Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 195


__ADS_3

"Huff seperti nya aku benar-benar tidak di anggap lagi, aku sudah di coret dari keluarga itu." ucap Tiara.


"Kamu tidak perlu berfikir seperti itu, justru lebih baik ibu tidak meminta mu ke rumah karena kakak tau mereka pasti akan terus menghakimi kamu." ucap Rafi.


"Kakak benar juga sih, ya udah kalau begitu kakak pergi saja rumah ibu dan Ayah, aku akan ke rumah Alisa." ucap Tiara.


"Kamu yakin?" tanya Rafi. Tiara menganguk.


"Ya sudah kalau begitu kakak siap-siap dulu." ucap Rafi. Tiara pun memutuskan untuk ke rumah Alisa.


Di antar oleh supir akhirnya dia sampai di sana.


"Tok!! Tok!! Tok!!" Dia mengetuk pintu rumah Alisa namun tidak ada jawaban.


Dia terus mengetuk berharap di buka oleh Alisa namun ternyata tidak ada sama sekali.


"Sebaiknya aku menelpon dia saja." ucap Tiara dia menelpon nomor Alisa namun tetap saja tidak di jawab.


"Ya ampun Alisa, kamu kemana sih?" batin Tiara.


Dia tiba-tiba mengingat tempat yang biasa mereka kunjungi kalau lagi sedih atau tempat yang bisa membuat mereka tenang.


Salah satu Vila yang sangat sederhana namun sangat lah bagus. Tiara bisa memastikan kalau Alisa ada di sana.


Dia bertanya pada penjaga di depan dan ternyata Benar Tiara ada di sana, dia sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan Alisa.


Dia di antar masuk ke dalam. Selama perjalanan ke dalam Tiara teringat banyak hal. Ini adalah salah satu Vila favorit dia dengan Bilmar.


Dan ketika Tiara tidak mau pulang ke rumah nya dia selalu menginap di sini.


"Aku tidak pernah berfikir Akan kembali lagi ke tempat ini dengan status yang berbeda, namun aku Masih mengingat janji dia kalau dia akan selalu bersama ku Tapi kenyataan nya itu semua hanya lah omong kosong." ucap Tiara.


"Alisa!" panggil Tiara, dia melihat Alisa yang duduk sendirian di Taman Vila itu. Dia mendekati Alisa yang hanya diam.


"Kamu kenapa Alisa?" tanya Tiara. Alisa menoleh ke arah Tiara. "Bagaimana bisa kamu ada di sini? Sebaiknya kamu pergi." ucap Alisa.


"Kamu ngapain ada di sini? Aku mencari kamu ke rumah kamu tapi tidak menemukan kamu, aku sangat menghawatirkan kamu." ucap Tiara.

__ADS_1


Alisa terdiam. "Ada apa? Coba ceritakan sama aku." ucap Tiara. Alisa Menatap wajah Tiara dan memeluk nya.


"Jangan sedih lagi, aku jadi ikut sedih kalau seperti ini." ucap Tiara.


"Seperti nya tidak ada gunanya aku mempertahankan hubungan ku dengan Rafi." ucap Alisa.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kak Rafi sedang mencari cara agar bisa membujuk orang tua ku. Kamu jangan berfikir seperti itu, karena kamu tau kan kalau kak Rafi sangat mencintai kamu." ucap Tiara.


Alisa menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak ingin membuat Rafi di benci oleh kedua orang tua kamu hanya karena aku, aku tidak ingin itu Tiara." ucap Alisa.


"Sssttt!!! Kalau berbicara baik-baik pada orang tua ku pasti mereka akan mengerti." ucap Tiara. Alisa menangis di pelukan Tiara.


"Aku yakin Rafi akan meninggalkan aku Tiara." ucap Alisa.


Tiara Menghela nafas panjang.


"Wajar saja Alisa berbicara seperti ini karena kak Rafi belum memberikan kejelasan pada Alisa." batin Tiara.


"Sudah jangan Nangis lagi, bagaimana kalau kita hari ini happy-happy?" ucap Tiara.


Sementara di tempat lain.


"Roy tolong ambilkan Mamah penggorengan dong." ucap Bu Vina pada Roy yang sedang membantu Mamah nya masak.


Mile yang baru saja datang melihat rumah depan sepi dia memutuskan untuk ke dapur namun melihat Roy dan Bu Vina masak.


Tiba-tiba dia mengingat kenangan nya bersama Mamah nya. Saat kecil dia sangat sering membantu mamah nya masak.


Sampai akhirnya dia pandai.


"Eh Mile kamu sudah sampai?" tanya Bu Vina sadar kedatangan Mile.


Mile hanya memasang wajah datar dan sedikit menarik ujung bibir nya.


"Istri kamu mana? Kamu datang sendirian?" Tanya Bu Vina. Karena tidak melihat Tiara.

__ADS_1


"Tiara ada urusan dengan teman nya sehingga tidak bisa datang. Kalau rombongan Vandi mungkin masih dalam perjalanan." jawab Mile.


Bu Vina hanya bisa tersenyum saja.


"Roy lebih baik kamu Temanin kakak kamu di depan gih, papah seperti nya belum pulang." ucap Bu Vina.


"Papah kemana?" tanya Mile. "Sudah beberapa hari ini papah jarang pulang ke rumah. Dia kembali hanya sebentar saja bahkan tidak tidur di rumah." jawab Bu Vina.


Mile terdiam.


"Kenapa papah tidak pulang? Kalau urusan pekerjaan aku pasti tau, dan akhir-akhir ini saja papah lebih banyak melemparkan pekerjaan nya pada ku untuk di urus." batin Mile.


"Bawa kakak kamu duduk di depan." ucap Bu Vina pada Roy. mereka pun duduk di sofa depan, Roy membawa kan kopi untuk kakak nya Itu.


"Humm seperti nya Tiara tidak datang ini karena kakak kan?" ucap Roy. Mile yang tadi nya hanya diam saja langsung menatap adiknya dengan tatapan tajam.


"Apa yang kamu maksud?" tanya Mile. "Kakak melarang Tiara datang ke Sini?" ucap Roy lagi.


"Jaga bicara kamu! Kamu tidak berhak mengurus rumah tangga saya. Tiara adalah istri saya, dia tidak datang itu bukan urusan kamu!" ucap Mile.


"Apa yang sedang kalian perdebat kan? Tiap bertemu kamu tidak berhenti marah-marah kepada adik kamu sendiri." ucap pak Daniel baru saja pulang.


Mereka berdua diam. "Kamu seharusnya bisa belajar menerima adik kamu. Bukan Tiap ketemu selalu memarahinya." ucap pak Daniel.


"Aku tidak bermaksud seperti itu Pah." jawab Mile. "Sudah jangan ribut terus, lebih baik minum dulu, nih ada roti." ucap Bu Vina.


"Terimakasih mamah." ucap Roy.


"Papah dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kasihan Mile sudah menunggu." ucap Bu Vina.


"Istri kamu mana?" tanya pak Daniel.


"Dia tidak bisa datang karena ada urusan Pah. Dia minta maaf karena urusan nya tidak bisa di tinggal." ucap Mile.


Dia melirik ke arah Roy yang menatap nya juga dengan tatapan tajam.


"Oh iya besok papah mau mengadakan USG yang terbuka, Papah dan mamah ingin melihat jenis kelamin anak kamu." ucap Pak Daniel.

__ADS_1


"Loh bukannya Papah sebelum nya mengatakan kalau itu adalah rahasia? Tidak ada yang boleh mengetahui nya sebelum anak itu lahir?" ucap Mile.


"Firasat papah Kuat kalau anak kamu adalah laki-laki, itu sebabnya papah ingin tau. Tidak sekali dua kali Papah bermimpi tentang itu." ucap pak Daniel.


__ADS_2