Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 110


__ADS_3

"Aku ke toilet dulu." ucap Tiara. Dia pun meninggalkan Mile.


Sesampainya di toilet dia berdiri di cermin.


"Ternyata Mile mempunyai privasi yang cukup kuat. Bahkan romantis dengan istri nya di tempat umum sangat jarang dia lakukan, pantesan saja dia mengutarakan perasaan nya hanya ada kita berdua." ucap Tiara.


Setelah selesai makan mereka pun langsung pulang ke penginapan. Tiara langsung masuk ke kamar. Mile melihat Tiara dari tadi hanya diam saja membuat nya juga kebingungan.


"Ada apa dengan kamu?" tanya Mile menyusul istri nya ke kamar. "Kenapa? aku tidak kenapa-kenapa, tidak ada yang perlu di khawatir kan." ucap Tiara.


Mile duduk di pinggir kasur. "Kamu marah pada saya karena sifat saya?" tanya Mile. Tiara diam.


"Saya minta maaf kalau kamu tersinggung dengan sifat saya sama kamu ketika di luar. Saya hanya tidak percaya diri saja ketika romantis di depan umum." ucap Mile.


Tiara menatap wajah Mile.


"Tidak perlu di bahas lagi, aku paham kok." ucap Tiara. Mile tersenyum dia mengelus rambut Tiara dia mencium kening Tiara cukup lama sampai jantung Tiara berdetak dengan sangat cepat.


"Ya ampun kenapa sih Tiap kali Dekat dengan Mile aku deg-degan seperti ini?" ucap Tiara dalam hati. Mile menatap wajah Tiara.


"Boleh saya mencium bibir kamu?" tanya Mile.


Tiara semakin gugup dia mau menjawab namun langsung di cium oleh Mile.


Tiara tersenyum setelah ciuman mereka lepas.


Saat asik bertatapan ponsel Mile berdering. Mile menghela nafas panjang. Tiara hanya tersenyum karena ada saja yang mengganggu mereka.


Dia mematikan nya langsung tampa melihat siapa yang telah menelpon dia. Mile kembali mencium bibir Tiara.


Sudah mulai mendalami namun ponsel nya lagi-lagi berdering.


"Lihat Dulu siapa yang nelpon, siapa tau penting." ucap Tiara. Mile akhirnya melihat dan ternyata itu adalah papah nya.


"Tuh kan Papah yang nelpon." ucap Tiara.


"Saya lupa kalau hari ini saya ada meeting Online dengan beberapa Klien saya." ucap Mile.


Tiara tersenyum. "Masih ada waktu nanti malam. Jangan khawatir ini Masih Siang. Dari pada Papah marah." ucap Tiara.


Mile beranjak dari atas Tiara.


"Baiklah kalau begitu, kamu istirahat saja. Saya akan bekerja di luar." ucap Mile. Tiara mengangguk.


Mile Keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Ada-ada Saja." ucap Tiara. dia bangun memeriksa ponsel nya.


"Humm kalau di pikir-pikir sebenarnya aku tidak percaya diri untuk tidur bersama Mile. Aku malu, padahal kemarin enggak. Aku tidak tau kenapa jadi seperti ini." ucap Tiara.


"Lena." panggil Roy yang baru saja datang ke ruangan Lena.


"Om Roy di sini?" ucap Lena sambil berdiri.


"Humm, kamu sedang apa? Sibuk gak?" tanya Mile.


"Yah lumayan sih, Om ada yang penting bisa aku bantu?" tanya Lena.


"Gak penting banget sih, cuman mau mengajak makan siang sama-sama. Ini sudah waktunya istirahat kamu masih saja Bekerja." ucap Roy.


"Yah beginilah Om. Semenjak Om Mile pergi liburan pekerjaan kami semakin banyak." ucap Lena.


"Humm sangat kasihan sekali." ucap Roy.


"Jangan membahas itu lagi, sebenarnya aku sudah lapar." ucap Lena menutup laptop nya.


Roy tersenyum mereka pun Keluar dari ruangan Lena.


Ternyata di luar sudah ada Tita, dan juga Vandi. Sementara Riska sudah duluan keluar mencari makanan.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di restoran. Dan benar saja sudah ada Pak Daniel dan juga Bu Vina yang menunggu dia di sana.


"Haii anak-anak apa kabar?" ucap Bu Vina.


"Baik.." ucap Vandi. Dia sebenarnya bingung mau panggil apa. Mau panggil Nenek tapi Masih muda.


"Panggil yang Kalian nyaman saja." ucap Bu Vina.


"Omah saja " ucap Roy.


Mereka tertawa.


"Aku pengen dong tips awet muda nya Omah." ucap Lena.


"Kamu Masih sangat muda, untuk apa tips seperti itu. Justru kamu pasti akan sangat awet muda." ucap Bu Vina.


Lena tersenyum.


"Ah Omah bisa Saja." ucap Lena.


Makanan mereka pun sudah datang.

__ADS_1


"Oh iya Omah, kakek kenapa om Mile Sama Tante Tiara di undur kepulangan nya." ucap Tita.


"Humm setau Omah sih karena pekerjaan. Karena Mile ada pekerjaan di siang hari. Jadi mereka tidak bisa pulang." ucap Bu Vina.


"Ayo Makan dulu, jangan banyak berbicara ketika Makan." ucap pak Daniel. Mereka pun lanjut untuk makan.


"Alisa, kak Rafi kalian di sini juga?" ucap Riska yang masuk ke Cafe mencari makan siang.


Namun kebetulan sekali bertemu dengan Alisa dan Rafi di sana.


Rafi tersenyum.


"Humm kebetulan sekali. Kamu sudah baikan? Kata Rafi kamu sakit kurang Enak badan." ucap Riska.


"Dia sudah sehat kok, besok sudah bisa bekerja." ucap rafi.


"Bagus lah kalau begitu." ucap Riska.


Alisa hanya diam saja.


"Aku tidak tau Kalau Kalian Cukup dekat seperti ini." ucap Riska. "Saya sudah lama kenal dengan Alisa. Kamu cukup berhubungan dengan baik." ucap Rafi.


"Bagus deh kalau begitu. Ya udah kalau begitu aku pesan makanan dulu, aku sama teman juga. Kalian berdua lanjut Saja Makan nya. Permisi." ucap Riska dia pun meninggalkan Mereka berdua di sana.


"Kenapa kamu tidak makan?" ucap Rafi pada Alisa yang dari tadi hanya memegang Sendok nya saja. Alisa Menggeleng kan kepala nya.


"Saya suruh kamu untuk makan. Jadi kamu harus makan!" ucap Rafi. Alisa menatap Wajah Rafi.


"Aku sama sekali tidak mau Makan sama kamu, aku tidak mau." ucap Alisa.


"Aku akan memberikan kamu pilihan. Makan atau kamu akan saya kurung kembali di apartemen ku?" tanya Rafi.


"Sampai kapan bapak Akan menekan saya seperti ini? Saya ingin bebas, saya ingin kembali ke rumah saya." ucap Alisa.


"Saya tidak pernah mengekang kamu. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau lakukan asal harus pulang ke apartemen saya. Jangan dekat dengan pria lain dan Selalu mencintai saya." ucap Rafi.


Alisa terdiam. Mereka selesai makan Rafi mengantarkan Alisa ke apartemen nya dan dia kembali Bekerja.


Rafi meminta dua orang untuk menjaga Alisa agar tidak kabur. Alisa di rumah itu hanya bisa duduk termenung merenungi nasibnya sendiri.


"Kenapa aku harus mengenal orang seperti Dia? Apa salah ku? kenapa aku mengalami hal yang sangat mengerikan seperti ini?" ucap Alisa.


Dia berniat mau menelpon Tiara. namun dia juga tidak ingin menambah beban Tiara di tambah lagi Tiara sedang hamil, dia juga kurang baik dengan suami nya setau Alisa.


Akhirnya dia memilih untuk memendamnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2