
"Kalau malu tidak perlu di jawab. kami tau kok kalau anak satu-satunya Mamah sama papah sedang jatuh cinta." ucap Orang tua nya.
Alisa tersenyum malu. "Papah dengar-dengar Rafi adalah salah satu pengusaha muda yang sudah sangat sukses. Orang tua nya juga orang terpandang. Mamah sama papah sangat merestui kamu dengan dia." ucap Orang tua nya.
"Tapi orang tua nya gak suka sama aku Pah." batin Alisa, dia tidak berani mengatakan nya langsung.
"Sudah lah Pah, aku tidak mau membahas nya." ucap Alisa. "Humm kamu kebiasaan gak pernah kasih tau dekat dengan siapa dan pada akhirnya setelah putus cinta Nangis dan mengadu kepada orang tua." ucap Mamah nya.
"Sudah mah, biar kan saja dia. Namanya juga anak jaman sekarang memang seperti itu. Ada aneh-aneh nya sedikit." ucap pak Sean.
Mereka pun tertawa. "Mamah papah! Aku mendengar nya." ucap Alisa. Orang tua nya langsung diam.
"Bagaimana mah? Apa kue nya sudah jadi?" tanya Pak Sean.
"Sabar yah Pah." ucap istri nya.
Alisa di kamar. Dia meminjam ponsel Mamah nya.
"Untung aja aku hapal nomor Rafi." ucap Alisa. Dia mengirim kan pesan pada Rafi.
"Jangan khawatir kan aku. Nanti sore aku akan ke apartemen kamu." ucap Alisa. Langsung di balas oleh Rafi.
"Baiklah sayang, aku merindukan kamu." balas Rafi.
"Seharusnya aku harus mengabari dia terlebih dahulu sebelum tidur. Dia datang ke sini pasti membuat papah dan mamah berfikir yang aneh-aneh." ucap Alisa.
Dia menghapus pesan nya dengan Rafi baru mengembalikan ponsel kepada orang tua nya.
"Alisa nanti mau ikut olahraga lagi gak?" tanya pak Sean.
Alisa Menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak kuat Pah, aku mudah Lelah, sekarang badan ku terasa sakit-sakit." ucap Alisa.
Mereka duduk di meja makan.
"Apa kamu jadi ikut pulang dengan papah sama Mamah?" tanya pak Sean pada Alisa.
Alisa menatap wajah kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Aku minta maaf Mah, Pah. Aku rasa kepulangan ku di undur dulu." ucap Alisa.
"Kenapa begitu nak? Kita sudah sepakat sebelum nya?" ucap Pak Sean.
"Iyahh Pah aku tau, tapi aku berubah fikiran."' ucap Alisa.
"Tapi aku akan Pulang kok Pah. aku pasti pulang." ucap Alisa menyakinkan orang tua nya.
"Karena apa nak? Kamu pasti mempunyai alasan kenapa gak jadi ikut dengan kami." ucap Mamah nya.
"Aku..." dia terdiam lagi seperti mau membicarakan sesuatu namun dia tidak berani.
"Karena Rafi Yah?" tanya Mamah nya. Alisa menganguk kan kepala nya. "Aku baru saja jadian dengan Rafi mah, Pah." ucap Alisa.
Orang tua nya Menghela nafas panjang.
"Papah sama Mamah jangan berfikir terlebih dahulu kalau aku lebih mementingkan Rafi." ucap Alisa memegang tangan kedua orang tuanya.
"Aku pasti akan pulang, Tapi aku Masih ingin bersama Rafi." ucap Alisa. "Baiklah kalau begitu yang kamu mau nak, Mamah sama papah tidak bisa memaksa kamu." ucap Mamah nya.
Alisa menatap wajah papah nya.
"Iyah Pah aku janji." ucap Alisa. "Kalau kamu datang jangan lupa bawa calon menantu papah yah." ucap pak Sean. Alisa tersenyum dia memeluk papah nya.
"Terimakasih yah Pah. Aku sayang sama papah." ucap Alisa.
"Papah juga sayang sama Alisa. Apapun yang membuat Alisa senang Papah Akan mengijinkan nya selagi itu hal yang positif." ucap pak Sean.
Di sebuah Cafe yang sangat ramai pengunjung.
"Vandi kita harus kembali ke Jakarta Besok, kenapa kamu Masih santai saja?" Tanya Riska.
"Kita baru saja lepas dari tugas-tugas kampus, sekarang aku ingin bersantai sebelum kembali ke Jakarta." ucap Vandi.
"Lagian penerbangan kita Siang, pagi nya Masih bisa siap-siap." ucap Vandi.
"Kalau seandainya Om Mile tau kamu seperti ini, dia pasti akan marah. Kamu harus ingat pekerjaan kita belum selesai. Selagi itu belum selesai kita belum bisa bersantai." ucap Riska.
__ADS_1
"Aku tau Mbak, nanti kalau sudah pulang aku akan menyelesaikan nya." ucap Vandi. "Kok mbak Hanya sendirian saja? Mbak Rika sama Lena mana?" tanya Vandi.
"Mereka ada janji dengan teman-teman nya." ucap Riska.
"Oh iya kamu tau gak kalau Tante Tiara di rumah sakit?" tanya Riska. Vandi Menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak tau, kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Vandi. "Mungkin Karena hamil." ucap Riska.
"Huff kasihan sekali Tante Tiara. Aku yakin kakek pasti menyalah kan Tante Tiara." ucap Vandi.
"Nah itu dia Vandi. Secara kan anak yang di kandungan Tante Tiara adalah pewaris keluarga Minor." ucap Riska.
"Aku sekarang tidak mau membahas itu, aku ingin tau bagaimana nilai mbak? kalau jelek siap-siap lah Om Mile akan marah." ucap Vandi.
"Nilai kamu yang jelek, nilai aku jelas sudah Bagus." ucap Riska. Melihat nilai Riska membuat nya menciut. "Siap-siap lah terkena semburan tajam dari om Mile." ucap Riska.
"Mile ayo temanin Mamah menemui dokter istri kamu, Dia harus di periksa." ucap Bu Vina pada Mile yang duduk di luar ruangan.
Mile berdiri. "Saya bisa sendiri." ucap Mile. Bu Vina menghela nafas panjang. "Ada yang harus saya bicarakan dengan dokter nya." ucap Bu Vina.
Mile tidak bisa mengatakan tidak akhirnya dia pun mengantar kan Mamah sambung nya itu.
"Tiara bagaimana bisa sampai sakit seperti ini? Ibu sudah bilang kamu harus menjaga kandungan kamu dengan baik." ucap Bu Rosa.
"Iyah Bu aku tau, aku sudah melakukan yang baik, namun sakit nya datang begitu saja." ucap Tiara.
"Kamu sungguh payah. Kalau kamu sering menyusahkan keluarga suami kamu dan orang tua kamu seperti ini Akan membuat pak Daniel muak." ucap Bu Rosa.
Tiara menghela nafas panjang.
"Kalau ibu dan Ayah merasa di repot kan datang ke sini lebih baik kalian tidak perlu datang. Aku juga tidak ingin Ibu dengan Ayah di sini." ucap Tiara.
"Jaga bicara mu Tiara!" ucap pak Yuda membentangkan Tiara. Wajah Tiara langsung takut.
"Kamu selalu saja seperti ini, selalu melawan, tidak bisa di nasehati.. Sudah cukup selama ini ibu dengan Ayah diam saja melihat kelakuan kamu. Jangan membuat kami malu." ucap Bu Rosa lagi.
Tiara menghela nafas panjang. "Aku ingin istirahat Ibu, Ayah. Aku minta maaf kalau melakukan kesalahan." ucap Tiara.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak ada sopan kepada kami. Mengusir kami padahal kami sudah datang jauh ke sini untuk melihat kamu." ucap Pak Yuda.
"Aku hanya tidak ingin ibu dengan Ayah lebih lama di sini, aku tidak bisa membayar waktu kalian yang sudah habis menemani dan menghakimi aku di sini." ucap Tiara.