
"Regi! Megi!" panggil Mile. "Iyah Tuan." jawab bodyguard itu yang baru saja masuk.
"Di mana semua orang?" tanya Mile. "Non Tiara keluar tuan, kalau Bibik Ja ada di halaman belakang." ucap Bodyguard itu.
"Istri saya keluar? Kenapa kalian tidak mengikuti nya?" tanya Mile. "Non Tiara memaksa keluar sendiri Tuan." ucap Regi.
"Bodoh! Kenapa kalian membiarkan?" ucap Mile. "Non Tiara mengancam Kalau kamu tetap ikut, dia nekat akan melakukan hal yang berbahaya." ucap Regi.
Mile menelpon istri nya, namun tidak bisa di telpon. Dia menelpon Rafi namun telpon Rafi juga tidak bisa di telpon.
Akhirnya Mile memberanikan diri menelpon mertua nya. Mereka menjawab namun mengatakan kalau sedang sibuk, Mile pun tidak berani bertanya.
Dari cara mereka berbicara Mile sudah tau kalau istri nya tidak ada di sana.
Mile melihat Lokasi ponsel Istri nya dan ternyata Tiara mematikan nya. Mile Menghela nafas panjang.
"Bik..." panggil Mile. Tidak ada sautan.
"Bibik!!" panggil Mile lebih keras, Bibik ja langsung datang.
"Kemana istri Saya? Bukan kah seharusnya Bibik menjaga nya di sini?" ucap Mile.
"Non Tiara Ijin untuk bertemu dengan teman-teman nya Den, non Tiara kelihatannya sangat marah pada den Mile." ucap Bibik Ja.
"Apa dia menyebut kan tempat nya di mana?" tanya Mile.
"Tidak Den, non Tiara hanya berpesan agar tidak mencari nya." ucap Bibik Ja.
Mile menghela nafas panjang. Dia mengingat ancaman istri nya pagi tadi.
Karena mengejar meeting di pagi hari, pikiran nya yang pusing dalam suasana hati yang emosi dia tidak memikirkan istri nya.
Mile tidak mau hanya diam saja, dia meminta semua body guard nya mencari mobil yang bisa pakai oleh istri nya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain Bu Rosa dan suami nya baru saja sampai di rumah Enjel. "Assalamualaikum Enjel. Tante mendengar kamu sakit. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Bu Rosa.
Enjel yang berbaring di sofa ruang tamu langsung duduk ketika melihat calon mertua nya itu datang.
"Hanya demam biasa Tante, om." ucap Enjel. "Ya ampun nak, kamu pasti sangat sedih keluarga kamu meninggal, tunangan kamu di undur." ucap Bu Rosa.
Enjel tersenyum tipis. "Kemana Rafi? Apa dia tidak datang melihat calon istri nya sakit?" Bu Rosa.
Suami nya mau menelpon Rafi namun ternyata tidak di jawab.
"Kemana dia? Sungguh Pria yang tidak bertanggung jawab!" ucap Suami nya. "Mungkin sedang sibuk Om, tidak perlu di ganggu, dia sudah janji untuk datang." ucap Enjel.
"Kemarin Kalau tidak Salah dia bertemu dengan kamu, apa yang kalian bicarakan? Apa. Kalian berdua sudah memutuskan tanggal tunangan nya?" tanya Bu Rosa.
"Sebenarnya Tante dan Om harus tau tentang ini." ucap Enjel.
"Tentang apa?" Tanya Bu Rosa penasaran.
"Rafi Dan..."
"bagaimana keadaan kamu sayang?" ucap Rafi tiba-tiba duduk di samping Enjel. "Akhirnya kamu datang juga. Sekarang papah sama mamah lega kamu datang."
"Maaf Pah, aku ada pekerjaan sedikit. Sekarang papah sama Mamah kecapean, lebih baik Kalian pulang, aku akan merawat Enjel di sini." ucap Rafi.
"Baiklah kalau begitu. Kami pulang dulu yah." ucap Orang tua nya. Rafi tersenyum sambil mengangguk. Enjel yang seketika terdiam menahan sakit karena dekapan Rafi sangat kuat.
Mereka akhirnya pergi dan meninggalkan Rafi dan Enjel di saja.
Tiba-tiba Rafi melepaskan dekapannya.
"Jangan mencoba untuk memberi tahu kepada orang tua ku yang sebenarnya kalau kamu tidak ingin terjadi kepada orang tua kamu!" ancam Rafi.
"Apa-apaan maksud kamu?" tanya Enjel mendorong Rafi.
__ADS_1
Rafi menatap wajah Enjel. "Seharusnya dari kejadian semalam kamu harus sadar kalau aku tidak mencintai kamu." ucap Rafi lagi.
"Tapi aku mencintai kamu." ucap Enjel. Rafi tersenyum Sambil tertawa. "Kita tidak saling mencintai. Untuk apa gunanya kita bersama?" ucap Rafi.
"Aku akan memberi tahu semua nya kepada Tante dan Om. Dam Alisa akan di usir jauh dari kamu." ucap Enjel. "Kamu harus tau kalau itu semua hanya angan-angan kamu saja." ucap Rafi.
"Aku tetap tidak perduli, karena kalau aku tidak bisa memiliki kamu, orang lain juga tidak akan Bisa." ucap Enjel. Rafi duduk kembali di sofa sambil menatap Enjel.
"Sangat banyak Pria di luar sana yang mau sama wanita cantik, kaya, berkarir seperti kamu." ucap Rafi.
"Tapi sayangnya aku hanya mencintai kamu. Kalau aku tau semua nya akan seperti ini lebih baik aku tidak Membuka hati ku untuk mu." ucap Enjel.
"Namun semua nya sudah terlanjur, aku sekarang tidak lagi mencintai kamu, namun sangat membenci Pria yang mempermainkan wanita seperti kamu. Dan kamu tidak Akan pernah bahagia." ucap Enjel.
Rafi sangat kaget dengan kata-kata Enjel. "Kalau kamu berbicara dari awal aku tidak akan mempermasalahkan semua nya. Namun kamu menjelaskan semuanya begitu kasar, kamu menginjak harga diri ku di depan umum dan di depan Alisa." ucap Enjel.
"Orang tua ku sudah sangat menerima kamu, mereka sangat baik pada kamu, keluarga ku juga menganggap kamu seperti keluarga. Namun seperti ini cara kamu memperlakukan keluarga ku." ucap Enjel.
"Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu." ucap Rafi. Enjel tertawa kecil namun menahan rasa sedih di wajah dan mata nya.
"Aku adalah seorang wanita yang lemah. Wanita yang mempunyai hati. Orang tua ku juga mempunyai hati." ucap Enjel.
"Aku tidak akan pernah mempermasalahkan kamu dengan Alisa atau siapapun itu lagi. Walaupun aku mencintai kamu, tapi aku rasa semua yang aku mau tidak bisa di paksain." ucap Enjel.
Rafi terdiam dengan kata-kata Enjel. "Tidak ada gunanya kamu di sini lagi, jangan pernah kembali ke sini." ucap Enjel.
"Aku minta maaf. Tapi aku mohon jangan memberi tahu tentang aku dan Alisa pada orang tua ku. Aku akan berbicara dan menghadapi orang tua dan keluarga kamu baik-baik." ucap Rafi.
Enjel diam. "Aku akan berbicara baik-baik kepada orang tua kamu, tapi aku mohon jangan membuat Alisa dalam masalah. Aku sangat mencintai dia. Aku mohon. Aku hanya menunggu waktu yang tepat memberi tahu orang tua ku." ucap Rafi.
"Aku ingin istirahat, lebih baik kamu keluar." ucap Enjel sambil memegang lengan nya yang terasa sangat sakit genggaman Rafi tadi.
Rafi mengacak-acak rambut nya karena merasa Kesal dan sangat pusing sekali.
__ADS_1
"Ini tidak bisa di biar kan, aku harus membicarakan ini terlebih dahulu pada papah dan mamah." ucap Rafi. Dia sudah mau ke rumah orang tua nya namun dia mengingat lagi kalau orang tua nya tidak akan pernah memaafkan dia.