
"Loh bukannya Papah sebelum nya mengatakan kalau itu adalah rahasia? Tidak ada yang boleh mengetahui nya sebelum anak itu lahir?" ucap Mile.
"Firasat papah Kuat kalau anak kamu adalah laki-laki, itu sebabnya papah ingin tau. Tidak sekali dua kali Papah bermimpi tentang itu." ucap pak Daniel.
"Bagaimana kalau anak kak Mile adalah perempuan Pah?" tanya Roy. Mereka berdua langsung menatap Roy.
"Tidak mungkin. Papah sangat yakin kalau itu adalah anak laki-laki. Kalau anak perempuan untuk apa? Tidak ada gunanya." ucap pak Daniel.
Roy menatap Mile yang hanya diam saja. "Papah ingin membawa istri kamu Besok ke rumah sakit. Papah akan menunggu di sana." ucap Pak Daniel.
Mile hanya bisa menginyakan.
"Baiklah Pah." ucap Mile. "Ya sudah kalau begitu papah mau mandi dulu." ucap Pak Daniel pergi masuk ke kamar nya.
"Sudah tidak perlu di pikirkan kata-kata papah kamu. Dia menginginkan Cucu laki-laki karena ingin menjadi penerus nya saja kalau mempunyai anak perempuan itu juga sangat lah bagus." ucap Bu Vina sambil menepuk pundak Mile.
Mile melihat tangan Bu Vina di pundak nya.
"Maaf." ucap Bu Vina melepaskan tangan nya.
"Kalau perempuan Papah bisa sangat marah mah, Papah sangat tidak suka pada anak perempuan."ucap Roy.
"Karena papah belum tau betapa beruntungnya orang mempunyai anak perempuan." ucap Bu Vina. Mile Dan Roy diam.
"Jauh di lubuk hati Mamah sebenarnya mamah sangat ingin mempunyai anak perempuan. Tapi Mamah juga sangat beruntung memiliki anak laki-laki yang sangat tampan, sangat pemberani, pintar dan juga bisa melindungi Mamah." ucap Bu Vina.
Mile melihat Bu Vina menatap Roy, dia langsung menunduk kan pandangan nya. "Mamah di berikan dua anak laki-laki yang benar-benar sangat Mamah banggakan." ucap Bu Vina.
Mile mendengar itu langsung terdiam. Dia tidak pernah mendengar kalimat seperti itu sehingga membuat nya sangat tersentuh sekali.
"Ya udah kalau begitu Mamah menyiapkan makanan di dapur dulu yah." ucap Bu Vina. "Kau bantuin yah Mah." ucap Roy.
Sementara Mile sudah mau berdiri mau menawarkan diri namun tidak jadi karena keponakan nya sudah datang.
Mereka semua pun berkumpul di meja makan.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian semua?" tanya pak Daniel.
"Alhamdulillah baik Kakek. akhir-akhir ini aku sangat jarang melihat kakek. Kakek kemana saja?" tanya Vandi.
"Oohh kakek ada di rumah utama, kakek juga menjalankan bisnis." ucap Pak Daniel.
"Kemarin aku juga ke rumah utama Kek, tapi aku tidak melihat kakek ada di sana, tidak ada juga yang melihat kakek di sana." ucap Vandi.
"Kakek hanya malam saja di sana." ucap Pak Daniel.
"Oohh begitu yah kek." ucap Vandi. Pak Daniel mengangguk.
"Kalau begitu ayo makan. Kakek dan juga Om Mile mau membicarakan Soal pekerjaan kalian selanjutnya, membahas beberapa pekerjaan yang belum kalian ketahui." ucap Pak Daniel.
Rafi baru saja sampai di rumah nya dia sangat deg-degan mau masuk ke dalam. "Assalamualaikum." Ucap Rafi masuk karena melihat kedua orang tua nya di ruang depan.
"Walaikumsalam, ayo duduk dulu, Ayah sama ibu mau ngomong." ucap pak Yuda meminta Rafi duduk, Rafi semakin sangat gugup dan tegang sekali.
"Ada apa Ayah, ibu?" tanya Rafi.
"Aku kurang tau Ayah. Mungkin sekarang sudah baikan." ucap Rafi. "Bagaimana kamu tidak tau? dia calon kamu." ucap Pak Yuda.
"Papah dan keluarga nya sudah membicarakan tentang pertunangan Kalian. Akhirnya sudah sepakat kalau setelah pulang dari sana acara langsung di Langsung kan." ucap Pak Yuda.
Rafi terdiam sejenak. "Bagaimana cara aku memulai nya." batin Rafi.
"Ayah, ibu apa aku boleh mengutarakan apa yang sedang aku rasakan sekarang?" tanya Rafi. "Ada apa?" tanya Rafi.
"Ada apa? Jangan bilang kalau kamu tidak sabar kan mau menikah dengan Enjel?" ucap Bu Rosa.
Rafi Menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya langsung. "Bukan Bu." ucap Rafi.
"Kalau kamu tidak Sabar, ayah dengan ibu juga tidak masalah kalau langsung menikah." ucap timpal pak Yuda.
"Bukan gitu Bu." ucap Rafi lagi. "Lalu bagaimana?" tanya Bu Rosa.
__ADS_1
"Aku ingin mengundurkan hari pertunangan nya." ucap Rafi.
"Maksud kamu apa? Kita sudah banyak di perbincangkan oleh orang lain karena hal ini. Bahkan adik kamu sudah menikah dan sudah mau mempunyai anak namun kamu belum menikah jangan membuat orang tua kamu malu." ucap Pak Yuda marah.
Rafi belum menyampaikan isi hati nya saja sudah seperti ini, bagaimana kalau dia menyampaikan hubungan nya langsung.
"Setelah selesai makan Ibu dan ayah serta kamu ikut juga melihat keadaan Enjel." ucap Bu Rosa.
"Ibu dan Ayah meminta ku ke sini hanya untuk melihat keadaan Enjel?" ucap Rafi.
"Kenapa? apa kamu keberatan? Dia adalah calon kamu." ucap Bu Rosa.
"Baiklah Ibu, Ayah aku mau jujur kalau sebenarnya aku tidak mencintai Enjel. Tapi aku mencintai Alisa." ucap Rafi langsung.
"Apa maksud kamu?" ucap pak Yuda langsung menampar wajah Rafi. Rafi dan Bu Rosa sangat terkejut.
"Alisa mana? berani-beraninya kamu mencintai wanita lain sementara kamu sudah mempunyai calon." ucap Pak Yuda.
"Mamah tidak setuju kamu dengan wanita miskin dan hanya bisa bergantung kepada kamu, dia tidak jelas dari keluarga mana dan juga dia adalah karyawan di perusahaan menantu ibu sendiri, Mamah tidak setuju." ucap Bu Rosa menolak.
"Mah aku sangat mencintai Alisa, Mamah harus mengenal dia." ucap Rafi.
"Mamah dan papah sama sekali tidak setuju, kamu harus tetap fokus pada calon Kamu Enjel." ucap Bu Rosa.
"Maafin aku Ayah, Ibu aku tidak bisa bertunangan dengan Enjel, aku tidak mencintai dia." ucap Rafi.
"Kalau kamu tidak menuruti perintah Ibu Dan ayah, maka kamu siap semua perusahaan kamu ayah Ambi dan semua fasilitas kamu, walaupun itu atas nama kamu sendiri." ucap Pak Yuda.
"Aku mohon jangan lakukan itu Ayah." ucap Rafi.
"Ayah tidak perduli, Ayah dengan ibu tidak membutuhkan anak yang membuat malu seperti kamu." ucap Pak Yuda.
Rafi terdiam. "Dan kamu akan tau wanita yang bernama Alisa itu tidak akan pernah lolos dari pandangan ayah dengan ibu, jadi jangan salah kan ayah dengan ibu apapun yang terjadi pada nya." ucap Bu Rosa.
Cukup lama mereka berdebat sampai akhir nya Rafi memutuskan untuk pergi dari sana. Di Jalan dia berusaha untuk menenangkan diri nya. Dia kebetulan lewat dari depan rumah Enjel akhirnya dia memutuskan untuk singgah di sana.
__ADS_1