Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 155


__ADS_3

Rafi membaca pesan itu.


"Tiara tidak akan pergi dari rumah tampa memberi tahu dia mau kemana kalau tidak ada masalah." ucap Rafi dia mengingat waktu adik nya belum menikah.


Dia selalu bilang mau kemana dengan jujur walaupun tidak di ijinkan dia tetap pergi diam-diam.


Mile membersihkan tubuh nya agar seger karena dari malam dia tidak mandi sama sekali.


Setelah selesai mandi dia memakai pakaian rapi.


"Permisi Tuan, saya membawa makan siang untuk Tuan." ucap Bibik. Mile menatap Bibik Ja. "Non Tiara mungkin akan sedikit lama Pulang sehingga tidak bisa menyiapkan makan untuk Tuan." ucap Bibik Ja.


"Letakkan saya di atas meja." ucap Mile.


"Baiklah Tuan." Bibik Ja Menata makanan di atas meja kamar bos nya itu.


"Tunggu dulu bik." ucap Mile menahan Bibik Ja yang mau keluar. "Iyah Tuan." jawab Bibik Ja sambil menoleh ke arah Mile.


"Saya mau minta bantuan Bibik menghubungi Tiara untuk segera pulang. Ponsel saya rusak." ucap Mile. Bibik Ja melihat ponsel dua di atas meja, laptop dan juga tap Masih banyak yang lainnya.


"Semua itu tidak bisa di gunakan, saya lupa untuk mengisi daya nya." ucap Mile. Bibik Ja tersenyum.


"Baik Tuan, saya akan segera menghubungi Non Tiara." ucap Bibik Ja.


Bibik pun keluar. Mile melihat makanan yang di atas meja.


"Aku sudah sangat bosan dengan makanan ini setiap hari!" ucap Mile.


Dia keluar dari ruangan itu dan masuk ke ruangan kerja nya.


"Alisa!" panggil Tiara yang duduk sendirian di luar. Sementara Alisa baru saja mengantarkan teman-teman nya ke depan.


"Iyah." ucap Alisa sambil duduk di depan Tiara.


"Apa benar yah kalau kamu mau kembali kerja di perusahaan orang tua kamu?" tanya Tiara. "Dari mana kamu tau?" tanya Alisa.

__ADS_1


"Orang tua kamu bilang." ucap Tiara. "Aku sih baru merencanakan nya. Tapi aku belum yakin dengan keputusan ku." ucap Alisa.


"Dari dulu kamu selalu saja bertukar-tukar tempat kerja tidak pernah betah sama sekali." ucap Tiara. Alisa tersenyum.


"Paling lama kamu hanya bekerja sama kakak ku." ucap Tiara.


"Aku ketika kurang nyaman aku akan terus pindah." ucap Alisa. "Apa orang-orang Kantor mengganggu kamu? aku rasa tidak deh. Kalau begitu aku akan berbicara dengan Mile." ucap Tiara.


Alisa tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya.


"Nyaman kok bekerja di perusahaan suami kamu, hanya saja dari pada menjadi karyawan di sana lebih baik aku di perusahaan orang tua Ku." ucap Alisa.


"Oohh begitu. Ya udah deh terserah kamu saja, yang penting kamu nyaman." ucap Tiara. Alisa mengangguk.


"Humm soal Pak Rafi kemarin ada apa yah? Maafin aku terlalu penasaran hanya saja pak Rafi kelihatan sangat Sedih." ucap Alisa.


Tiara tersenyum. "Sebenarnya kamu mengkhawatirkan dia kan?" tanya Tiara.


"Bukan begitu juga, aku hanya penasaran." ucap Alisa. Tiara tersenyum. "Ah sudahlah aku juga tidak perduli, untuk apa juga aku tau." ucap Alisa.


"Baiklah-baiklah aku akan kasih tau, tapi kamu janji jangan bilang sama kak Rafi yah." ucap Tiara. Alisa menganguk.


"Orang tua ku meminta untuk kakak ku segera tunangan dengan Enjel. Namun kakak ku tidak mau sampai mereka ribut hebat." ucap Tiara.


Alisa terdiam sejenak. "Kakak ku sangat mencintai kamu sehingga dia menentang orang tua ku, kenapa kamu tidak mencoba untuk menjalin hubungan dengan dia?" tanya Tiara.


"Aku tidak mau membahas tentang itu Tiara." ucap Alisa. "Baiklah aku paham kok, lagian tidak ada gunanya juga aku membahas nya. Kak Rafi sudah memutuskan untuk melupakan kamu, begitu juga dengan kamu yang tidak akan mungkin menerima kakak ku." ucap Tiara.


Alisa menatap wajah Tiara.


"Aku bukan bermaksud untuk mengabaikan pak Rafi atau menyakiti perasaan nya. Hanya saja aku memikirkan kalau pak Rafi sudah mempunyai calon." ucap Alisa.


"Kalau sebelumnya kamu berfikir seperti itu kamu tidak perlu memberikan nya harapan, setelah dia sudah nyaman dengan kamu, baru kamu mengatakan hal ini." ucap Tiara.


"Aku sama sekali tidak tau kalau pak Rafi memiliki calon. Dia tidak mengatakan apapun dan kamu juga tidak bilang apapun pada ku waktu itu." ucap Alisa.

__ADS_1


Tiara terdiam. "Aku minta maaf sudah membuat hati kakak kamu sedih, tapi aku juga tidak menginginkan ini karena aku juga mempunyai hati." ucap Alisa.


"Apa sebelumnya kamu mencintai kak Rafi?" tanya Tiara. Alisa diam. Tiara Menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu harus membohongi perasaan kamu sendiri Alisa?" tanya Tiara.


"Awal nya aku mulai mempunyai perasaan pada Pak Rafi. Namun Enjel sangat membenci aku, semua orang Kantor tidak suka aku dekat dengan pak Rafi." ucap Alisa.


"Dan aku perlahan sadar kalau dengan pak Rafi tidak membuat ku bahagia, orang tua kamu juga sangat tidak suka pada ku. Kak Rafi tidak bisa menghargai aku." ucap Alisa.


Tiara terdiam. "Agar kamu tahu pak Rafi memaksa ku untuk tinggal di apartemennya, memaksa ku, bahkan mengekang ku melakukan kekasaran pada ku." ucap Alisa dia berusaha menahan air mata nya.


Tiara mengingat di saat dia curiga kalau ada wanita yang tinggal di apartemen kakak nya dan ternyata itu adalah Alisa.


"Tidak mungkin kakak ku melakukan hal seperti itu. Dia mencintai kamu, dia tidak akan kasar." ucap Tiara. Alisa menunjukkan Memar di bagian leher belakang nya. Di pergelangan, dan pinggang nya.


"Apa ini kurang untuk membuat kamu Percaya?" ucap Alisa. Tiara langsung terdiam. "Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena aku sadar dia sangat mencintai ku sehingga dia tidak sadar." ucap Alisa.


"Perlahan perasaan ku hilang begitu saja. Dari awal aku mencintai dia sekarang hanya ada rasa takut dan benci." ucap Alisa. Air mata nya langsung keluar.


Tiara memegang tangan Alisa. "Aku minta maaf atas sifat kakak ku, tapi percayalah dia sangat mencintai kamu." ucap Tiara.


Alisa Menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada gunanya lagi Tiara. Aku juga tidak perduli." ucap Alisa. Tiara terdiam dia tidak bisa mengatakan apapun lagi karena itu adalah salah besar kakak nya.


Dia memeluk Alisa. "Maafin aku yang tidak ada waktu itu. Aku sangat merasa bersalah sekali." ucap Tiara.


Dia bisa merasakan sakit hati Alisa.


Setelah Alisa tenang dia pun ijin untuk pulang. Walaupun sudah malam dia tidak pulang ke rumah nya melainkan ke apartemen kakak nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Dia masuk dengan kartu cadangan nya.


Dia datang langsung mendorong Rafi yang hendak menghampiri nya, dia terlihat sangat emosi sementara Rafi Terkejut dan kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2