
"Oohhh." ucap Mile.
"Bibik Ja sudah datang. Aku tutup telpon nya dulu, aku akan mengabari kalau sudah selesai." ucap Tiara langsung mematikan ponsel nya.
"Tu-tunggu dulu Tiara..." panggil langsung mati..
"Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ken di bodyguard kepercayaan Mile yang selalu menemani nya.
"Tidak ada. Kamu keluar saja. Saya mau lanjut bekerja." ucap Mile. "Baik Tuan. Bagaimana dengan makan malam dengan Tuan Sarkan?" tanya Ken lagi.
"Kamu bisa tolong saya untuk mengatur tempat dan juga semua nya?" tanya Mile.
"Baik Tuan saya akan mengatur nya." ucap Ken, dia permisi dan keluar dari ruangan itu.
Mile ke Luar negeri karena di undang oleh ketua gangster untuk makan malam dan membahas beberapa bisnis mereka.
Mereka mungkin bernegosiasi tentang bisnis.
Mile melihat ponsel nya setelah Ken Keluar.
"Kenapa dia langsung mematikan telpon tampa seijin ku?!" ucap Mile dengan kesal.
"Ayo non di buka handuk nya, saya akan memijit di bagian perut." ucap Bibik Ja. "Tapi saya sangat malu Bik." ucap Tiara.
"Tidak perlu malu non, yang non punya saya juga punya kok Non." ucap Bibik Ja. Tiara pun membuka handuk nya.
"Non Tiara mempunyai Tato di bagian perut, saya baru tau Non." ucap Bibik Ja. "Kupu-kupu ini melambangkan simbol pencapaian kehidupan ku Bik." ucap Tiara.
Bibik Ja tersenyum.
"Apa ini sudah lama non?" tanya Bibik Ja lagi.
"Sudah lama Bik, namun hanya Bibik, kak Rafi dan juga Mile yang tau." ucap Tiara.
Bibik Ja tersenyum sambil tangannya terus bekerja mengurut.
"Dan termasuk ayah dari anak ini." batin Tiara.
"Aku pernah bermimpi hidup di sebuah desa yang ramai dengan kupu-kupu bik, aku sangat suka kupu-kupu." ucap Tiara.
"Ternyata mereka mempunyai banyak persamaan." batin Bibik Ja.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Sudah selesai Non. Setelah ini Non jangan mandi dulu Yah." ucap Bibik namun ternyata Tiara sudah tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Bibi Ja tersenyum.
" Ya udah non Tiara tidur yang nyenyak yah." ucap Bibik Ja, dia pun keluar dari ruangan itu.
Tidak terasa hari sudah mau magrib Bibik Ja datang lagi membangun kan Tiara.
"Non.. Non.. Ini sudah Magrib ayo bangun, wanita hamil tidak boleh tidur di Sore hari." ucap Bibik Ja. Tiara perlahan membuka mata nya dia di bantu bangun oleh Bibik.
"Huaaammmm Badan ku terasa enakan lagi Bik, tidur ku sudah sangat enak. Terimakasih yah Bik." ucap Tiara.
Bibik Ja tersenyum sambil mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu non Tiara bangun, ayo keluar makan malam sudah siap." ucap Bibik Ja.
Tiara mengangguk.
Di tempat lain Rafi baru saja keluar dari kamar mandi dia mendengar bel apartemen nya yang berbunyi dari tadi dia berjalan Keluar kamar.
"Ngapain lagi sih Tiara ke sini? Bukan nya dia mempunyai kunci. membuat ku repot saja." ucap Rafi dengan kesel dia langsung membuka pintu.
"Ada apa lagi? kamu punya kunci sendiri kenapa harus menekan bel?" tanya Rafi.
Namun dia terkejut yang di depan nya bukan Adik nya ternyata ada Alisa yang sudah terdiam karena dia marah-marah.
"Maafin aku sudah menganggu bapak, aku tidak tau letak kunci ku di mana, Ku minta maaf sekali lagi." ucap Alisa.
"Aku ketinggalan beberapa barang-barang ku seperti laptop di ruang kerja bapak." ucap Alisa. Rafi menghela nafas panjang.
"Ambil lah." ucap Rafi mempersilahkan masuk ke dalam. Alisa mencari keluar namun tidak beberapa lama dia keluar membawa semua yang dia cari.
Dia melihat Rafi duduk di ruang tamu.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya Alisa. "Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja." ucap Rafi dengan singkat.
"Apa bapak sudah Makan?" tanya Alisa.
"Saya tidak lapar." ucap Rafi. Alisa diam.
"Nanti kalau saya lapar saya akan memesan makanan dari luar." ucap Rafi. "Kalau begitu saya akan pulang. Permisi Pak." ucap Alisa.
Rafi hanya diam saja. Alisa membuka pintu mau keluar namun terhenti dia menoleh ke arah Rafi.
"Bapak yakin sudah Baikan?" tanya Alisa lagi. Rafi menoleh ke arah Alisa.
"Aku tidak mau bapak sakit tidak ada yang mengurus, aku akan tinggal di sini sampai Bapak sembuh." ucap Alisa.
__ADS_1
Alisa meletakkan kembali barang-barang nya di atas sofa.
"Aku akan masak untuk makan malam. Bapak tunggu sebentar." ucap Alisa dia langsung berjalan ke dapur.
Rafi menghela nafas panjang melihat Alisa. "Aku sudah sangat jahat kepada kamu, namun kamu masih mengkhawatirkan ku," batin Rafi dia duduk bersandar di kasur karena badan nya tiba-tiba lemas lagi.
"Makanan nya sudah siap, ayo Makan dulu." ucap Alisa membuat di depan Rafi yang berbaring di sofa.
"Loh kok tidur sih?" ucap Alisa.
"Bapak..." ucap Alisa membangun kan Rafi.
Namun Rafi juga tidak mau mendengar kan nya.
"Pak." panggil Alisa sambil memegang lengan Rafi.
"Suhu badan nya naik lagi." batin Alisa tiba-tiba Rafi bangun.
"Aku sudah selesai Masak." ucap Alisa. Rafi bangun.
"Kepala saya sedikit pusing, mungkin saya tidak bisa makan." ucap Rafi.
"Apa tadi siang bapak tidak makan? Dan tidak minum obat juga?" tanya Alisa. Rafi diam.
"Sekarang bapak harus makan dulu baru bisa istirahat dan minum obat." ucap Alisa. Rafi melihat masakan Alisa.
Mau tidak mau dia harus mengisi perut nya agar cepat Baikan.
Hanya empat suap saja namun dia sudah tidak mau lagi. Alisa mengambil Obat Rafi dan memberikan nya pada Rafi.
"Sekarang bapak sudah bisa istirahat dengan nyaman." ucap Alisa.
Rafi berbaring langsung di sofa memejamkan matanya. Alisa merapikan kembali Meja dan menyimpan obat Rafi.
Dia mau membersihkan meja yang kotor dia jongkok tepat di depan Rafi.
"Wajah nya semakin pucat." batin Alisa. Dia mengambil Air untuk membantu menurunkan panas badan Rafi.
Karena menunggu Rafi dia sampai ketiduran juga di Meja.
Rafi terbangun. Dia sakit tidak bisa tidur dengan lama, bawaan nya hanya bangun sebentar dan kembali tidur lagi.
Dia memegang kain yang di kepala nya. Rafi melihat Alisa ketiduran di dekat nya.
"Kenapa dia bisa tidur di sini?" batin Rafi.
__ADS_1
"Alisa kenapa kamu tidur di sini? ayo pindah ke kamar." ucap Rafi. Alisa bangun dia tidak membuka mata nya dengan baik.
"Ayo..." ucap Alisa dia menarik tangan Rafi ke dalam kamar juga. Sampai di kamar dia langsung berbaring di kasur begitu juga dengan Rafi. Tidak beberapa lama dia kembali tidur karena sangat mengantuk sekali.