
"Kamu kasih aku sarapan, aku kamu sudah sarapan? Aku tidak bisa mengurus kamu kalau sakit." ucap Tiara.
Mile mengambil satu potong roti dan memakan nya.
"Apa kamu sedang mencoba menjadi saya?" tanya Mile karena daro bahasa Tiara yang sedikit memaksa untuk makan namun sambil mengancam.
Tiara tersenyum.
"Kamu perhatian pada ku waktu perut ku sakit saja, kamu hanya perduli dengan anak yang di dalam kandungan aku." ucap Tiara.
"Kalau saya tidak perduli pada kamu, mungkin saya sudah tidak ada di sini bersama kamu. Karena di saat-saat seperti ini saya membutuhkan waktu untuk sendiri, bersenang-senang, karena jarang saya memiliki waktu yang bebas seperti sekarang ini." ucap Mile.
Tiara pun diam, dia sudah salah menilai suami nya sendiri.
"Ya sudah lebih baik kamu segera siap-siap, saya akan mengumpulkan semua barang-barang dan keluar dari sini." ucap Mile.
Tiara mengantuk. Dia membantu hanya sedikit dan sudah merasa lelah saja, Mile pun meminta nya untuk istirahat saja.
Dia sama sekali tidak keberatan dia sangat senang.
Tidak beberapa lama Mile sudah selesai. Mobil yang akan mengantarkan mereka sudah siap. "Aku tidak sabar banget sampai di sana, aku pasti sangat senang." ucap Tiara. Mile hanya diam.
Di tempat lain Lena, Vandi, Tita dan juga Riska tidak berangkat kerja karena hari libur mereka.
"Kak kita jalan-jalan saja yok, aku sangat bosan di rumah saja." ucap Lena pada Riska.
"Aku ingin istirahat saja, kamu pergi saja dengan Vandi." ucap Riksa. Lena pun keluar mencari Vandi.
"Loh kak Vandi udah ganteng aja, mau kemana? Aku ikut yah." tanya Lena.
Vandi menggeleng kan kepala nya.
"Kamu mau ikut kemana? Kamu di rumah saja!" ucap Vandi. "Aku Bosan di rumah saja, lagian gak ada Tante Tiara jadi tidak seru." ucap Lena.
"Aku mau pergi sama gebetan aku, mana mungkin aku bawa kamu." ucap Vandi.
"Aku duduk di belakang saja tidak apa-apa." ucap Lena.
"sekali tidak ya aku tidak mau, jangan maksa seperti itu Dong, kakak tetap tidak mau." ucap Vandi.
Lena memasang wajah sedih.
"Aku laporkan kakak sama Om Mile." ucap Lena.
"Huu anak manja. Bodo amat aku tidak Takut." ucap Vandi dan langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Tita datang.
"Kamu kenapa Lena?" tanya tita.
"Kak Vandi gak mau bawa aku jalan-jalan." ucap Lena.
"Ya udah ikut kakak belanja saja yok. Kebetulan kakak nih mau keluar." ucap Tita.
Lena akhirnya mau mereka pun pergi untuk belanja beberapa keperluan yang sangat di perlukan oleh mereka berdua.
Di tempat lain Alisa sedang duduk sendiri di depan ruangan ICU. Dia tidak bisa masuk karena Kak Rafi Masih koma.
Ibu dan Ayah nya sedang mencari darah yang cocok untuk Rafi. Alisa terlihat sangat khawatir. Tidak beberapa lama Bu Rosa datang.
"Bu bagaimana darah nya dapat?" tanya Alisa.
"Sudah dapat. dokter Akan segera memasuk kan ke tubuh Rafi." ucap Bu Rosa. Alisa pun merasa sangat lega mendengar itu.
Di malam hari nya Rafi sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap. "Bu apa aku bisa masuk?" tanya Alisa yang meminta ijin pada ibu nya Rafi.
"Silahkan. Kamu seharusnya tidak perlu minta ijin, langsung masuk saja. Ibu juga sangat berterimakasih sama kamu sudah mau menunggu Rafi di sini." ucap Bu Rosa.
Mereka pun masuk ke dalam. Rafi belum sadar kan diri.
"Bu nada Ayah sangat sakit sekali. Ayah pulang duluan tidak apa-apa kan?" tanya Pak Yuda.
"Lebih baik ibu dan bapak pulang untuk istirahat. Biar saya yang menjaga kak Rafi di sini." ucap Alisa.
"Kamu yakin Alisa?" tanya Bu Rosa. Alisa mengangguk.
"Alhamdulillah kalau kamu mau nak, ibua sangat berterima kasih. Kalau begitu ibu pamit, besok pagi ibu langsung ke sini agar kamu bisa berangkat kerja." ucap Bu Rosa.
Alisa mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun pulang meninggalkan Alisa di sana.
Alisa memandangi wajah Rafi yang banyak Luka lebam seperti habis di hajar.
"Sebenarnya apa Sih terjadi pada kakak, kenapa bisa seperti ini?" ucap Alisa.
Alisa memegang tangan Rafi.
"Aku sangat khawatir ketika mendengar kabar kakak. kenapa kakak tidak berhati-hati." ucap Alisa lagi.
Alisa mau tidur di sofa beranjak dari tempat duduk yang di pinggir kasur. Tiba-tiba tangan nya di Tahan oleh Rafi.
"Alisa." ucap Rafi.
__ADS_1
"Bapak sudah sadar?" tanya Alisa. Perlahan Rafi membuka mata nya. Dia tersenyum melihat Alisa.
"Kenapa kamu memanggil saya dengan sebutan bapak? Saya senang ketika kamu memanggil dengan sebutan kakak." ucap Rafi dengan sangat serak.
"Bapak tidak boleh banyak berbicara dulu. Bapak juga gak boleh banyak bergerak." ucap Alisa. Rafi menggenggam tangan Alisa begitu erat.
"Jangan tinggalkan saja di sini sendirian." ucap Rafi.
Alisa Menggeleng kan kepala nya.
"Aku akan di sini. Bapak tidak perlu khawatir." ucap Alisa.
Rafi tersenyum dia menoleh ke arah air minum.
"Saya ingin minum." ucap Rafi.
Alisa langsung mengambil dan membantu nya untuk minum.
Namun tiba-tiba Rafi memeluk Alisa.
"Saya berfikir Akan mati dan tidak bisa bertemu dengan kamu." ucap Rafi.
"Jangan berfikir berlebihan, bapak justru harus lebih berhati-hati lagi." ucap Alisa.
"Mereka tidak bisa menerima kekalahan mereka, itu sebabnya mereka menghajar saya dan merencanakan kecelakaan itu." ucap Rafi.
Alisa melepaskan pelukan Rafi dari nya.
"Aku sudah bilang bapak tidak boleh banyak bergerak. Luka bapak banyak di bagian perut." ucap Alisa.
Rafi kembali berbaring.
"Berjanji lah menemani saya di sini." ucap Rafi. Alisa mengangguk.
Rafi tersenyum dia tidak berhenti memandangi wajah Alisa.
"Walaupun kamu sangat mengabaikan saya dan selalu membenci saya, ternyata kamu adalah orang yang paling mengkhawatirkan saya." ucap Rafi.
."Lebih baik bapak tidur." ucap Alisa.
"Saya sangat senang kamu mau merawat saya di sini, saya akan sakit terus kalau kamu mau nya seperti ini." ucap Rafi.
"Jangan aneh-aneh deh pak, aku juga tidak ingin bapak sakit terus. Sebaiknya bapak berfikir cepat sembuh dan bisa pulang karena tempat ini adalah tempat yang sangat membosankan dan juga akan banyak merepotkan keluarga bapak." ucap Alisa.
"Saya tidak Akan Bosan kalau ada kamu di sini." ucap Rafi.
__ADS_1
Alisa Menghela nafas panjang.
"Aku mau istirahat, bapak istirahat juga." ucap Alisa. "Tapi saya baru saja bangun, saya tidak akan bisa tidur." ucap Rafi, namun Alisa tidak perduli dia berjalan ke arah sofa.