Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 158


__ADS_3

"Jangan mengganggu ku, aku mau tidur." ucap Tiara. "Ayolah Tiara. Saya sangat merindukan kamu." ucap Mile.


"Tiara.." ucap Mile. Namun Tiara sudah tidak menghiraukan nya lagi.


"Apa dia sudah tidur? Secepat itu?" ucap Mile.


"Kamu hanya berpura-pura tidur kan? Saya tidak bodoh." ucap Mile langsung mengganggu Tiara. Tiara tertawa.


"Aku tidak mau mencium kamu, kamu bau Obat." ucap Tiara.


Namun Mile tidak mendengar kan kata-kata istrinya dia sama sekali tidak memberikan dia lepas dari pelukan nya lagi.


"Aaaa" Tiara berteriak ketika Mile mengigit bibir Tiara yang selalu membuat nya geram. "Sekarang kita mempunyai luka di bagian Bibir." ucap Mile sambil tersenyum melihat wajah istri nya.


"Nakal banget sih." ucap Tiara membalikkan badan suami nya agar di bawah. Mile tersenyum.


"Kamu membuat bibir ku sangat sakit, kamu harus merasakan pembalasan ku." ucap Tiara.


Namun tiba-tiba ponsel nya berdering. Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah Ponsel yang ada di atas nakas.


Mile berfikir itu adalah ponsel nya dia mengambil dan ternyata itu adalah ponsel Tiara..


"Ponsel kamu." ucap Mile. Tiara duduk dengan benar di kasur. "Enjel? Tumben-tumbenan banget dia menelpon ku." ucap Tiara.


"Halo. Ada apa?" tanya Tiara. "Maaf mengganggu waktu istirahat kamu, apa kamu tau sekarang Rafi di mana? Dia sama sekali tidak bisa di hubungi." ucap Enjel.


"Aku tidak tau, karena aku tidak bertemu dengan dia hari ini." ucap Tiara Deng sangat judes. "Aku sudah di bandara menunggu dia dari tadi." ucap Enjel.


"Kenapa kamu harus menunggu kak Rafi? Kamu bisa pulang mengunakan Taksi, kendaraan yang lain banyak, kenapa sangat Manja banget." ucap Tiara.


"Dia sudah berjanji untuk menjemput ku, bukan aku yang meminta nya." ucap Enjel. "Kalau dia tidak ada kabar itu artinya dia tidak mau menjemput kamu!" ucap Tiara meninggikan suara nya.


Mile mencoba untuk meminta istrinya Sabar.


"Aku saja adik nya tidak pernah di manjakan. Di antar di jemput." ucap Tiara.


"Maaf kalau aku membuat kamu terganggu, aku akan pulang sendiri." ucap Enjel.

__ADS_1


"Gitu kan Bagus, selalu saja mengusahakan kak Rafi. Dia sedang banyak masalah sekarang karena keinginan kamu untuk cepat tunangan." ucap Tiara.


"Sudah Tiara, sudah." ucap Mile langsung mematikan ponsel nya. "Kamu apa-apaan sih? kenapa kamu mematikan nya?" tanya Tiara.


"Apa ini sungguh kamu? Kamu memaki-maki dia Tampa henti." ucap Mile. "Aku sangat membenci dia, aku tidak suka pada dia. Ibu sama ayah selalu saja membandingkan aku dengan dia, pokoknya aku gak suka." ucap Tiara.


"Sudah jangan emosi yah, tidak baik." ucap Mile. Tiara menghela nafas panjang.


"Nelpon siapa?" tanya Rafi yang berdiri di belakang Enjel.


"Rafi.. Akhirnya kamu datang juga Sayang, aku sudah menunggu kamu dia jam di sini." ucap Enjel memeluk Rafi.


Rafi mendorong pelan dia dari tubuh nya. "Aku baru saja selesai bekerja, lain Kali kalau aku tidak datang tepat waktu dan tidak bisa di kabarin kamu pulang sendiri." ucap Rafi.


"Aku yakin kamu akan datang kok. Aku sangat merindukan kamu." ucap Enjel terus memeluk badan Rafi.


"Apa kamu tidak merindukan aku? " tanya Enjel.


"Lebih baik kita pulang saja, aku sudah sangat lelah dan mau istirahat." ucap Rafi.


"Apa kamu sudah menyewa kamar penginapan untuk ku di dekat apartemen kamu?" tanya Enjel. Rafi terdiam sejenak.


"Aku harus Membuka hati untuk Enjel, tidak ada pilihan lain." batin Rafi.


"Kamu menginap di apartemen ku saja malam ini. Kamar satu nya kosong." ucap Rafi. "Kamu yakin? Aku gak mau tinggal di sana kalau kamu terpaksa." ucap Enjel.


"Besok aku harus mengantarkan kamu ke rumah orang tua kamu. Untuk malam ini tidak masalah, kita akan memakan waktu banyak hanya untuk ke penginapan." ucap Rafi.


"Aaaa makasih yah, kamu perduli banget sama aku." Ucap Enjel memeluk lengan Rafi.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di apartemen Rafi. Rafi membantu membawa koper ke dalam. "Wahh ternyata apartemen kamu Bagus banget yah. Fasilitas nya sangat lengkap." ucap Enjel.


Rafi hanya diam saja. "Kamu bisa tidur di kamar ini." ucap Rafi.


"Lalu kamu tidur di mana?" tanya Enjel. Rafi menunjukkan kamar di sebelah nya.


"Ya udah kamu istirahat gih, aku juga mau istirahat." ucap Rafi. "Emmm." Enjel mau berbicara namun sudah keburu Rafi masuk ke dalam kamar nya.

__ADS_1


"Yahh.." Dia pun ikut masuk ke dalam kamar itu. Dia melihat kamar yang penuh kosong hanya ada lemari, kasur.


Dia berbaring di kasur nya.


"Aneh banget Rafi hari ini, biasa nya dia banyak berbicara, mengomel dan selalu protes, bahkan dia tidak akan pernah mengijinkan aku masuk ke sini, namun hari ini beda banget." batin Enjel.


Di kamar Rafi dia baru mengingat ada beberapa foto yang ada di luar harus dia sembunyikan. Foto dia dengan Alisa dan foto Alisa sendiri. Dia mengumpulkan semua nya.


Untung saja lampu mati tadi nya sehingga tidak kelihatan.


Sekarang ruangan yang biasa nya membuat Rafi betah, namun sekarang sudah terasa sangat hampa sekali.


Dia melihat tumpukan foto dan juga barang-barang tentang Alisa di masukkan ke dalam kardus. "Apa sudah waktunya aku move on? Tidak ada gunanya aku mempertahankan perasaan ini." batin Rafi.


Dia memeluk foto Alisa saat pertama kali Bekerja di perusahaan nya. Senyuman indah, wajah cantik penampilan yang bagus.


"Seandainya mencintai kamu akan sesakit ini, mungkin aku tidak akan pernah mencintai kamu." ucap Rafi. Dia memasukkan semua nya ke dalam kardus.


Tiba-tiba Enjel keluar dari kamar nya.


Rafi langsung menghapus air mata nya dan menutup kardus itu.


"Loh kamu belum tidur?" Tanya Enjel. Rafi Menggelengkan kepala nya. "Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Rafi.


"Aku dari sore belum makan." ucap Enjel.


"Kenapa kamu tidak berbicara dari tadi?" ucap Rafi.


"Aku mau ngomong tapi kamu sudah keburu masuk ke dalam kamar. Tapi kamu tenang saja aku sudah memesan nya kok, untuk kamu juga." ucap Enjel.


Rafi tersenyum. "Ini apa?" tanya Enjel. "Oohh ini hanya alat-alat untuk olahraga." ucap Ragi berbohong dia langsung mendorong kotak itu ke gudang. Tidak beberapa lama makanan pun datang mereka makan bersama.


"Tempat ini sesuai banget sama kepribadian kamu." ucap Enjel. "Maksud kamu?" tanya Rafi.


"Humm Cocok banget sama kamu, pantesan saja semua orang tidak kamu ijinkan masuk ke sini. Tapi aku janji aku tidak mengacaukan apapun." ucap Enjel.


Rafi menganguk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2