
"Oohh, seperti nya saya sangat mabuk sehingga salah kamar. Pin pintu kamar kamu dengan pintu kamar saya hampir sama. Maafin saya." ucap Kin.
Dia pun segera keluar dengan setengah sadar. Sisi hanya bisa membiarkan Kin pergi begitu saja.
"Dia mabuk? Kenapa tidak tercium bau alkohol?" batin Sisi. "Ah sudahlah aku tidak perduli lagi." ucap Sisi. Kin berbaring melanjutkan tidur nya namun tiba-tiba dia teringat informasi pencarian semalaman
Dia langsung bangun dan memeriksa komputer nya ternyata sudah banyak pesan dari anak buah nya. Mereka mulai mencurigai seseorang.
Setelah di pikir-pikir Kin juga Curiga pada orang tersebut.
"Apa mungkin dia? Tapi tidak mungkin." ucap Kin berfikir keras.
"Aku harus mencari tau terlebih dahulu apa masalah nya dengan Pak Daniel dan juga Mile." ucap Kin.
Karena orang tersebut bukan orang sembarangan, kalau orang itu tau di mata-matai Kin pasti dalam masalah.
Dia meminta orang nya mencari tahu terlebih dahulu.
Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar nya dengan pakaian Rapi. "Tuan kenapa sangat cepat berangkat ke kantor?" tanya Bibik ibu nya Sisi.
"Saya ada pekerjaan yang mendadak. Saya juga tidak sarapan di rumah." ucap Kin. Dia melewati meja makan dan melihat Sisi yang sudah menata makanan.
"Saya akan sarapan terlebih dahulu." ucap Kin langsung ketika melihat Sisi. Bibik hanya bisa terdiam melihat Kin yang terlihat sangat Aneh.
"Berikan saya sarapan." ucap Kin pada Sisi. Sisi Menganguk.
Namun saat menyendok kan lauk tidak sengaja Kin menyentuh tangan Sisi. Sisi segera melepaskan nya.
"Apa kamu masih marah kepada saya?" tanya Kin. Sisi diam. "Saya tidak melihat senyuman kamu hari ini itu artinya kamu masih marah kepada saya." ucap Kin.
Sisi tetap diam.
"Huff wanita memang sulit di tebak yah." ucap Kin. "Sebaiknya Tuan segera sarapan agar tidak telat." ucap sisi.
"Baiklah, apa ini yang masak kamu?" tanya Kin. Sisi diam.
"Kamu tidak kuliah?" tanya Kin lagi.
"Tuan lebih baik Makan yang benar, aku akan bantu ibu di dapur." ucap sisi.
Namun Kin menahan tangan Sisi.
"Kamu boleh marah tapi jangan mendiamkan saya seperti ini. Temanin saya di sini." ucap Kin meminta Sisi Duduk di samping nya.
Sisi akhirnya duduk walaupun sebenarnya sangat berat.
__ADS_1
Kin tidak berhenti menggoda Sisi agar dia tersenyum namun Sisi kelihatan nya sangat kesal sehingga dia tidak mau berbicara apapun lagi.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. "Saya akan berangkat ke kantor." ucap Kin. Sisi Menganguk.
"Saya pergi yah." ucap Kin. Sisi hanya mengangguk sambil membersihkan meja. Tiba-tiba Kin duduk lagi.
"Loh kenapa tuan tidak jadi pergi?" tanya Sisi.
"Kamu tidak ingin mengatakan kata-kata penyemangat untuk saya?" tanya Kin.
"Gak usah lebay deh Tuan. Lagian biasa nya tidak seperti ini." ucap Sisi.
"Kamu biasa tersenyum, namun sekarang kamu malah diam saja." ucap Kin.
Sisi langsung tersenyum. "Sudah! Apa Tuan puas?" ucap Sisi. Kin langsung tersenyum.
"Ya udah kalau begitu saya berangkat dulu yah." ucap Kin mengelus kepala Sisi dan segera pergi.
Sisi melihat Kin keluar.
"Seandainya Tuan tau kalau aku sangat mencintai tuan." ucap Sisi dalam hati.
"Tapi aku rasa hubungan kita hanya sebatas pelayan dan Bos tidak Akan lebih, aku juga harus sadar diri." ucap Sisi.
"Sebaiknya kamu dengan Kin jangan terlalu dekat nak, Ibu tidak tahan mendengar gosip-gosip orang yang melihat nya." ucap Ibu nya.
Di tempat lain Mile baru saja selesai Meeting.
"Tuan ini ada surat dari orang yang tidak di kenal." ucap Staf nya.
Mile mengambil nya dan membuka nya.
dengan sejuta penasaran dia membuka nya. Dia membaca nya.
"Istri mu ada di tangan ku, sediakan uang senilai 2 M cash" isi surat itu. Namun tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone nya.
Ada alamat yang tertera di sana.
"Sialan!" Mile merasa kesal sekali.
"kau harus datang sendiri. Kalau tidak saya tidak bisa menjamin istri mu Akan selamat." isi pesan terakhir.
"Siapa yang berani melakukan ini." ucap Mile. Tiba-tiba Kin datang.
"Ada apa?" tanya Kin. Dia melihat Mile terlihat sangat marah. Dia mengambil surat itu.
__ADS_1
Dia juga membaca pesan itu. "Ingat Mile uang 2 M tidak seberapa dari pada nyawa istri mu." ucap Kin.
Mile menatap Kin.
"Setelah saya mendapatkan Tiara kembali kau akan mengambil nya bukan?" ucap Mile. Kin terdiam.
"Kalau kau tidak ingin menebus nya saya akan melakukan nya. Namun harus kau yang kesana." ucap Kin.
"Kau menjebak ku kan? Kau sengaja melakukan itu kan?" ucap Mile. "Berfikir positif Mile. Jangan membiarkan emosi menguasai diri mu. Untuk sekarang ini kita harus bekerja sama." ucap Kin.
"Jangan memberikan dia uang itu. Kita sedang di permain kan." ucap Mile.
"Kita harus menuruti keinginan nya terlebih dahulu, selebihnya saya akan mengatur semua nya." ucap Kin.
"Saya akan mengirim kan uang itu kepada kau." ucap Kin.
"Uang segitu bukan sedikit tuan. Ayo coba pikirkan lagi." ucap Sekretaris Kin.
Kin tidak menghiraukan nya.
"Apa benar anak itu adalah anak Kin? Seperti nya dia tidak berbohong karena dia rela berkorban seperti ini." batin Mile.
"Kamu tidak perlu mengeluarkan uang itu. Saya yang akan memberikan nya." ucap Mile.
"Simpan saja uang mu, saya sudah meminta orang saya untuk membawa uang itu ke sini." ucap Kin.
Tidak heran kalau Kin seperti itu, kekayaan mereka hampir seimbang namun paling terkenal Mile namun yang di segani adalah Kin.
"Sore itu mereka langsung Otw ke alamat yang sudah di kirim oleh orang yang tidak di kenal itu.
"Apa benar ini tempat nya?" ucap Mile melihat tempat yang begitu sepi dan seperti nya sangat rawan, bangun yang tidak di tempati membuat nya takut.
Kin berpirasat kalau mereka sedang di permain kan seperti yang di katakan Mile tadi.
"Kau harus Mengantarkan sendiri ke dalam jangan membawa siapa pun." Tiba-tiba pesan masuk.
Mile menoleh ke arah Kin.
"Pergi lah, kamu akan memantau dari luar." ucap Kin.
Mile turun membawa koper ke dalam.
Dia semakin masuk ke dalam namun tidak mendengar apapun.
Tiba-tiba ada orang yang berdiri di depan nya memakai topeng.
__ADS_1
"Saya datang membawa tebusan istri saya. Sekarang kembali kan istri saya!!" ucap Mile.
"letak kan uang itu terlebih dahulu. Kami harus memastikan itu uang asli." ucap pria bertopeng itu sambil mengancam dengan senjata.