paham dengan apa yang saya katakan?" tanya Mile.


"Dan untuk kamu Vandi. Kamu adalah pemimpin di grup ini. Jangan lalai!" ucap Mile.


"Baik Om. Saya akan lebih berhati-hati." ucap Vandi.


Melihat wajah Keponakan nya dia juga kasihan, tidak tega namun dia juga harus tegas memberikan pelajaran kepada mereka karena kurang hati-hati.


Dia pun meninggalkan ruang tamu. Setelah Mile pergi mereka terkulai lemas di lantai.


Mereka Dari tadi berdiri tulang-tulang mereka sudah sangat lemas namun mencoba untuk menahan nya.


Mile masuk ke kamar. Tiara duduk di pinggir kasur melihat Mile datang.


"Kamu mau kemana?" tanya Mile pada Tiara yang Hendak pergi. "Aku malu melihat mereka keluar, kasihan mereka pasti sangat sedih dan takut." ucap Tiara.


"Jangan hiraukan mereka." ucap Mile. Tiara tetap mau keluar. "Saya bilang jangan hiraukan mereka. jangan keluar!" ucap Mile.


Tiara terdiam dia menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Mereka sudah biasa dengan hal seperti itu, semakin kamu perduli mereka tidak akan mau mendengarkan nasehat saya." ucap Mile.


Tiara duduk di pinggir kasur. "Aku sudah bilang aku takut kalau kamu marah-marah seperti itu." ucap Tiara.


"Kamu harus terbiasa dengan ini, karena saya harus tegas pada siapapun." ucap Mile.


Tiara diam. Mile mendekati Tiara dia mengelus kepala Tiara.


"Maafkan saya kalau membuat kamu takut. Saya hanya kecewa pada mereka." ucap Mile.


Dia memeluk Tiara.


"Boleh kah aku melihat mereka?" tanya Tiara lagi. "Kenapa?" tanya Mile.


"Aku takut mereka nangis." ucap Tiara. Mile tersenyum.


"Mereka semua sudah tahan dengan caci maki saya, mereka tidak akan lemah karena itu saja. Orang tua mereka jauh lebih parah di banding kan saya." ucap Mile.


Tiara menghela nafas panjang.


"Kamu tidur dan istirahat saja yah." ucap Mile. Tiara menatap wajah suaminya. Namun perlahan Mile mendorong istri nya Berbaring di kasur. Dia juga naik ke atas Tiara.


"Saya ingin melakukan nya lagi di tempat tidur ini." ucap Mile. Tiara terdiam. Mile langsung mencium bibir Tiara.


Tidak perduli sudah Mandi atau tidak, mereka pun melakukan nya juga malam ini.


Tidak beberapa lama akhirnya Alisa sampai juga di penginapan nya. "Loh kok gak ada orang sih?" ucap Alisa.


"Dia meminta ku untuk pulang terlebih dahulu, namun dia tidak ada di rumah, atau benar yang di katakan oleh Bu Rosa mereka menghabiskan waktu untuk berdua?" tanya Alisa.


"Ah bodoh amat, aku tidak perduli." ucap Alisa. Dia mandi karena terasa badan nya lengket dan setelah itu memakai skincare nya.


"Ini sudah jam sebelas malam, apa benar dia tidak akan pulang? Biasanya dia selalu pulang." ucap Alisa, dia keluar dari kamar duduk di ruang tamu.


Tiba-tiba Ponsel nya berdering. Ada beberapa foto dari Enjel kepada nya. Ternyata foto-foto mesra mereka yang sedang di Club bersama.


"Huff dasar pria naif! Bisa-bisa nya dia memaksa ku pulang sementara dia pergi ke Club." ucap Alisa.


Dia berbaring di sofa. Karena mengantuk sekali dia malas untuk ke Kamar akhirnya dia tidur di sofa. Baru saja rasanya memejamkan mata nya dia terkejut karena sesuatu yang berat menimpa nya.


Dia membuka mata nya ternyata itu adalah Rafi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau mendengar kata-kata ku Alisa? aku sudah bilang aku tidak ingin melihat kamu bersama pria lain, kamu adalah Milik ku." ucap Rafi di depan wajah Alisa.


"Bau sekali!" ucap Alisa.


__ADS_2