
"Kamu yakin?" ucap Kin. Tiara menganguk.
Mereka pun makan sama-sama.
"Aku tidak tau bagaimana sulit nya aku kalau kamu tidak membantu ku. Bahkan aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengobatan ku." ucap Tiara.
"Ini sudah kewajiban Ku, aku harus menanggung semua nya." ucap Kin. "Kamu tidak perlu memikirkan itu, melihat kamu sehat, anak kita juga sehat saya sangat senang." ucap Kin.
Keesokan harinya Kin sudah mengendong Bayi nya masuk ke dalam bandara. Sementara Tiara sudah bisa berjalan sendiri.
Dia cukup cepat sembuh nya karena Kin mencari rumah sakit yang terbaik. Mereka duduk bersampingan saat sudah di dalam pesawat.
"Kamu sudah siap kan?" tanya kin.
"Siap atau tidak aku harus siap. Aku tidak ingin membuat Mile lebih khawatir." ucap Tiara.
"Bagus deh kalau begitu." ucap Kin.
Beberapa Jam di dalam pesawat di Malam hari mereka baru sampai di bandara.
Supir Kin dan beberapa mobil datang menjemput mereka.
"Bu! Ibu!! Tuan Kin hari ini pulang." ucap Sisi sangat senang. "Sudah sampai di mana?" tanya Ibu nya.
"Sudah perjalanan ke sini Bu." ucap Sisi.
"Seperti nya kamu sangat merindukan nya." ucap ibu nya. Sisi tersenyum.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai.
"Kenapa kamu membawa ku ke sini?" tanya Tiara.
"Sebaiknya untuk malam ini kamu istirahat di sini dulu yah, saya juga masih ingin bersama anak saya." ucap Kin.
Tiara tidak bisa menolak akhirnya dia mau. Untuk pertama kali nya Tiara datang ke Sini.
Sisi dan ibu serta yang lainnya sudah menyambut di depan pintu.
Kin turun dari dalam mobil sambil menggendong bayi membuat semua orang terkejut. Dia memutari mobil dan juga membuka pintu untuk Tiara.
Dia membantu Tiara keluar dari dalam mobil.
Sisi sudah bisa menebak kalau itu adalah wanita yang di sukai oleh Kin. Melihat Kin sangat perhatian membuat Sisi Cemburu.
"Semua tolong bawa barang-barang itu ke dalam." ucap Kin.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucap Pelayan. Kin melihat Sisi. Tampa mengatakan apapun mereka masuk ke dalam.
Kin membawa Tiara masuk ke kamar nya.
"Apa wanita itu dan anak itu akan tidur di sini?" batin Sisi. Sambil mengikuti Ibu nya masuk ke kamar membawa barang-barang yang di perlukan bawa masuk ke dalam.
"Siapa pun tidak ada yang bertanya siapa wanita dan bayi itu. Kin tidak sadar kalau Sisi melihat nya dengan tatapan kangen dan juga Cemburu. Namun dia sangat fokus pada anaknya sehingga tidak sadar kalau Sisi menatap nya.
"Tolong bawa air panas untuk minum ke Sini yah Bu." ucap Kin. Ibu nya Sisi menganguk.
"Kamu istirahat saja yah. Nih dia juga sudah mau tidur." ucap Kin.
Tiara kelihatan nya sangat lelah sekali dia juga mengantuk.
"Makasih yah." ucap Tiara. "Saya keluar sebentar yah." ucap Kin meninggalkan Tiara.
Dia melihat Sisi masuk ke kamar nya dia mengikuti nya.
"Tuan! Tuan ngapain?" tanya Sisi kaget karena Kin langsung menutup pintu.
Kin langsung memeluk Sisi. Sisi kaget dia mencoba melepaskan nya dengan paksa namun Kin tidak mau.
"Saya sangat merindukan kamu." ucap Kin.
"Lepas kan aku Tuan. Tuan tidak bisa seperti ini lagi kepada ku, wanita sama anak yang Tuan ingin kan sudah di sini." ucap Sisi.
"Tuan tidak boleh seperti ini." ucap sisi memaksa melepaskan Kin. Kin menatap Sisi.
"Saya tau kamu pasti marah kepada saya. maafin saya." ucap Kin. "Untuk apa aku marah pada Tuan? Aku tidak memiliki hak untuk itu." ucap Sisi.
"Kamu tidak merindukan saya?" tanya Kin lagi. Sisi diam.
"Saya tidak pulang sangat lama dan tidak memberikan kabar karena ada sebab nya, saya memiliki alasan." ucap Kin.
"Karena wanita tadi kan? Karena anak tadi kan?" ucap Sisi. Kin terdiam.
"Kita tidak memiliki hubungan yang lebih dari seorang anak pelayan dengan Tuan nya." ucap Sisi. Kin menghela nafas panjang.
"Apa kamu tidak merindukan saya?" tanya Kin. "Jawab Sisi!" ucap Kin. Sisi tiba-tiba menangis. Dia menatap wajah Kin.
"Bagaimana bisa aku bilang kalau aku tidak merindukan Tuan." ucap Sisi. "Aku tidak bisa tenang setiap hari. Aku selalu mengkhawatirkan Tuan yang entah di mana." ucap Sisi.
Kin menghapus air mata Sisi.
"Saya baik-baik saja, saya sudah kembali saya sehat." ucap Kin. Sisi memeluk Kin.
__ADS_1
"Aku mohon jangan pergi lagi Tuan, aku tidak bisa seperti ini." ucap Sisi.
Kin menggeleng kan kepala nya. "Tidak akan, saya tidak akan pergi kok." ucap Sisi.
Sisi mengabaikan tentang Tiara dan anak nya, dia ingin melepaskan rindu dengan Kin terlebih dahulu.
Kin mencium kening Sisi. "Kamu mau kan memaafkan saya?" ucap Kin, Sisi menganguk.
"Jangan pernah mengabaikan saya ataupun menjauhi saya lagi." ucap Kin.
Sisi tersenyum. "Apa kah malam ini saya bisa istirahat di sini?" tanya Kin.
"Bagaimana dengan...."
"Saya tidak tidur dengan dia walau pun Anak itu adalah anak kita, saya menghargai dia dan juga suami nya." ucap kin.
"Apa itu arti nya kamu tidak akan bersama dia?" tanya Sisi. Kin Menggeleng kan kepala nya.
"Dia bahagia bersama suami nya, saya mencintai dia, saya ingin dia bahagia dengan pilihan nya." ucap Kin. Sisi terdiam.
Mereka tidur di kasur. Kin memeluk Sisi. Setelah beberapa jam Sisi tertidur dengan sangat pules, Kin Menatap wajah nya.
"Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang, namun aku sangat tidak tega melihat wajah Cemburu nya ketika melihat aku bersama Tiara." batin Kin.
Dia melihat Jam.
"Humm jam segini pasti Anak ku bangun." ucap Kin, dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu pelan-pelan.
Setelah Dia berhasil keluar Sisi terbangun. Dia menghela nafas panjang.
Kin melihat Tiara tidur sementara Bayi itu terbangun namun tidak menangis.
"Kamu kenapa bangun nak? Kamu kebiasaan begadang setiap malam." ucap Kin. Seperti nya Dia bangun namun Kin tidak tega membangun kan Tiara.
Dia memutuskan untuk memiringkan sedikit badan Tiara Membuka Buah baju Tiara dengan mata terpejam.
Kin tiba-tiba teringat di waktu pertama kali menyentuh Tiara, itu menjadi penyesalan bagi nya. setelah bayi itu berhasil minum dia merasa lega walaupun sedikit canggung sekali.
Setelah selesai minum Kin mengendong anak itu biar dia bisa tidur. Namun sudah lama di gendong namun dia tak kunjung tidur.
Kin membawa bayi itu ke kamar Sisi.
"Loh kamu gak tidur?" tanya Kin melihat Sisi.
Sisi menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku kebangun karena Tuan keluar." ucap Sisi.