Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku

Pria Dingin Itu Adalah Suami Ku
Part 55


__ADS_3

Tiara berdiri dia mendekati Mile.


"Jangan marah dong, Roy hanya membantu aku untuk menenangkan diri." ucap Tiara dengan nada yang sangat Lemas sekali dia bersandar ke badan Mile.


Tiba-tiba Mile menghindar dia menjauh dari Tiara.


Dia mau marah percuma saja karena Tiara tidak akan perduli dia sama sekali tidak sadar. Dia pun meninggalkan Tiara di bawah.


"Den, Den Mile." panggil Bibik memanggil Mile yang langsung naik ke atas. Bibik melihat Tiara yang jongkok di lantai. Bibik membantu nya naik ke atas sofa.


"Bik kenapa Mile marah? Aku gak salah apa-apa kan?" ucap Tiara. "Ayo naik ke atas dulu non." ucap Bibik membantu Tiara naik ke atas sofa.


Tiara akhirnya tidur dengan gelisah di sofa sehingga Bibik jadi kewalahan menghadapi nya.


Pagi hari nya Tiara baru saja bangun.


"Aaahh kenapa badan ku sakit sekali? Kepala ku sangat pusing." ucap nya sambil berdiri. Dia melihat Semua Keponakan Mile keluar dan terakhir Mile.


Tiara melihat Mile keluar dia langsung melihat jam, ternyata dia bangun kesiangan. Namun kali ini tidak ada yang perduli pada nya, mereka pergi begitu Saja.


"Non Tiara sudah bangun? mari saya bantu ke kamar." ucap Bibik. "Kenapa Bibik tidak membangun kan ku? Mile pasti Akan marah kalau tidak di layani." ucap Tiara.


"Humm tadi saya sudah membangun kan Non Tiara namun sepertinya Non Tiara sangat nyenyak sehingga tidak melanjutkan untuk membangun kan, dan den Mile pun melarang saya membangun kan non Tiara." ucap Bibik.


Tiara pun diam dia termenung sambil mengingat apa yang terjadi semalam pada nya. Dan dia sangat ingat kalau Mile menatap nya dengan tatapan tajam.


"Non Tiara tadi malam Mabuk yah? Bibik sudah Bilang kalau minuman keras bisa membuat Janin Non meninggal." ucap Bibik.


"Dan kalau bapak tau dia pasti akan sangat marah." ucap Bibik. Tiara tetap diam.


"Seperti ini saya juga bingung mau bilang apa lagi pada bapak kalau bertanya tentang Non Tiara. Non selalu saja bertindak semaunya non sendiri." ucap Bibik Ja.


Dia juga sangat kecewa pada Tiara karena khawatir dengan keselamatan Tiara dan janin nya.


"Nok Tiara sebaiknya pindah ke kamar." ucap Bibik Ja dan meninggalkan Tiara.


Tiara baru kali ini melihat Bibik Ja sangat kecewa pada nya dari nada berbicara nya saja membuat Tiara tau. Tiara melihat Bibik Ja pergi. Dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak berniat untuk minum tadi malam, namun dia tidak bisa menahan godaan Teman nya, apalagi dia bertemu dengan Roy di sana. Dia menghampiri Roy dan mereka party sama-sama.


Alhasil Roy khawatir dan mengantar kan Tiara pulang.


Tiara langsung masuk ke dalam kamar nya untuk mandi agar lebih segar.


Di tempat lain Mile baru masuk ke rumah utama membawa semua keponakan nya.


"Akhirnya kamu datang juga Nak, ayo silahkan duduk." ucap pak Daniel menyambut mereka dan ternyata di sana ada Ayah nya Tiara.


"Papah mengundang kalian ke semua di sini agar bisa semakin dekat dengan rekan kerja kita." ucap pak Daniel.


Tiba-tiba Roy datang. Mile menatap Roy begitu juga dengan Roy yang tersenyum tipis namun tetap saja kelihatan wajah ngeselin nya.


"Silahkan duduk nak." ucap Pak Daniel pada Roy Duduk di sebelah kiri dan Mile di sebelah Kanan nya.


"Mulai dari sekarang Kalian semua harus kerja sama." ucap Pak Daniel.


Masih banyak pembicaraan mereka yang di bahas oleh Pak Daniel namun tiba-tiba Mile menggeprak Meja ketika papah nya bilang Roy akan menjadi sekertaris Mile.


Semua mata tertuju pada Mile.


"Saya tidak setuju Roy menjadi sekretaris di perusahaan Pah. Bukan nya dia bekerja dengan Papah? Jangan pernah melibatkan anak ini pada ku." ucap Mile.


"Ini demi kebaikan kamu, agar kamu tidak terlalu kelelahan." ucap pak Daniel. "Saya sama sekali tidak pernah mengeluh kelelahan melaksanakan tugas-tugas saya, jadi papah harap dia bisa masuk ke perusahaan." ucap Mile.


"Sebaiknya tidak perlu Pah. Tidak baik juga jika memaksakan. Kita lihat saja bagaimana bisnis nya akan berjalan dengan lancar." ucap Roy dengan senyuman sinis.


Mile menatap tajam wajah Roy seperti mau memakan nya namun dia harus menjaga Sifat nya.


"Oh iya nak Mile, bagaimana keadaan Tiara? Apakah dia baik-baik saja?" tanya pak Yuda.


Mile menatap Mertua nya itu.


"Baik Ayah." ucap Mile.


"Kamu sungguh tidak sabar menunggu kelahiran pewaris keluarga itu, dia sungguh anak yang di tunggu-tunggu." ucap Pak Yuda.

__ADS_1


Pak Daniel dan pak Yuda tertawa.


"Vandi kamu kali ini harus ikut dengan Roy, kamu juga harus lebih mengenal Om Roy." ucap Pak Daniel.


"Tidak bisa Pah. Orang tua mereka mempercayakan mereka dengan ku, jadi mereka tidak bisa bersama orang lain." ucap Mile.


"Roy adalah Adik kamu, dia anak papah bukan orang lain!" ucap pak Daniel.


"Sebaiknya aku terus bersama dengan Om Mile Kakek, karena aku juga sudah merasa nyaman di sana." ucap Vandi.


"Kapan kalian Akan kembali ke kampus masing-masing? Kakek ingin membawa kalian melihat proyek-proyek yang baru saja berhasil di buat oleh Mile." ucap kakek.


"Mungkin sekitar sebulan lagi Kakek." Jawab Lena.


"Oohhh, cukup lama juga, berarti kakek Akan mengatur waktu nya nanti." ucap Kakek.


Mereka semua mengangguk. Setelah selesai makan dan mereka bubar. Saat mau keluar tiba-tiba Mile menarik baju Roy.


Roy berhenti dia menoleh ke arah Kakak nya itu.


"Ada apa lagi sih Kak?" tanya Roy.


"Apa yang kamu lakukan pada istri saya? Saya ingat kan sekali lagi, cukup Ibu kamu yang merebut papah saya, jangan istri saya, perusahaan dan keponakan saya! Karena saya tidak Akan pernah tinggal diam." ucap Mile.


Roy tertawa kecil.


"Untuk apa kakak takut kalau aku mengambil Tiara? Bukan kah Kakak tidak pernah mencintai wanita selain mencintai Ibu Kakak sendiri? Aku tidak yakin dia bisa bahagia dengan kakak jadi aku berusaha membuat nya bahagia." ucap Mile.


Tiba-tiba Mile menarik kerah baju Adik nya ke atas.


"Jaga mulut mu ketika berbicara. Kamu hanya berlindung pada papah, jangan mencoba untuk bermain-main dengan saya." ucap Mile mendorong Roy dan pergi.


Di rumah Tiara sudah selesai mandi dia baru sadar kalau sekarang hari Minggu setelah melihat kelender.


"Loh ini kan hari libur, kemana mereka pergi?" batin Tiara. Dia memeriksa ponsel nya bertanya pada Lena di Mana mereka.


Lena langsung membalas mereka lagi di rumah utama.

__ADS_1


"Kenapa mereka ada di sana?" batin Tiara penasaran


__ADS_2