
Dia pun membersihkan semua nya, untuk pertama kali dia bersih-bersih sendiri cukup aneh bagi nya namun dia bisa melakukan itu demi kebaikan nya sendiri.
Dia merasa ruangan itu sangat bau dia membuka jendela mengeluarkan bau yang menyengat. Setelah semua nya sudah bersih dia siap-siap untuk pulang ke rumah orang tua nya.
Namun tidak lupa dia mengabari Adik nya.
"Loh kak Rafi kok tiba-tiba pulang sih?" ucap Tiara yang baru saja membaca pesan dari kakak nya. Ponsel nya tiba-tiba ada yang nelpon dia berfikir itu adalah kakak nya namun Ternyata tidak. Itu adalah Ibu nya.
"Halo Bu."
"Halo Tiara, kalau kamu mempunyai waktu untuk pulang ke rumah Ibu dan ayah ingin kamu pulang." ucap Bu Rosa.
"Ada apa Bu? Tumben-tumbenan banget." tanya Tiara. "Orang tua Enjel datang ke rumah. Sekalian juga membicarakan tanggal pertunangan Kakak kamu." ucap Bu Rosa.
"Kenapa sangat cepat Bu? Bukan nya ada waktu dua bulan lagi? lagian Enjel Masih di luar negeri." ucap Tiara.
"Semua keputusan dia setujui tidak ada hal yang sulit. Tidak seperti kamu yang selalu menyulitkan urusan orang tua, kalau kamu bisa kamu harus datang." ucap Bu Rosa.
Tiara terdiam sejenak mendengar kata-kata Ibu nya.
"Aku tidak bisa datang Bu, hari ini suami ku pulang tidak mungkin aku tidak menyambut nya." ucap Tiara.
"Bagus lah kalau kamu berfikir seperti itu sekarang, ternyata kamu sudah berubah." ucap Bu Rosa. Tiara diam, panggilan telepon langsung mati.
Tiara menghela nafas panjang. "Ibu kapan benar-benar perduli sih Sama aku?" ucap Tiara.
"Ada apa non? kenapa non kelihatan nya sangat stres." ucap Bibik Ja. Tiara Menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa bik." ucap Tiara. "Ini adalah sarapan untuk Non Tiara, ini sehat untuk kandungan non Tiara juga." ucap Bibik Ja.
Tiara tersenyum. "Terimakasih banyak yah bik." ucap Tiara. Bibik Ja menganguk.
Bibik Ja keluar dari kamar itu.
"Ini sebenarnya adalah kesalahan ku. Tapi ibu dan ayah tidak harus melakukan ini pada ku." ucap Tiara.
Rafi singgah untuk makan pagi. Namun tidak sengaja dia berpapasan dengan Alisa yang bersama teman nya.
Alisa menatap Rafi namun Rafi langsung melewati mereka begitu saja. Alisa kebetulan baru juga datang.
__ADS_1
Rafi makan sendirian di meja nya yang di sudut.
Alisa memerhatikan Rafi yang hanya diam fokus menghabiskan makanan nya.
"Kenapa aku harus bertemu dia di sini? Aku tidak ingin melihat nya terlebih dahulu sebelum diri ku benar-benar bisa move on." batin Rafi.
Setelah selesai makan dia meminta bil dan langsung meninggalkan restoran itu. Alisa melihat Rafi keluar tanpa menoleh nya sama sekali.
"Alisa kamu lihatin apa sih dari tadi? Kamu membiarkan sarapan kamu dingin." ucap teman nya. "Aku ke toilet sebentar yah." ucap Alisa meninggalkan meja makan.
Dia keluar dari restoran itu melihat mobil Rafi sudah pergi.
"Kemana dia?" batin Alisa melihat Rafi sudah Rapi bahkan dia mengendarai mobil nya bukan Menuju pulang.
Dia jam kemudian akhirnya Rafi sampai di rumah nya, dia melihat di depan rumah nya sudah ada dua mobil mewah yang asing baginya.
"Assalamualaikum.." Ucap Rafi masuk ke dalam.
"Walaikumsalam. Akhirnya kamu sampai juga. Ayo silahkan duduk." ucap Bu Rosa.
"Ada apa Yah ini ramai-ramai?" tanya Rafi.
"Perkenalkan ini adalah Mamah dan papah nya Enjel, ini paman dan juga Bibik." ucap Bu Rosa.
Rafi Pun menyalim tangan mereka.
"Senang bisa bertemu dengan Tante dan Om." ucap Rafi.
"Ternyata kamu sangat tampan yah, pantesan saja Keponakan kita jatuh cinta sekali sama kamu." ucap Bibik nya Enjel.
Rafi hanya bisa tersenyum saja menanggapi mereka. "Jadi bagaimana hubungan kamu dengan Enjel?" tanya Mamah nya Enjel.
"Seperti biasa Tante, sekarang kami lebih sibuk dengan karier masing-masing," ucap Rafi.
Mereka Tersenyum.
"Kedatangan kami ke sini mungkin sangat mengejutkan kamu, karena kami yang meminta orang tua kamu tidak memberitahu kamu."
"Ada apa yah Om?"
__ADS_1
"Kami mau membicarakan soal pertunangan kamu dengan Enjel. Kalian bersama sudah hampir setahun penuh. Jadi tidak ada salah nya membicarakan pertunangan sekarang." ucap Papah Enjel.
"Kenapa sangat cepat Om?" tanya Rafi.
"Tidak ada yang cepat, kamu dengan Enjel sudah satu tahun saling mengenal, alangkah baiknya kalau kalian tunangan agar tidak buruk di pandang oleh orang lain." ucap papah nya Enjel.
"Jangan banyak protes kepada orang tua Rafi, kami melakukan yang terbaik untuk anak-anak kami." ucap Pak Daniel.
Rafi diam. "Satu Minggu lagi Enjel kembali ke Jakarta, nanti kalau Enjel pulang kita bicarakan waktu yang tepat lagi."
Rafi hanya bisa diam tidak bisa berkomentar. Cukup lam mereka berbincang-bincang di sana.
Keluarga Enjel ternyata tidak bisa lama-lama di sana, mereka akan datang satu Minggu lagi.
Setelah mereka pergi suasana jadi sangat tegang karena hanya tinggal Rafi dengan Pak Daniel.
"Kamu jangan membuat ayah malu di depan keluarga Enjel Rafi!" ucap Pak Daniel.
"Justru aku yang harus berbicara seperti ini kepada Ayah. Ayah tidak mengatakan apapun pada ku, bertanya apapun pada ku mengambil keputusan sendiri yang belum tentu aku setujui." ucap Rafi.
"Kamu jangan banyak protes! Ayah tidak suka. Kamu jangan sama seperti adik kamu yang selalu menyusahkan orang tua." ucap Pak Daniel.
"Aku sudah dewasa ayah. Aku tidak harus di jodohkan dengan siapapun, aku sama sekali tidak mencintai Enjel." ucap Rafi.
"Jangan Membantah kata-kata Ayah, ayah sudah kasih waktu yang lama untuk kamu, itu adalah salah kamu sendiri kenapa tidak bisa mencintai Enjel." ucap pak Daniel.
"Aku gak mau sama Enjel Ayah. Cukup hanya Tiara yang Ayah jodoh kan. Aku tidak mau." ucap Rafi.
"Plakk!!!!" Tiba-tiba suara tamparan keras di wajah Rafi.
"Anak tidak tau Sopan santun!" ucap Pak Daniel sangat marah.
Rafi menatap wajah ayah nya.
"Aku kurang apa lagi sama ayah? Aku melakukan apapun untuk ayah, menghabiskan semua waktu ku untuk bekerja demi permintaan ayah dan ibu. Namun ini kah balasan Ayah pada ku?" tanya Rafi.
"Ada apa ini?" tanya Bu Rosa yang baru saja masuk.
"Lihat anak ini! Dia sama sekali tidak bisa di atur." ucap Pak Daniel.
__ADS_1
"Ada apa Rafi?" tanya Bu Rosa.
"Ibu dan ayah benar-benar sangat egois, aku dengan Tiara menderita hanya karena keinginan ayah dan ibu." ucap Rafi meninggalkan orang tuanya.