Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Episode 217


__ADS_3

"Ini Tuan." Zahra menunjukkan semua nya. Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Zahra mengucapkan terimakasih. Dia menatap wajah kin.


"Apa Tuan hari ini bertemu dengan wanita yang Tuan cari selama ini?" tanya Zahra. Kin menganguk.


"Humm pantesan saja wajah Tuan hari ini sangat senang. Namun sepertinya ada yang aneh." ucap Zahra.


"Kenapa?" tanya Kin. "justru saya yang bertanya seperti itu Tuan. Apa ada sesuatu yang terjadi di pertemuan Tuan hari ini?" tanya Zahra.


"Sebenarnya tidak ada yang terlalu mengganggu, namun saya tidak banyak berbicara dengan dia." ucap Kin.


"Pasti ada waktu lagi tuan. Saya harus segera istirahat. Tuan juga istirahat lah." ucap Zahra.


Kin menganguk. Mereka masuk ke kamar meninggalkan balkon.


"Semoga tidur yang nyenyak yah Zahra." ucap Kin. Zahra hanya tersenyum saja.


Keesokan harinya Rafi datang ke rumah Enjel sendirian.


"Nak Rafi akhirnya datang. Ayo duduk." ucap ibu nya Enjel.


Rafi mengucapkan terimakasih dan duduk di sana.


"Kedatangan saya ke sini ingin mengucapkan turut berdukacita Om Tante, tapi ada yang lebih penting lagi." ucap Rafi.


Enjel datang membawa Teh untuk mereka.


"Saya datang ke sini untuk mengatakan kalau Saya dengan Enjel sudah tidak ada hubungan lagi." ucap Rafi. orang tua Enjel terlihat sangat terkejut.


"Apa yang kamu maksud Rafi?" tanya papah nya Enjel. "Saya minta maaf sekali lagi kalau Tunangan kami di batal kan saja! Tidak ada kecocokan di antara kami." ucap Rafi.


"Kenapa kamu berbicara speed itu?" tanya papah nya Enjel.


"Sebenarnya Selama satu tahun kami tidak saling mencintai. Saya sudah mencoba untuk mencintai Enjel namun tidak bisa." ucap Rafi.


Kedua orang tua Enjel Menghela nafas panjang. "Apa kamu memiliki seseorang yang membuat kamu tidak bisa mencintai anak kami?" tanya Papah nya Enjel.


"Maafkan saya Om. Saya adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Saya sudah mempermalukan keluarga." ucap Rafi.


"Jawab Om dulu. Apa kamu memiliki Orang lain?" tanya papah nya Enjel. "Saya memiliki nya Om. Saya mencintai dia jauh sebelum saya mengenal Enjel." ucap Rafi.

__ADS_1


"Kamu membohongi semua keluarga Enjel dan keluarga kamu sendiri?" ucap Papah nya Enjel.


"Bukan Pah, aku yang salah, aku yang sudah memaksa agar Rafi bersama ku." ucap Enjel. orang tua nya menghela nafas panjang lagi.


"Apa kamu sudah tau wanita yang di maksud Rafi?" tanya papah nya. Enjel menganguk.


"Dan sekarang bagaimana keputusan kalian berdua?" tanya Orang tua nya.


"Aku sangat mencintai Rafi mah, Pah, namun aku juga tidak ingin memaksakan kehendak ku. Untuk apa aku menikah kalau tidak saling mencintai." ucap Enjel.


"Betul Om. Aku tidak ingin melukai Enjel di kemudian hari." ucap Rafi. "Apa Niat kalian sudah benar-benar untuk berpisah dan membatalkan pertunangan ini?" tanya Papah nya Enjel.


Rafi menganguk begitu juga dengan Enjel.


"Papah sama Mamah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Itu adalah keputusan kalian. Kalau ini adalah yang terbaik papah menerima keputusan Kalian berdua." ucap papah nya Enjel.


Rafi sangat lega. "Lalu bagaimana dengan orang tua kamu. Apa mereka sudah tau? Bagaimana tanggapan mereka?" tanya papah nya Enjel.


"Sudah tau Om, namun saya belum tau tanggapan mereka pada wanita pilihan saya." ucap Rafi. "Semoga saja orang tua kamu mengerti yah. Karena tidak semua nya bisa di paksain." ucap Papah nya Enjel.


"Terimakasih banyak Om. Om sangat baik sekali. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Rafi memeluk Papah nya Enjel.


Bahkan Rafi dengan Enjel sudah berbaikan. Tidak ada masalah di antara Mereka lagi.


Sementara di apartemen Rafi Alisa menunggu Rafi dari tadi namun tidak kunjung pulang.


"Ini sudah jam satu siang, kenapa Rafi tak kunjung pulang yah." batin Alisa. "Semoga saja tidak ada masalah." ucap Alisa.


Tidak beberapa lama akhirnya Rafi pulang.


"Kamu menunggu aku dari tadi?" tanya Rafi pada Alisa yang berdiri di depan pintu.


"Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Bagaimana jadinya?" tanya Alisa.


"Semua nya baik-baik aja, orang tua Enjel sungguh sangat mengerti. Dia paham sehingga tidak marah hanya memberikan nasehat." ucap Rafi.


"Alhamdulillah." ucap Alisa. Rafi tersenyum. Namun tiba-tiba Alisa terdiam. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rafi. Alisa Menggeleng kan kepala nya.


"Kalau soal ibu dan ayah. Saya akan berbicara baik-baik. Kamu tidak perlu khawatir yah." ucap Rafi mengelus kepala Alisa.

__ADS_1


"Aku tidak tau mereka akan menerima ku atau tidak. Tapi aku sangat mencintai kamu." ucap Alisa. Rafi tersenyum dia langsung memeluk Alisa.


"Aku sangat mengantuk. Apa kamu mau menemani aku tidur siang?" tanya Rafi. "Huff aku sedang berbicara kamu malah mau tidur." ucap Rafi.


"Ayo berbicara saja di kamar. Jangan berbicara di sini." ucap Rafi. Dia menarik tangan Alisa ke dalam kamar.


Di sore hari nya...


Tiara tiba-tiba mau merapikan semua barang-barang nya. Menata semua tas-tas nya. Dia mengeluarkan semua isi tas nya.


Mereka tidak jadi berangkat muncak hari ini karena Mile tiba-tiba ada kerjaan yang belum di selesaikan.


"Loh Foto ini kemana satu lagi? Perasaan ada di sini deh." ucap Tiara. Dia terus mencari namun tidak menemukan nya.


"Mati lah aku kalau foto itu di dapat sama orang yang salah." batin Tiara. Dia mencari ke bawah kasur namun tidak ada juga di sana.


"Ya Allah Kemana foto itu." ucap Tiara benar-benar Takut sekali.


Dia tidak berhenti mencari.


"Non Tiara mencari apa?" tanya Bibik Ja yang mau mengantar kan Susu untuk Tiara.


"Saya mencari satu foto. apa Bibik pernah melihat foto jatuh di sekitar rumah ini?" tanya Tiara. "Gak ada Non. Mungkin Non salah letak." ucap Bibik Ja.


"Tidak mungkin Bik, saya memasukkan ke dalam tas ini." ucap Tiara. "Foto apa non? kenapa kelihatan nya non sangat khawatir?" tanya Bibik Ja.


"Humm Foto... Foto teman lama saya Bik." ucap Tiara.


"Oohh. Kalau begitu saya akan membantu mencari Non, kalau sudah dapat saya memberikan nya pada non Tiara." ucap Bibik Ja.


"Terimakasih yah Bik." ucap Tiara. Bibik Ja pun keluar.


"Bagaimana kalau orang yang bekerja di sini mendapatkan itu? Wajah ku terlalu sangat jelas di foto itu." batin Tiara.


Seketika dia menjadi sangat takut. Dia tidak bisa tenang. Dia tidak jadi merapikan barang-barang nya. Namun tiba-tiba Mamah Mertua nya menelpon.


"Halo mah." ucap Tiara.


"Mamah mau ikut muncak bersama Papah boleh kan?" ucap Bu Vina. "Boleh kok mah, semakin ramai tambah seru." ucap Tiara.

__ADS_1


__ADS_2