
"Oh iya bagaimana pekerjaan kamu? Om dengar kamu memiliki bisnis baru."
Rafi mulai mau banyak berbicara. Mereka terlihat sangat kompak sekali, Enjel dan Mamah nya yang melihat itu sangat senang sekali.
"Ketika wajah Rafi tidak dingin dan tidak kaku dia sangat Tampan yah Mah." ucap Enjel. Mamah nya tersenyum. "Kamu sangat Cocok pada nya, tampan, kaya, baik, sopan dan juga tidak banyak protes. Semoga kamu bahagia dengan dia." ucap Mamah nya.
Enjel tersenyum.
Rafi di tinggal oleh papah nya Enjel menjawab telpon. Dia langsung keluar.
Dia menelpon Alisa namun ponsel nya tidak aktif. "Seperti nya dia ketiduran." batin Rafi. Dia meminta Alisa balik ke apartemen nya saja, namun Alisa memilih untuk pulang ke rumah takut orang tua nya khawatir.
"Sayang di sini ada acara keluarga, aku tidak bisa meninggal kan nya, kamu sendiri tidak apa-apa kan?" tanya Rafi mengirim pesan pada Alisa.
"Seperti nya dia sudah sangat lama menunggu ku memberikan kabar, aku lupa karena asik berbicara." batin Rafi.
Dia duduk di depan menunggu balasan dari Alisa namun tak kunjung di balas sehingga dia berfikir kalau Alisa marah.
Setelah selesai menata makanan di ruangan yang begitu luas Enjel baru sadar kalau Rafi tidak di ruang tamu.
"Rafi mana Pah? tamu Sudah datang. Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Enjel. "Humm seperti nya di Depan, kamu panggil saja." ucap mamah nya.
Enjel pun berjalan ke depan. Dia melihat Rafi yang duduk di kursi bawah pohon.
"Sayang." panggil Enjel dari belakang sehingga membuat Rafi Terkejut. "Ya ampun Enjel, kamu bisa gak sih jangan mengejutkan aku." ucap Rafi.
"Maaf, lagian kamu lagi ngapain? Nungguin kabar dari siapa?" tanya Enjel melihat ponsel Rafi.
"Enggak ada, saya hanya membahas pekerjaan." ucap Rafi langsung mematikan layar ponsel nya. "Humm.." Ucap Enjel tidak percaya.
"Lantas kenapa kamu duduk di sini? Semua orang sudah di dalam." ucap Enjel. "Saya hanya sedikit tidak terbiasa, tidak begitu kenal dan juga kalau saya tau ada acara pakaian saya tidak ini." ucap Rafi.
"Kamu sangat tampan dengan pakaian formal seperti ini, aku suka kok." ucap Enjel. Rafi mengawas kan tangan Enjel dari Jas nya.
__ADS_1
"Gak enak kalau ada yang lihat." ucap Rafi. Enjel tersenyum.
"Kita sudah mau tunangan, Wajar saja jika kita romantis. Apa salah nya?" ucap Enjel.
"Kamu sudah tau aku tidak terbiasa." ucap Rafi. "Baiklah-baiklah." ucap Enjel. "Kalau begitu kita masuk saja." ucap Enjel.
Rafi menganguk. Rafi duduk di samping papah nya Enjel.
"Oh iya kenalin dulu nih Calon Menantu di keluarga ini. Dia pria yang baik dan juga sangat tampan." ucap papah nya Enjel.
Rafi yang mendengar itu tersenyum. Keluarga Enjel memperlakukan dia begitu baik sehingga dia cukup nyaman. Keluarga mereka sangat hangat sekali banyak candaan, banyak juga yang membuka topik pembicaraan sehingga tidak terasa dingin.
Sudah jam Enam Sore. Bibik membantu me lap badan Tiara yang terasa lengket. Dia tidak nyaman. "Bik belum ada kabar kalau Mile mau ke sini yah?" tanya Tiara.
"Non tau sendiri den Mile tidak akan pernah cepat pulang. Namun saya juga tidak tau kali ini." ucap Bibik Ja. Tiara menghela nafas panjang.
"Non Tiara jangan sedih gitu dong, kan ada Bibik di sini." ucap Bibik Ja.
"Aku ingin bertemu dengan Mile bik." ucap Tiara. Bibik Ja tidak bisa mengatakan apapun karena dia paham posisi Tiara.
"Bik kapan aku bisa keluar dari sini? Aku tidak nyaman berada di sini." ucap Tiara.
"Setelah keadaan non Tiara benar-benar pulih, ini adalah perintah Tuan Daniel." ucap Bibik Ja. Tiara menghela nafas panjang.
"Punya mertua hanya sayang kepada Calon Cucu nya sa..." tiba-tiba dia berhenti berbicara karena pak Daniel masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
"Tuan.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibik Ja.
"Saya akan pulang dengan istri saya. Saya titip Tiara sampai suami nya datang." ucap pak Daniel. Bibik Ja menganguk. Pak Daniel menoleh ke arah Tiara. Tiara terkejut namun dia tidak mau menatap nya.
"Tiara, Bibik Ja, kami pulang dulu yah." ucap Bu Vina. Tiara mengangguk, Bibik Ja tersenyum.
"Kamu cepat sembuh yah, besok Mamah datang lagi." ucap Bu Vina.
__ADS_1
Tiara menahan tangan Bu Vina. "Aku ingin berbicara dengan mamah." ucap Tiara. Bu Vina menoleh ke arah suami nya.
Pak Daniel langsung mengerti dia pun keluar dari sana.
"Loh kenapa Tuan di sini? bukan nya Tuan tadi mau pulang?" tanya dokter yang baru Saja mau masuk ke ruangan Tiara. "Saya menunggu istri saya." ucap pak Daniel.
"Tiara ingin berbicara dengan dia." ucap Pak Daniel. Saat mau masuk Bu Vina sudah keluar. Dia tersenyum pada dokter dan setelah itu mereka meninggalkan rumah sakit itu.
"Non Tiara obat nya sudah di minum? Ini untuk obat malam nya yah." ucap dokter. Tiara hanya diam saja.
"saya periksa dulu keadaan non Tiara." ucap dokter itu.
"Saya sudah lebih Baikan sekarang, tidak perlu melakukan periksa karena tidak ada gunanya." ucap Tiara. Dokter terdiam. "Kenapa non Tiara berbicara seperti itu? Dokter ini hanya ingin non Tiara sembuh." ucap Bibik Ja.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Dokter Sisi." ucap Tiara sangat senang sekali. Dokter kandungan nya yang pertama datang.
Dokter baru itu melihat Tiara Cukup dekat dengan nya langsung diam. Dokter Sisi memeriksa kesehatan Tiara.
"Sudah lebih baik, lain kali memakan sesuatu jangan sembarangan yah." ucap Dokter Sisi. Tiara mengangguk.
"Tidak ada tugas Ibu di sini, kenapa Ibu datang ke sini? saya sudah di utus untuk menjadi dokter kandungan non Tiara." ucap dokter baru.
"Saya ke sini atas permintaan Ibu Vina dan Pak Daniel." ucap dokter sambil menunjuk kan isi pesan. Tiara tersenyum.
"Saya tidak bisa lama-lama di sini, besok pagi saya akan ke sini lagi." ucap dokter Sisi. "Baik dokter, terimakasih banyak yah." ucap Tiara.
Semua mereka pun langsung keluar tinggal hanya Bibik Ja dan Tiara.
"Loh Non kok Obat nya di buang?" tanya Bibik Ja melihat Tiara membuat nya ke dalam tong sampah.
"Sststt!! Jangan kuat-kuat bik." ucap Tiara.
Bibik Ja langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ini adalah Obat dari dokter Baru itu, aku tidak yakin dengan obat yang di berikan oleh dia. Sangat berbeda sekali dengan obat yang di berikan oleh dokter Sisi." ucap Tiara.
"Kenapa non Tiara berbicara seperti itu?" tanya Bibik Ja.