
Tiara baru sadar kalau dia berubah, dia sih sadar akan hal itu, tapi seperti nya itu adalah bawaan bayi nya.
"Baiklah-baiklah aku akan Menonton menemani kamu." ucap Tiara sambil turun dari pangkuan suami nya. Mile tersenyum.
Tiara menonton film dengan sang fokus sehingga kepala nya menyandar di pundak Suaminya karena flim itu. Lebih tepatnya Tiara mengikuti gerakan di film.
Mile tersenyum dia hanya bisa membiarkan nya. Dan pada akhirnya film selesai. Mile sadar kalau dari tadi Tiara tidak beranjak dari punggung nya.
"Tiara.." panggil Mile. "Tiara!" panggil nya lagi. Namun Tiara tidak menjawab. Mile baru sadar ternyata istri nya sudah tidur begitu nyeyak.
"Huff aku pikir dia menonton film sampai selesai dan ternyata dia tidur." ucap Mile. Dia melihat jam ternyata sudah jam sepuluh malam jadi wajar saja Tiara sudah tidur.
Mile menggendong istri nya ke kamar. Dia menatap wajah istri nya setelah berbaring di kasur. Sementara tangan nya yang satu mengelus perut Tiara.
"Saya sangat tidak sabar menunggu anak kita lahir." batin Mile, dia menatap wajah Tiara yang sangat cantik. Dia mencium bibir Tiara namun tiba-tiba Tiara langsung bangun dia melihat suaminya.
Dia mau mendorong Mile namun Mile menahan nya. Dia semakin memperdalam ciuman nya.
Tidak beberapa lama dia melepaskan ciumannya. "Maafkan saya membangun kan kamu." ucap Mile. Tiara Menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok." ucap Tiara. Mile langsung mencium Tiara lagi.
Mereka cukup lama berciuman namun ponsel Mile tiba-tiba berdering.
Tiara menahan Mile agar memeriksa ponsel nya terlebih dahulu.
Mile menghela nafas panjang. Dia menjawab ternyata Bili hanya Mengabari kalau dia sudah sampai.
"Ada apa?" tanya Tiara. "Tidak apa-apa, dia hanya mengabari kalau sudah sampai." ucap Mile.
"Oohhh." ucap Tiara. Mile mau melanjutkan lagi namun di tahan oleh Tiara. "Ini sudah jam berapa? Keponakan kamu semua nya sudah pulang?" tanya Tiara.
Mile baru ingat dia mengambil kaus nya dan langsung memasang. ia keluar memeriksa mereka.
"Regi, Megi Apa keponakan saya sudah pulang?" tanya Mile. "Sudah Tuan." jawab Mereka bersamaan.
__ADS_1
"Om tenang saja, kami tau aturan kok." ucap Vandi.
Mile mendekati Vandi yang duduk di ruang tamu.
"Jangan bilang kalau kamu selesai minum hari ini?" ucap Mile karena melihat mata Vandi merah. "Huff mana mungkin aku minum Om." ucap Vandi.
"Bagi kam mungkin tidak ada yang tau, Tapi kalau Kakek kalian tau Kalian pasti Akan terkena masalah." ucap Mile.
"Iyah Om, aku mengerti, berapa kali Om harus mengatakan itu pada ku." ucap Vandi. "Pergilah istirahat. Ini sudah larut malam." ucap Mile.
Vandi menganguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Mile kembali lagi ke kamar. Dia melihat istri nya yang tidur di atas kasur membuat nya tertegun.
"Apa yang kamu kenakan?" tanya Mile pada Tiara. Tiara hanya tersenyum Saja, dia memanggil Mile mendekati nya dan menepuk kasur kosong di samping nya.
Setelah Mile keluar memeriksa Keponakan nya Tiara langsung berfikir keras bagaimana bisa menyenangkan hati Suami nya, karena kebetulan dia lagi mood dan juga mereka sudah lama tidak melakukan nya akhirnya dia berinisiatif memakai baju seksi yang benar-benar sangat menggoda diri suami nya.
Mile Menggeleng kepalanya melihat Tiara.
"Kamu membuat badan saya merinding." ucap Mile. Tiara tersenyum. "Kalau kamu tidak suka ya udah tidak apa-apa." ucap Tiara mau menutup tubuh nya dengan selimut namun langsung di tahan oleh Mile.
Tiara terdiam. Mile naik ke atas Tiara.
"Tidak sia-sia saya mengajak kamu menonton film romantis itu." ucap Mile. Tiara tersenyum.
"Kamu berpura-pura tidur kan tadi?" ucap Mile. Tiara tersenyum malu. "Aku malu kalau menonton film dengan kamu." ucap Tiara.
Mile tersenyum melihat ekspresi istri nya. Mile memegang dagu istri nya agar menatap nya.
"Kamu sangat imut ketika malu seperti ini." ucap Mile. Tiara tersenyum.
"Kamu tau? Jika kamu seperti ini kamu meminta saya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak bisa saya tolak." ucap Mile langsung mencium bibir Tiara. Dia tidak akan pernah kenyang.
Di tempat lain Rafi baru saja pulang bekerja. Dia membuka pintu apartemen nya melihat Alisa yang ketiduran di sofa menunggu nya.
__ADS_1
"Alisa!" panggil Rafi. Alisa membuka mata nya perlahan.
"Kamu sudah pulang?" ucap Alisa dengan suara serak nya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ada di sini? Setidaknya aku bisa pulang dengan cepat." ucap Rafi. Alisa tersenyum.
"Aku hanya merindukan kamu." ucap Alisa. Rafi memeluk Alisa.
"Ya udah kalau begitu pindah ke kamar yah, aku akan bersih-bersih dulu ucap Rafi. Alisa menganguk.
"Oh iya kamu bawa makanan gak? Aku belum makan." ucap Alisa.
"Kenapa kamu tidak Makan?" tanya Rafi. "Aku tidak berselera sama sekali." ucap Alisa. "Aku akan memesan nya, aku juga belum makan." ucap Rafi.
Alisa tersenyum. Tidak beberapa lama makanan datang, Alisa menyiapkan makanan di meja makan tidak beberapa lama Rafi keluar dari kamar.
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang itu, aku sudah berbicara dengan Enjel kok." ucap Rafi. "Kalau orang tua kamu tau mereka pasti Akan marah, kamu akan kena masalah." ucap Alisa.
"Tidak perlu mengkhawatirkan itu, aku bisa mengatasi nya kok." ucap Rafi mengelus rambut Alisa.
Alisa tersenyum. "Tapi tetap saja aku sangat takut." ucap Alisa.
"Makan saja sayang." ucap Rafi. Alisa pun lanjut makan. Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. Alisa merapikan meja Makan sementara Rafi langsung ke kamar.
Alisa masuk ke dalam kamar melihat Rafi yang sedang duduk di atas kasur. Dia melihat ke arah Alisa sambil tersenyum.
Alisa naik ke kasur dan langsung bersandar di dada Rafi.
"Untuk besok kamu jangan datang ke sini dulu yah." ucap Rafi. Alisa bingung dia langsung menatap wajah Rafi.
"Maksud kamu bagaimana?" tanya Alisa. "Aku hanya ingin orang tua ku tidak curiga, aku takut mereka semakin membuat suasana tegang." ucap Rafi.
"Aku sangat merindukan kamu, bagaimana aku bisa betah tidak bertemu dengan kamu satu hari saja sudah sangat kangen." ucap Alisa. Rafi tersenyum dia mencium pipi Alisa..
"Tidak perlu khawatir kalau kamu merindukan aku, karena aku akan sering berkunjung ke rumah kamu." ucap Rafi.
__ADS_1
"Kenapa kamu tumben-tumbenan mau ke rumah aku? Biasanya juga kamu tidak mau." ucap Alisa.
"Untuk sementara ini kita harus menjaga jarak sayang, jangan sampai orang tua ku melihat kita bersama." ucap Rafi. Alisa menatap Rafi dengan tatapan aneh, entah apa yang dia pikirkan. Namun dia berusaha untuk tersenyum.