
"Di posisi itu saya sedang di luar negeri beberapa bulan. Saya sangat kaget melihat undangan kamu..Tampa sadar saya datang di pernikahan kamu dengan cara menyamar." ucap Kin.
"Kamu juga sengaja kan memberikan hadiah dengan foto yang menjijikkan itu?" ucap Tiara tambah marah.
"Pada saat itu saya sudah sangat kesal kepada kamu." ucap Kin. Tiara menghela nafas panjang. Dia benar-benar sangat kesal melihat Kin sekarang.
"Huff kamu datang kembali menghancurkan rumah tangga ku yang awalnya baik-baik saja, kamu menghancurkan kebahagiaan ku " ucap Tiara memukul Tangan Kin.
"Aku minta maaf." ucap Kin. "Tidak ada gunanya minta maaf kamu. semua nya sudah hancur karena kamu!" ucap Tiara.
"Kamu sangat jahat, kamu menghancurkan semua nya kebahagiaan ku. Mungkin kalau aku tidak hamil aku tidak akan menikah secepat itu." ucap Tiara marah.
Kin hanya diam, namun bayi itu tiba-tiba menangis karena Tiara marah kepada kin.
Kin menunduk kan kepala nya dia bingung menjawab Tiara harus bagaimana lagi.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku?" ucap Kin. Tiara Menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada Selain kamu pergi dari kehidupan ku, jangan pernah kembali lagi." ucap Tiara.
Kin menggeleng kan kepala nya. "Tidak bisa Tiara. Anak saya ada pada kamu, saya sangat mencintai anak ini darah daging saya." ucap Kin.
"Aku bisa mengurus nya sendiri. Aku ingin dia tau kalau Mile adalah ayah nya bukan kamu." ucap Tiara. Kin terdiam.
"Aku sangat malu kalau anak ku tau aku perempuan yang tidak baik, Apa dia tau dia anak di luar nikah." ucap Tiara.
Kin sadar itu adalah kesalahan nya, tidak seharusnya dia melakukan itu awalnya, namun semua nya sudah terjadi, apapun kedepannya dia harus menerima nya.
Kin mengelus kepala Anak itu.
"Kalau begitu aku akan menunggu di luar. Aku mungkin mengganggu kamu disini." ucap Kin. Tiara hanya diam saja.
Tiara membiarkan Kin keluar dari a ruangan nya.
"Wanita mana pun akan marah kalau seperti ini Kin. Bukan aku bermaksud menjauh kan kamu dari anak mu, namun perbuatan kamu menghancurkan hidup ku." ucap Tiara.
"Seperti nya sekarang Mile sudah percaya kalau aku sudah tiada." batin Tiara. "Tapi aku sangat merindukan dia. Aku ingin dia mengendong anak ini." ucap Tiara.
__ADS_1
"Tapi seperti nya itu tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi mereka sudah sangat membenci ku, apa lagi anak ku, mustahil kalau mereka mau mengendong anak ku." ucap Tiara.
Anak nya tiba-tiba menangis, dia bingung harus apa, dia juga Masih kurang paham. Dia sudah minum bahkan sudah kenyang namun masih menangis.
Kin yang menunggu di depan pintu mendengar bayi menangis dia langsung masuk ke dalam. "Cup cup cup.." Kin langsung menggendong bayi nya dengan hati-hati.
"Seperti nya kamu berak yah nak?" ucap kin dengan senyuman dia Menganti popok nya agar lebih tenang. Dan benar saja dia tenang.
Di gendongan Kin bayi itu tertidur.
"Dia sudah tidur." ucap Kin membuat bayi itu tidur di dalam Box.
"Nama bayi itu belum ada, apa kamu tidak ingin memberi kan nya?" tanya Tiara. Kin Menggeleng kan kepala nya.
"Mile pasti sudah menyediakan nama yang bagus, aku ingin Mile yang memberikan nya." ucap Kin.
"Setelah kamu sembuh dari sini, saya akan mengantarkan kamu pulang bersama anak ini ke rumah suami kamu." ucap Kin.
Tiara hanya diam saja.
"Mereka pasti menerima kamu. Ini adalah kesalahan saya bukan kesalahan kamu, kalau mereka tidak menerima kamu terpaksa saya bawa ke rumah saya." ucap Kin.
Beberapa hari di rumah sakit Tiara sudah lebih baik. Hari ini ada hari terakhir dia di rumah sakit.
Tiara dan bayi nya menunggu Kin membayar perobatan dan setelah itu mereka kembali ke penginapan Tiara dan Kin selama ini.
Tiara setelah sembuh dari koma nya beberapa bulan yang lalu Kin memutuskan untuk menyewa kan penginapan untuk Tiara agar fokus pada kandungan nya.
Awalnya Tiara berontak ingin pulang namun kin mengantakan agar dia di sini sehat dan tidak ada orang yang menganggu nya karena di Jakarta pasti masih banyak yang mengincar nyawa nya.
Tiara yang sangat mencintai anak nya akhirnya dia pun menginyakan, dia mau tinggal di sana.
Kin juga menginap di sana tanpa kembali ke Jakarta.
Selama di sana Tiara sangat terurus, dia merindukan semua keluarga nya namun dia harus fokus pada kandungan nya terlebih dahulu.
"Kapan kita akan kembali ke Jakarta?" tanya Tiara sambil duduk di pinggir kasur. Kin meletakkan bayi di tengah-tengah tempat tidur.
__ADS_1
"Besok. hari ini saya akan membantu kamu berkemas." ucap Kin. Tiara terlihat sangat senang sekali. Melihat Tiara tersenyum Kin juga ikut senang..
Ruangan itu cukup berantakan. Kin harus membersihkan semua nya sendiri karena Tiara belum bisa banyak bergerak, Apa lagi ada bayi ruangan harus benar-benar sangat bersih.
"Saya tidak bisa membeli barang-barang yang banyak untuk bayi itu karena kita tidak menetap di sini, setelah di Jakarta saya Akan membeli semua nya apa yang di perlukan." ucap Kin.
"Tidak masalah kok." ucap Tiara. Kin tersenyum. "Kin." panggil Tiara. Kin menoleh ke arah Tiara.
"Ada apa?" tanya Kin.
"Aku mau minta maaf soal kemarin aku berbicara kasar, selalu menyalah kan kamu, aku benar-benar minta maaf Yah." ucap Tiara.
"Sudah lupakan saja, saya bahkan tidak mengingat nya. Alangkah baik nya ketika kamu marah jangan di depan anak kita." ucap Kin.
Tiara menganguk. "Maafin aku." ucap Tiara.
"Ruangan ini sudah bersih. Saya akan memesan makanan. Kamu mau Makan apa?" tanya Kin.
"Kamu pilih kan saja." ucap Tiara. Kin memesan lewat ponsel nya.
"Saya akan mandi dulu sebelum menjemput nya ke bawah." ucap Kin. Tiara mengangguk.
Kin berbeda kamar dia keluar dari kamar Tiara dan masuk ke kamar nya dia.
Tidak beberapa lama dia kembali sudah membawa makanan..
"Kamu duduk saja, saya akan menyuapi kamu." ucap kin.
"Aku sudah bisa Makan sendiri, kamu jangan terlalu memanjakan aku." ucap Tiara.
"Kamu yakin?" ucap Kin. Tiara menganguk.
Mereka pun makan sama-sama.
"Aku tidak tau bagaimana sulit nya aku kalau kamu tidak membantu ku. Bahkan aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengobatan ku." ucap Tiara.
"Ini sudah kewajiban Ku, aku harus menanggung semua nya." ucap Kin. "Kamu tidak perlu memikirkan itu, melihat kamu sehat, anak kita juga sehat saya sangat senang." ucap Kin.
__ADS_1